IIP batch#5 Korming 1

Yeay..akhirnya niat memposting pengalaman menjadi koordinator week1 datang juga.  Baiklah, kali ini saya mau share pengalaman jadi korming di kuliah matrikulas IIP batch#5 Malang Raya. 

Awalnya kenapa bisa ada nama saya di situ adalah karena modal nekat. Kenapa? Karena saya sendiri tidak punya pengalaman jadi moderator diskusi offline apalagi online. Dan saya jarang sekali mau jadi pusat perhatian di depan umum. Tapi karena ikut Matrikulasi IIP ini adalah keinginan pribadi untuk belajar. Maka tidak ada salahnya belajar lebih dengan menjadi koordinator mingguan. 

Dab benar saja. Banyak pelajaran berharga yang didapatkan daripada hanya menjadi peserta biasa. Mulai dari hal-hal teknis seperti mengoperasikan google classroom, memimpin diskusi sebagai moderator, membuat resume diskusi dan merekap Nice Homework dari teman-teman satu kelas. Memang ada usaha ekstra yang dilakukan. Tidur lebih malam. Rebutan laptop sama suami yang lagi pengen nonton anime sama anak-anak 😁😁

Tapi hasilnya saya mendapatkan badge dari IIP karena telah menjadi korming week 1

Senang? Iya..tentu pake banget. Karena merasa apa yang sudah dilakukan ternyata mendapat apresiasi. 

Banyak kejadian selama jadi korming 1. Mulai dari pas lagi serius diskusi, eh tiba-tiba Jojo minta pipis..haduh..mana baru separuh jalan. Ga bisa ditinggal..bisa-bisa bingung semua pesertanya kalau tiba-tiba kormingnya hilang. Lalu, karena canggung dan belum pernah jadi pemimpin diskusi, saya tidak mempersilahkan narasumber untu masuk. Untung ada ketua kelas yang baik mb Nadya yang sigap memperbaiki kesalahan saya. Selain itu, karena belum pernah diskusi online, saya tidak tahu tekniknya kalau semua kata-kata sebaiknya sudah disusun dan ditulis di notes yang nantinya tinggal di copy paste. Karena waktu 1 jam untuk diskusi itu ternyata cepat sekali. Jadi kalau kata-kata tidak disusun dengan baik sebelumnya akan buang-buang waktu diskusi hanya untuk tulisan “riana is writing…”

Memang jadi yang pertama itu sulit karena belum tahu rules nya bagaimana, apa yang harus dilakukan. Alurnya nanti bagaimana, narasumbernya seperti apa. Tapi semua itu ada pengalaman yang tak ternilai. 

Semoga next kalau jadi moderator lagi sudah lebih smooth..ga gugup..ga grogian lagi.


Advertisements

NHW#2 : MENJADI IBU PROFESIONAL, KEBANGGAAN KELUARGA

📚 *NICE HOME WORK #2*📚

Bunda, setelah memahami tahap awal
menjadi Ibu Profesional, Kebanggaan
Keluarga. Pekan ini kita akan belajar membuat

📝 ✅ *”CHECKLIST INDIKATOR* ✅📝
PROFESIONALISME PEREMPUAN”*
a, Sebagai individu
b. Sebagai istri
c. Sebagai ibu
Buatlah indikator yg kita sendiri bisa
menjalankannya. Buat anda yang sudah
berkeluarga, tanyakan kepada suami, indikator
istri semacam apa sebenarnya yang bisa
membuat dirinya bahagia, tanyakan kepada
anak-anak, indikator ibu semacam apa
sebenarnya yang bisa membuat mereka
bahagia.Jadikanlah jawaban-jawaban mereka
sebagai referensi pembuatan checklist kita.

Buat anda yang masih sendiri, maka buatlah
indikator diri dan pakailah permainan
“andaikata aku menjadi istri” apa yang harus
aku lakukan, andaikata kelak aku menjad
Ibu , apa yang harus aků Takukan
Kita belajar membuat “Indikator” untuk diri
sendiri.
Kunci dari membuat Indikator kita singkat
menjadi SMART yaitu
SPECIFIK (unik/detil)
MEASURABLE (terukur, contoh: dalam 1
bulan, 4 kali sharing hasil belajar)
ACHIEVABLE (bisa diraih, tidak terlalu susah
dan tidak terlalu mudah)
REALISTIC (Berhubungan dengan kondisi
kehidupan sehari-hari)
TIMEBOND (Berikan batas waktu)

 

Salam lbu Profesional,
/Tim Matrikulasi Institut lbu Profesional/

Materi IIP Sesi#2: MENJADI IBU PROFESIONAL, KEBANGGAAN KELUARGA

Matrikulasi Ibu Profesional Sesi #2

🙋MENJADI IBU PROFESIONAL, KEBANGGAAN KELUARGA🙋

Apa kabar bunda dan calon bunda peserta matrikulasi IIP batch #5? Pekan ini kita akan belajar bersama
a. Apa Itu Ibu Profesional?
b. Apa itu Komunitas Ibu Profesional?
c. Bagaimana tahapan-tahapan untuk menjadi Ibu Profesional?
d. Apa saja indikator keberhasilan seorang Ibu Profesional?

🍀APA ITU IBU PROFESIONAL?

Kita mulai dulu dengan mengenal kata IBU ya. Menurut Kamus Besar bahasa Indonesia Ibu itu memiliki makna;
1. perempuan yang telah melahirkan seseorang;
2. sebutan untuk perempuan yang sudah bersuami;
3. panggilan yang takzim kepada perempuan baik yang sudah bersuami maupun yang belum;
4. bagian yang pokok (besar, asal, dan sebagainya): — jari;
5. yang utama di antara beberapa hal lain; yang terpenting: — negeri; — kota;

Sedangkan kata PROFESIONAL, memiliki makna;
1. bersangkutan dengan profesi;
2. memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya: ia seorang juru masak –;
Berdasarkan dua makna tersebut di atas, maka IBU PROFESIONAL adalah seorang perempuan yang :

a. Bangga akan profesinya sebagai pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya.
b.Senantiasa memantaskan diri dengan berbagai ilmu, agar bisa bersungguh –sungguh mengelola keluarga dan mendidik anaknya dengan kualitas yang sangat baik.

🍀APA ITU KOMUNITAS IBU PROFESIONAL?

Adalah forum belajar bagi para perempuan yang senantiasa ingin meningkatkan kualitas dirinya sebagai seorang ibu, istri dan sebagai individu.

🍀MISI KOMUNITAS IBU PROFESIONAL

1.Meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak-anaknya, sehingga bisa menjadi
guru utama dan pertama bagi anaknya.
2. Meningkatkan kualitas ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya
sehingga menjadi keluarga yang unggul.
3. .Meningkatkan rasa percaya diri ibu dengan cara senantiasa berproses menemukan misi spesifik hidupnya di muka bumi ini. Sehingga ibu bisa produktif dengan bahagia, tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya
4. Meningkatkan peran ibu menjadi “change agent” (agen pembawa perubahan), sehingga keberadaannya akan bermanfaat bagi banyak orang.

 

🍀VISI KOMUNITAS IBU PROFESIONAL

Menjadi komunitas pendidikan perempuan Indonesia yang unggul dan profesional sehingga bisa berkontribusi kepada negara ini dengan cara membangun peradaban bangsa dari dalam internal keluarga.

 

🍀BAGAIMANA TAHAPAN-TAHAPAN MENJADI IBU PROFESIONAL?

Ada 4 tahapan yang harus dilalui oleh seorang Ibu Profesional yaitu :
a. Bunda Sayang
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak-anaknya, sehingga bisa menjadi guru utama dan pertama bagi anak-anaknya

b. Bunda Cekatan
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya sehingga menjadi keluarga yang unggul.

c. Bunda Produktif
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan rasa percaya diri ibu, dengan cara senantiasa berproses menemukan misi spesifik hidupnya di muka bumi ini. Sehingga ibu bisa produktif dengan bahagia, tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya

d. Bunda Shaleha
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan peran ibu sebagai agen pembawa perubahan di masyarakat, sehingga keberadaannya bermanfaat bagi banyak orang.

🍀APA INDIKATOR KEBERHASILAN IBU PROFESIONAL?

“Menjadi KEBANGGAAN KELUARGA”

Kalimat di atas adalah satu indikator utama keberhasilan seorang Ibu Profesional. Karena anak-anak dan suami kitalah yang paling berhak pertama kali mendapatkan ibu dan istri yang terbaik di mata mereka.

Maka yang perlu ditanyakan adalah sbb :

BUNDA SAYANG
a. Apakah anak-anak semakin senang dan bangga dididik oleh ibunya?
b. Apakah suami semakin senang dan bangga melihat cara istrinya mendidik anak-anak, sehingga keinginannya terlibat dalam pendidikan anak semakin tinggi?
c. Berapa ilmu tentang pendidikan anak yang kita pelajari dalam satu tahun ini?
d. Berapa ilmu yang sudah kita praktekkan bersama anak-anak?

BUNDA CEKATAN
a. Apakah manajemen pengelolaan rumah tangga kita menjadi semakin baik?
b.Apakah kita sudah bisa meningkatkan peran kita di rumah? Misal dulu sebagai “kasir” keluarga sekarang menjadi “manajer keuangan keluarga”.
c.Berapa ilmu tentang manajemen rumah tangga yang sudah kita pelajari dalam satu tahun ini?
d.Berapa ilmu yang sudah kita praktekkan dalam mengelola rumah tangga

BUNDA PRODUKTIF
a. Apakah kita semakin menemukan minat dan bakat kita?
b. Bagaimana cara kita memperbanyak jam terbang di ranah minat dan bakat kita tersebut?
c. Apakah kita merasa menikmati (enjoy), mudah (easy), menjadi yang terbaik (excellent) di ranah minat dan bakat kita ini?
d. Bagaimana cara kita bisa produktif dan atau mandiri secara finansial tanpa harus meninggalkan anak dan keluarga?

BUNDA SHALEHA
a. Nilai-nilai apa saja yang kita perjuangkan dalam hidup ini?
b. Apa yang ingin kita wariskan di muka bumi ini, yang tidak akan pernah mati ketika kita tiada?
c. Program berbagi apa yang akan kita jalankan secara terus menerus?
d. Apakah kita merasa bahagia dengan program tersebut?

Selamat berproses menjadi Ibu Profesional, dan nikmatilah tahapan-tahapan belajar yang bunda dan calon bunda rasakan selama mengikuti program pendidikan di Ibu Profesional ini dengan segenap kesungguhan

Seperti pesan pak Dodik kepada Ibu Septi untuk meyakinkan beliau tentang pentingnya kesungguhan menjadi seorang Ibu sbb:
“Bersungguh-sungguhlah kamu di dalam, maka kamu akan keluar dengan kesungguhan itu, tidak ada hukum terbalik” -Dodik Mariyanto

Salam Ibu Profesional

 

/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/

📚SUMBER BACAAN:
Kamus Besar Bahas Indonesia, Edisi keempat, Balai Pustaka, Jakarta, 2008
Hei, Ini Aku Ibu Profesional, Leutikaprio, cetakan 1, 2012
Bunda Sayang, Seri Ibu Profesional, Gaza Media, cetakan 1, 2013
Bunda Cekatan, Seri Ibu Profesional, Gaza Media, cetakan 1, 2014
Bunda Produktif, Catatan Ikhtiar Menjemput Rizki, Seri Ibu Profesional, J&J Publishing, cetakan 1, 2015

INSTITUT IBU PROFESIONAL : MY JOURNEY on 1st NHW

Screenshot_20180126-154000

Minggu ini saya memulai perjalanan untuk belajar di Insititut Ibu Profesional. Kenapa harus di Insititut Ibu Profesional? Bagi saya, tidak seperti komunitas lainnya, visi misi ibu professional ini untuk memberdayakan semua wanita/ibu untuk menjadi professional di bidangnya, itu sangat menarik bagi saya. Tidak dipungkiri, perdebatan antara mana yang lebih baik, ibu bekerja atau stay at home mom sudah menjadi perdebatan panjang tanpa ada titik temu. Saya pernah berada dalam dua posisi ini, dulu saya bekerja di luar rumah dan sekarang  saya bekerja di rumah. Bagi saya semua sama saja. Semua perlu dilakukan dengan sungguh-sungguh. Di IIP ditekankan semua ibu adalah pekerja. Yang satu bekerja di ranah domestic yang satunya bekerja di ranah public. Tidak ada perbedaan. Dalam bidang apapun yang dikerjakan, semua harus diselesaikan secara professional. Ini semangat yang ditanamkan di IIP. Semua dilakukan tanpa membeda-bedakan SARAT (Suku, Agama, Ras, dan Anggota Tubuh). Inilah yang membuat saya tertarik mengikuti perkuliahan di IIP. Semua wanita diberi ruang untuk belajar bersama, bertumbuh bersama, melayani bersama.

Motivasi terbesar saya untuk ikut IIP ini sebenarnya adalah bermula dari perasaan ketidakmampuan saya untuk menjadi seorang ibu yang baik bagi kedua anak saya. Saya ingin belajar lebih. Saya ingin menjadi seorang ibu yang layak untuk membesarkan titipan Tuhan yang begitu berharga. Tanpa ilmu yang cukup, ketakutan terbesar saya adalah anak-anak saya tumbuh seperti saya. Saya ingin mereka bertumbuh jauh lebih besar dan jauh lebih indah dari saya. Maka “tangan” ini harus lebih terampil merawat mereka.

Masuk dalam perkuliahan IIP ini adalah step yang besar untuk saya. Selama ini saya hanya membaca saja buku-buku tentang parenting.  Tapi tanpa ada action untuk mengamalkan ilmu itu, apa yang sudah saya dapatkan menjadi sia-sia. I love reading book. Tapi selama ini motivasi saya untuk membaca hanya untuk MENDAPATKAN ilmu. Betul, buku adalah salah satu sumber ilmu yang selama ini keberadaannya saya  harapkan untuk dapat mengubah mindset saya tentang segala sesuatunya. Tapi yang selama ini terjadi, begitu “gelas setengah terisi” saya merasa sudah cukup. Buku itu kemudian diletakkan di tempatnya tanpa ada tindak lanjut setelahnya. Yang sekarang saya pahami adalah, apabila ilmu itu terus dipakai untuk menjadi berkat buat orang lain, ilmu itu akan terus mengalir keluar, gelas itu akan selalu kosong…

Tidak seperti laut mati, airnya tidak mengalir kemana-mana, ia hanya memilikinya untuk dirinya sendiri. Hasilnya?? Tidak ada satupun organisme hidup di dalamnya. Apa jadinya bila pohon yang seharusnya berbuah tetapi tidak berbuah? Dalam Alkitab dikatakan, ranting yang tidak berbuah akan ditebang dan dibakar oleh pemiliknya karena tidak menghasilkan apa-apa. Hanya pohon yang hidup yang bisa berbuah, pohon yang tidak berbuah adalah pohon yang mati atau sedang dalam perjalanan menuju kematian. Orang yang hidup untuk dirinya sendiri tidak akan menghasilkan manfaat. Hanya pribadi yang bersedia berbuah dan memberikan manfaat untuk orang lain yang bisa menyediakan kehidupan. Saya ingin menjadi pribadi yang berbuah manis. Pribadi yang buahnya bisa dirasakan banyak orang, supaya DIA sang pemberi hidup melihat bahwa saya telah melakukan apa yang selalu IA inginkan untuk anak-anakNya, berbuah dengan lebat.

Maka satu saja yang ingin saya pelajari di dunia ini. Belajar mengasihi. Sounds simple? Yah, itu saja dulu. It may take my whole life to learn it. Bila mengasihi terdengar  mudah, mungkin butuh lebih dari 1 ton kasih saat badan sudah terasa capek dan mata sudah berat menahan ngantuk tapi anak malah rewel, disaat saya hanya punya 1 ons kasih untuk diberikan dan bahkan sering kali tertutup oleh tumpukan kemarahan dan ketidaksabaran. Anak-anak yang seharusnya menjadi sasaran kasih seringkali yang mereka dapat dari saya hanyalah hardikan dan omelan apabila sudah berurusan dengan tingkah polah mereka yang terkadang sulit diarahkan *baca : dikendalikan.

Saya perlu sumber KASIH yang tak terbatas, sehingga persediaan itu tidak akan ada habis-habisnya diberikan. Sebenarnya saya menyadari Sumber Kasih yang tak terbatas itu bersedia memberikannya secara cuma-cuma, tapi ada sesuatu yang membuat kasih itu tidak mengalir keluar. Ibarat kran air yang sudah terhubung pada sumber air, saya tetap tidak bisa mengalirkan air itu keluar karena banyaknya kotoran yang menyumbatnya. Bisa sakit hati, kekecewaan, iri hati, kemarahan, you name it.

Hal pertama yang perlu dilakukan adalah membersihkan diri dulu dari semua kotoran yang menyumbat. Satu-satunya cara adalah bersedia untuk dibersihkan oleh Dia. Semua kotoran itu ditarik keluar. Sakit?? Ya, pasti. Seperti dokter yang merawat pasien dengan penyakit kanker, pilihannya adalah menahan sakit saat proses penyembuhan atau penyakit itu akan menggerogotimu hingga mati. Menyediakan diri untuk “dibedah” oleh Dokter segala Dokter, there’s no other way.

Setelah disembuhkan, maka pilihannya adalah stays clean. Menjaga supaya diri ini tetap bersih, maka perlu dibasuh setiap hari. Setiap hari sediakan waktu pribadi dengan Dia. Setelah memiliki anak, saya akui, kegiatan ini tidak lagi menjadi prioritas. Karena begitu bangun pagi, sudah banyak sekali yang dipikirkan dan semuanya mendesak. Menyiapkan anak untuk berangkat sekolah, menyiapkan kebutuhan suami sebelum berangkat bekerja, dan lain sebagainya. Sehingga terkadang, saya sebagai seorang pribadi merasa “drained”. Setelah waktu habis untuk orang lain, saya hampir-hampir tidak punya waktu untuk me-recharged diri sendiri. Tanpa saya sadari justru inilah kebutuhan utama saya. Saya perlu mengisi ulang diri sendiri dahulu sebelum bisa memberi untuk orang lain. You can’t lose something you never have.

Berharap perjalan di Institut Ibu Profesional ini akan terus sejalan dengan proses belajar di Institut Kehidupan yang sebenarnya. Sehingga saat nanti datang hariNya dimana semua yang telah dilakukan akan dipertanggungjawabkan, saya dapat menatap wajahNya dan mengatakan “Tuhan, aku sudah menghasilkan buah”

John 15:5

I am the vine, you are the branches. If you remain in Me and I in you, you will bear much FRUIT, apart from me you can do nothing.

 

Surat untuk Ibu

Ibu..

Aku sadar aku bukan anak yang sempurna. Sering sikap dan tutur kataku menyakitkan hatimu. Yang tidak aku sadari betapa kuat dan tegarnya engkau selama ini. Mendidik aku dan adik-adikku dengan penuh kesabaran. Walaupun sudah lelah kau bekerja tapi wajahmu selalu tersenyum. 

Sekarang, saat aku sendiri menjadi seorang ibu kusadari betapa sukarnya menjadi seorang ibu. Saat badan ini letih, kepala ini tak mampu lagi menahan emosi yang meluap.

Aku sadar aku tidak akan bisa jadi ibu yang sempurna. Tapi aku hanya ingin jadi ibu sepertimu. You are my world. You are my mother. Terima kasih untuk semua pengorbanmu selama ini yang tak bisa diukur dengan apapun, yang tak akan bisa kubalas selama hidupku. I owe you my life. Hanya doa yang selalu kunaikkan supaya ibu selalu sehat dan bahagia. Jangan lagi ada air mata yang tertumpah. Selamat hari ibu. Love you mom…💟💟

My Blog

Aku sebelumnya ga pernah share di blog ini cerita tentang aku before married. Blog ini aku buat awalnya hanya untuk review vendor-vendor yang aku pake waktu wedding. Niatnya sebagai ucapan terima kasih karena sudah banyak membantu aku selama pelaksaan hari H (HETIC day) hehe…yang tidak bisa dinilai secara materiil. Aku merried ga pake vendor yang terkenal, jadi mungkin pada ga punya web. Jadi disinilah niat awalku supaya kalo ada yang baca bisa terbantu.
Itu baru prolog. Uda panjang aja. Semakin kesini nih blog jadi ajang curhat. Daripada nulis di diary ky jaman eSeMPe dulu bisa hilang, bukunya keselip ato rusak, ato kebaca orang. Kalo di blog tinggal di password aja dah beres. Gak bakal hilang catatannya. 
Tapi yang sering dilihat di blog ini bukan tentang vendor wedding seperti maksud awalku membuat blog ini. Tapi justru tentang game online. Iyah, dulu waktu belum ada anak, mainnya travian dual sama mas bojo. Malah itu bikin orang sering nyasar ke sini. Cari info tentang travian. Ternyata msih ada yang mainin.
Kayaknya harus lebih belajar lagi gimana nulis yang baik kalo mau serius ngeblog. Pengen sih nyari duit dari blog. Aku bukan tipe orang yang suka share di fb ato tweet yang karakternya dibatasi. Nulis di sosmed yang karakternya dibatasi bikin interpretasi orang jadi ngelantur jauh dari maksud si penulis. Masih untung dibaca. Netizen jaman sekarang uda baca judulnya doang uda bisa komen koq. Ga heran daya baca Indonesia ni masuk peringkat bawah dunia. Padahal membaca tuh butuh nalar. Kalau menalar bacaan aja gak bisa apalagi mau menghasilkan tulisan yang bermanfaat. Makanya yang muncul kebanyakan komen provokatif dan ujaran kebencian. Lah, dibaca full version aja enggak apalagi nyari versi bandingannya.. Selama ini fb hanya aku pakai untuk share artikel inspiratif ato resep yang menarik. Curhat di fb?? no way. Sekedar posting tingkah laku anak biar dianggap kekinian itupun seadanya. Cerita lengkap semua ada di blog. Tapi memang lebih mudah ya share/nulis di fb lebih mudah dishare orang jadi gampang viral. Hari gini..aku uda ga pernah lagi denger hal yang viral dari tulisan kecuali tulisan mbak2 SMA itu yang disinyalir adalah plagiat dari tulisan miss miss bule tapi gak viral wkwkw. Cuma orang Indo yang bisa bikin viral.. Anak-anak kita lebih senang main medsos daripada membaca. Apalagi diajak berpikir. 

Sejak SMP aku sudah jadi petugas perpus. Dari dulu aku memang cinta buku. Walaupun sekarang semangat membaca agak berkurang karena bukunya habis rusak dicoret2 alhasil semua bukuku aku simpan di tempat yang aman. Tak terjangkau siapapun. Even me. Hahaha.. SMA rasanya aku gak aktif di perpus. Asik dengan dunia basket dan naik gunung. Maklum anak baru tahu dunia luar. Hilanglah semangat baca. Mana dulu ya yang aku lihat perpus tu kesannya selalu surem, penuh buku berdebu (karena gak pernah dijamah) membosankan dan petugasnya gak ramah. Aku pengen perpus tu kesannya cheerfull, penerangan yang baik juga penting jadi kalo mbaca di situ matanya gak sakit, boleh bawa makanan minuman minimal camilan lah. Kalo kotor ya suruh ganti dong. Biasanya kalo bukunya serius dan tebel gitu ga mungkin orang baca sambil makan, karna pasti lagi mikir. Tapi kalo cuma novel ringan ato komik ga jarang aku baca sambil ngemil, enak koq. Asal sedia tisu ya. Jadi jangan dibuat surem lah perpus ini. 
Dulu juga sempet jadi petugas perpus di gereja. Selama aku kuliah sampe aku mau merried aku setia di perpus. Tapi yang banyak dipinjem bukan buku tapi VCD musik alasannya buat latihan praise and worship. Yaa ga salah juga. Perpus juga sering dibuat tempat nongkrong usai ibadah. Tapi yang dibaca, majalah doang yang dipajang di meja. Buku di lemari kadang ada yang ngeliatin. Tapi yang pinjem ga sampe separuh jemaat pemuda. Karena saat itu perpusnya lebih fokus ke pemuda remaja. Yaah jaman jaman itu juga lagi pada maen BB aku yang gak punya BB yah megangnya buku aja. Uda sering masukin resensi buku baru di buletin gereja tiap beli buku. Maksud hati supaya ada yang tertarik trus pinjem gitu. Tapi ya itu ga bisa semua buku diresensi. Bisa bisa ga kuliah aku. La bukunya ratusan. Petugasnya cuma 2 orang. Aku sama Shinta Toding. Temen sekampus. Awalnya ada beberapa orang yang ikut belanja buku ke Metanoia, lama-lama cuma aku berdua ma Shinta. Metanoia bukunya lebih banyak ke devotional bukan doktrin. Aku ga berani beli buku doktrin di tokonya GRII. Takutnya ga sesuai. Karena bukan rahasia di kalangan Kristen sendiri yang namanya doktrin kadang masih sering diperdebatkan. Jadi menurutku buku-bukunya kurang “keras”. Yah gitulah menurutku pelayanan di gereja. Pelayanan yang cenderung “aman” karena biasanya orang2nya sudah satu doktrin. Atau doktrin warisan dari sekolah minggu disitu juga. Beda waktu pelayanan di persekutuan doa di kampus. Apalagi waktu itu namanya mahasiswa dengan segala idealismenya saling berbenturan. Ada yang bawa doktrin dari gereja di kota asal, ada yang “baru tahu” doktrin pas kuliah dan merasa diri paling bener. Wah rame nano nano deh rasanya. Aku?? Diem aja hehe. Ga hobi dan ga bisa debat. Pasti kalah deh. Aku percaya yang aku percaya. Its enough.

Panjang juga ya posting ga jelas ini…namanya juga curcol.. Yang pasti aku harus segera belajar menulis. Tapi kalo ga mbaca gimana ada bahan buat nulis yah?? 

Imperfection

Masih galau about this parenting stuff. Its so hard for me. Hari ini sambil nonton Rainbow Ruby di tv sambil nyuapin anak-anak, kami melihat adegan dimana Ruby melakukan kesalahan tapi ayahnya tidak marah, suaranya tetap lembut. Lalu tiba-tiba si kakak nyeletuk, “mah, jangan marah-marah, kayak itu lo” sambil menunjuk ke arah tv. Langsung mak jlebb.. Anakku sudah bisa protes. Dia ga mau mamanya suka ngomel. Ya iyalah siapa juga yang mau diomelin tiap hari. Anakku pengen mamanya lebih sabar. Tanpa sadar aku meneteskan air mata. Sambil aku peluk dia dan bilang “maafin mamah ya”

Menjadi super mommy it’s imposible but to be a better one it is possible. Tuhan sedang membentuk aku melalui anak-anakku. Aku berusaha jadi lebih baik tapi useless. Rasanya sama seperti dulu… Seperti berputar dalam labirin. Seperti terjebak dalam pasir hisap. Semakin aku meronta untuk membebaskan diri semakin aku terjebak. Semakin aku belajar parenting sana sini semakin aku sadar betapa bodohnya aku, semakin aku merasa bersalah ketika gagal dalam ujian yang sesungguhnya. Semakin tenggelam karena hopeless kalau aku bisa berubah. 

Dulu…aku tahu yang aku butuhkan untuk keluar dari semua masalahku hanya Dia. Tapi setiap aku datang dan kemudian jatuh lagi dan lagi dalam kesalahan yang sama, aku pun berhenti. Berulang kali mengecewakanNya I think it’s enough. Sudah cukup berulang kali aku menusukkan paku di telapak tanganNya. Sudah cukup semua yg Dia korbankan. I’m done. Kalo kamu punya barang yang uda rusak parah, pilih mana, diperbaiki ato beli baru? Kalo aku mending beli baru sekalian, biaya reparasi bisa jadi sama mahalnya dengan beli baru bahkan bisa lebih mahal. My tought. 
Tapi gak dengan Yesus.. He repaired me. Dengan harga yang super mahal, nyawaNya. Gave me a new life. Persis seperti cerita anak bungsu yang terhilang. Sudah kurang ajar sama ayahnya, kehabisan uang, cuma bisa makan di kandang babi, ehhh pulang-pulang dikasi jubah dan cincin. 

Semakin ke sini aku semakin sadar banyak sekali kelemahanku. Banyak orang termasuk aku berusaha bertemu Dia. Lewat perbuatan baik, amal, menggunakan atribut tertentu. Tapi semua usaha itu sia-sia. Apakah mungkin perbuatan baik sebutir debu akan mencapai matahari? Seperti itu jauhnya Allah dan aku. Tapi kemudian Yesus datang Ia menjadi jalan untuk bertemu Bapa. Karena Yesus dan Bapa satu. Aku yang ga lebih dari sebutir debu boleh berbicara sama Pencipta langit dan bumi, yang pada jaman hukum Taurat harus masuk ruang maha kudus dan darah korban persembahan.
Cuma Yesus satu-satunya jalan untuk aku bisa jadi sabar. Buah roh salah satunya sabar. Saat ini aku cuma pengen satu hal. Berbuah. Tapi aku ga mungkin berbuah kalau gak disiram. Tapi kalo udah disiram firman terus ga berbuah juga gimana dong?? Ya dipotong trus dibakar. Ranting pohon tempatnya buah nongol itu aku. Sekarang aku mikir gimana caranya bisa berbuah. Tapi apa iya ranting bisa mikir sendiri dia mau berbuah apa kagak. Itu uda otomatis kali. Kalau dapet nutrisi dari sang pohon, nutrisi itu disalurkan lewat ranting kemudian jadi buah yang manis. Ga ada usaha dari si ranting yang ceking. Syaratnya cuma satu. Nancep di pohon. 

Aku mungkin belum nancep banget kali y. Masih setekan. Tapi mau berapa lama…aku ga dewasa2. Ga berbuah2. God pelase help me. Im sick of me.

32

As a parent tentu aku pengen anak-anakku tumbuh bahagia. Tapi tidak jarang aku marah dan bersikap kasar. Setiap kali marah aku selalu menyesal dan meminta maaf. Bukan karena mereka menangis, katena terkadang they’re just trying to push your limit, tapi karena aku sering kehilangan kontrol emosi saat marah. 

Aku sebenarnya ga pengen menjadi pemarah. Akuga pengen anak-anakku punya kekecewaan dan kepahitan dalam hati mereka karena perlakuan yang diterimanya. Aku ga mau mereka tumbuh seperti aku.

Hari ini aku sudah 32tahun. Sudah bertambah tua ya. Tapi aku merasa bahwa kedewasaanku tidak bertambah seiring umur yang bertambah. Maturity perlu diupayakan. Sebenarnya aku juga heran kenapa aku mudah sekali kesal hanya karena hal kecil. Mungkin tampak kecil, tapi kalau hal-hal kecil itu sudah terakumulasi bisa jadi masalah besar. Dan to be honest aku juga ga melihat masalahnya terselesaikan karena esok hari hal yang sama masih terulang.
Parenting is a big thing. Is a matter of one soul. You can bring him up of down. Aku pernah baca status salah seorang teman di fb. He says even when you can be a parent doesn’t mean you should be one. Karena kenyataannya pekerjaan menjadi orang tua itu sulit. Sangat sulit. Kita tidak hanya sedang mendidik seseorang tapi mengubah diri sendiri. Ga nyaman. Saat kita pengen anak kita rajin yang pertama harus jadi rajin ya orang tuanya. Saat ingin anak menjadi sabar, kesabaran menjadi hal yang pertama dituntut untuk dipraktekkan oleh sang orang tua. 

Saat ini tantangan terbesarku adalah menjadi sabar. Menahan emosi supaya jangan sampai batin anak-anakku terluka. Luka batin tersembunyi tidak seperti luka fisik yang lebih mudah disembuhkan. Luka batin take years to heal it. 
Aku udah berusaha belajar bagaimana menjadi orang tua yang lebih baik. Baca buku parenting, ikut grup parenting di fb/wa. Tapi semua hasilnya nihil. Aku sadar aku salah. Buku dan seminar menyadarkan aku bahwa caraku salah. Tapi untuk mengubah diri, itu perkara lain. Mengubah kebiasaan yang tertanam bertahun-tahun. Mengubah karakter yang kadung berakar, takes time.
Membaca ayat di atas aku sadar satu hal. Dia yang membentuk aku. Di dalam Dia ada hikmat dan pengertian. Itulah yang harus aku cari. 

Stay Calm

Sejak pertengahan bulan September ini kami berdua mengambil langkah yang cukup besar yaitu membeli rumah. Kebetulan ada perumahan baru dekat rumah kontrakan disini. Tapi memulai membangun rumah tepat di awal musim hujan adalah tantangan tersendiri. Rumah kontrak yang dekat dengan lokasi pembangunan memudahkan aku untuk ngecek proses pembangunannya. 
Tapi karena ikut perumahan dan harus “manut” sama developer apapun yang kami sampaikan baik ke developer ataupun kontraktornya hanya dianggap angin lalu. Malah dianggap konsumen cerewet yang tidak tahu apa-apa. Okelah memang aku bukan tukang bangunan, tapi aku juga ga bodoh. Pengerjaan yang asal-asal tentu tidak bisa diterima. Tapi apa daya. Siapa sih aku. Hanya satu dari ratusan klien yang harusnya gak perlu cerewet karena “mereka” yang lebih tahu.
Antara menyesal tapi uda kadung uang Dp dah nyenplung. Mendingan dulu beli tanah kavling aja baru bangun sendiri. Tapi lokasi disini memang terbilang cukup bagus untuk kami karena dekat dengan tempat kerja Drex. Ya sekarang mau gak mau terima aja hasil kerja sang kontraktor yang sekarang wajahnya super bete kalau ketemu aku. Bahkan beliau berani nantang kalau rumah aku mau dipending pembangunannya kalau aku kebanyakan komplain. Sekarang gini loh. Aku nyadar banget kualitas rumah yang akan kami tempati ini. Tapi mbok ya pengerjaannya juga gak asal. Diingatkan malah kami dicap tukang komplain. Salah kami juga sih milih developer setengah asal kayak gini. Nggak di cek dulu gimana cara kerjanya. Setelah nyemplung baru dengar kabar miring sana sini. Mereka dulu saat meemulai proyek ini belum mengantongi ijin dari pemda. Belum minta ijin sama warga sekitar kalau akan ada kendaraan berat yang akan masuk lokasi proyek. Karena memang jalan masuk ke perumahan baru ini melewati perumahan lama yang sudah lebih dahulu berdiri. Walaupun developernya sama tapi wilayah ini sudah bukan wilayah dia lagi karena rumah-rumah di situ udah punya orang. Dan mereka pasti terganggu lah kalau ada kendaraan besar bolak balik melewati depan rumah mereka. Belum lagu kalau ada material yang berjatuhan. Bikin kotor depan rumah orang. Trus lagi soal air. Saat perumahan yang lama berdiri PDAM belum masuk. Warga lama urunan untuk beli pompa dan membangun tandon air.  Eh, tanpa ijin si developer ini memasang pipa saluran air dan mengambil air dari tandon warga untuk pembangunan perumahan baru. Menurutku seharusnya untuk perumahan baru ini mereka buat tandon sendiri lah. Okelah awal masih nebeng tapi mbok yao ijin dulu karena yang membangun tandon dan beli pompa itu bukan sang mak mak developer melainkan urunan warga setempat. Apalagi mereka membangun di musim kemarau kemarin. Air untuk warga jadi sering mati. Persoalan air di saat musim kemarau memang sudah jadi langganan setiap tahun. Sudah sejak perumahan ini berdiri sudah begitu. Makanya orang-orang lama di sini punya tandon bawah semua. Bukan tandon atas. Ya gimana airnya mau naik ke atas, sedangkan air yang mengalir di keran paling depan aja uda ogah-ogahan keluar. Mengalir ke kamar mandi belakang aja udah ga mampu apalagi naik ke tandon. Sudah sebulan terakhir ini air yang dipompa keruh akhirnya untuk air bersih yang diperuntukkan untuk masak dan minum didatangkan pakai tangki air oleh PDAM yang katanya diambil dari Pandaan. Air yang dari keran untuk keperluan MCK. Belum lagi air bisa mati sewaktu-waktu karena tidak ada lagi air yang bisa dipompa. Udah gitu tandonnya kecil ya mana cukup kalau nantinya akan ditambahi 63 KK baru. Gak mungkin banget pakai tandon dan pompa yang sekarang. Pasti kurang.
Well, I suppose this is our way. This is the house we can afford. Good or bad lets accep it with gratitude. Just pray that everything will be okay. Pembangunan runah bisa selesai denga cepat and no more drama. Pengen rasanya membalas perkataan kasar kontraktor itu tapi itu hanya akan membuatku turun di level yang sama dengan orang itu. Of course not. Mine was higher. Well educated person should have learned to control their emotion and speak wisely.
Somehow, aku diingatkan bahwa ada Tuhan yang maha adil. What you sow you’ll reap. Tidak perlu kuatir apalagi berkecil hati atas perlakuan orang lain sama kita. Ini bukan sekedar kata-kata motivasi kosong karena kelegaan yang aku rasakan itu nyata. Tuhan itu benteng perlindungan. Percaya Dia lah yang pegang kendali. Bukan sang developer bukan si kontraktor dan terutama bukan pula aku. It is a big warning for me. Saat semua rasanya out of control. Kita mudah lupa kalau Dia lah yang sebenarnya in charge dalam hidup kita. Then why still worry too much? Our life is in a GOOD HAND and the most relieving part is He loves me. Jesus bless my home.

Happy Birthday D’Rex

pp41.jpg

Thank you for being my true best friend, the one I believe in and the one who always believe in me. I’m not a perfect wife but keep fighting to be a better one each day. I don’t know what future holds but as long as we have each other I know it’ll be awesome. Happy birthday D’Rex, I love you.

 

Previous Older Entries

Daisypath Anniversary tickers
Lilypie Second Birthday tickers
%d bloggers like this: