Membuat Boneka Flanel

Akhirnya boneka flanel ini selesai. Ini project pertamaku. Yang menurutku cukup rumit dan detail kecil-kecil yang bikun pusing bagian nggunting dan ngelem. Selain itu juga ada mainan boneka jari untuk anak-anak. Mereka sepertinya senang sekali. Catherine peluk dari belakang pas aku lagi cuci piring. Aku kaget dan segera menghentikan kegiatanku dan berbalik badan untuk menatapnya. Dengan wajah tersrnyum lebar ia bilang,

“Aku sayang mama, terima kasih ya ma bonekanya aku suka sekali”

Tahu rasanya di dada? Mak nyeess…. semua rasa capek itu hilang. Aku berlutut dan mengangkatnya dalam gendonganku. Kuusap-usap rambutnya sambil berkata, “Mama sayang sama Catherine, sayang sekali.” Tanpa terasa air mata menitik di pelupuk. Sejak aku resign dari kantor aku selalu merasa bahwa tidak ada yang aku bisa banggakan lagi, but now i’m a proud mom. I’m still fighting to be a better mom, learn to control my emotion, but today i get paid in full. After all, this is the reason why i quit my job anyway. To make sure my children feel loved. My pressence is the way i say i love you.

Advertisements

Live my Life For You

Hari Minggu pagi seperti biasa aku bangun dan segera bersiap-siap untuk ke gereja bersama anak-anak. Catherine sudah bangun, ia memang selalu bangun lebih pagi di Jojo. Ia  pun meminta ijinku untuk menonton film kartun sembari aku bersiap-siap. Saat aku menyalakan televisi ada film Superbook, film animasi yang ceritanya based on Bible. Aku putuskan untuk menonton bersama Catherine sebentar karena sepertinya tayangan film ini akan selesai tidak lama lagi. Ketika film animasi ini selesai, ada soundtrack penutup yang lagunya pernah diajarkan di sekolah Catherine untuk mengisi suatu acara Natal tahun lalu. Walaupun lagu ini sudah sering aku dengar, tapi hari itu terasa berbeda. Aku seolah diingatkan oleh lagu yang walaupun liriknya sederhana dan diulang-ulang, tapi ketika mendengarnya pagi itu membuatku menitikkan air mata.

Pada bagian reffrainnya “ubahkanku jadi baru, tolong ku hidup bagiMu” hanya kata-kata ini yang diulang-ulang. Tapi sungguh hari itu aku seperti tertohok. Aku yang beberapa waktu terakhir ini mulai menjauh dari Tuhan. Aku yang dengan pedenya mengaku aku sudah diselamatkan tapi hidupku jauh dari Tuhan, saat teduh hanya kalau ingat, dengan harapan Ia mau mengerti kesibukanku. Padahal baik hidup ataupun mati semuanya milik Tuhan, hidup ini punya Dia, jadi tujuan hidup ini sebenarnya hanya untuk Dia. Bukan untuk suami, untuk anak, orang tua, apalagi diri sendiri. Bahkan setiap helaan nafas ini kalau bukan karena karuniaNya mungkin tak akan ada lagi.

Dia mati di salib bukan supaya aku bisa have fun di dunia. Tapi memang dunia bikin nyaman, tapi itu baru sebagian kebenaran, hal yang dunia sembunyikan adalah bagian saat manusia mulai terpisah dengan Allah. Kita sibuk ngerjain hal-hal di dunia sampai lupa memberi makan tubuh rohani kita, lama kelamaan, seperti tubuh jasmani, ia juga bisa menjadi lemah dan sakit. Saat ini tubuh rohaniku sedang lemah. Ketuklah maka pintu akan dibukakan bagimu. God, I am here right now at Your door, please open it for me..

The Invisible War

Ngomongin soal war, di medsos saat ini bertebaran banyak sekali war, mulai dari yang receh sampai yang gurem. Mulai dari hal remeh macam artis A vs artis B atau topik yang lebih berat macam politik. Semua punya kubu sendiri, membela mati-matian pihak kawan dan mencaci pihak lawan. Dunia jagat maya kini begitu riuh, semua saling melemparkan amunisi tanpa ampun. Saling berusaha membuat kubu yang berseberangan bertekuk lutut. Pengap rasanya. Seperti berada di dalam ruangan yang penuh sesak dimana orang-orang yang ada di dalamnya saling berteriak, berlomba suara siapa yang paling keras. Tapi yang terdengar hanya seperti suara peluru, bising. Tidak ada yang mau mendengarkan. Tampak ada satu dua yang berusaha merelai tapi apa daya, suara mereka tak digubris, suara mereka tak mampu menyaingi kerasnya suara permusuhan yang digaungkan. Tapi anehnya mereka yang bersuara paling keras memakai topeng. Ya, berlindung di balik avatar buatan, akun media sosial palsu, yang dibayar untuk melakukan provokasi dan menyebarkan hoax tapi anehnya bisnis mereka laku keras tidak kalah dengan bisnis iklan berbayar di web-web download gratisan. Ah, seperti inikah wajah dunia maya masa depan? Dunia yang tanpa aturan. Semua orang bebas menyemburkan kata-kata sesuka hati tanpa konsekuensi. Tidakkah “apa yang keluar dari mulut berasal dari hati?” Ataukah maknanya mulai bergeser, “karena tulisan tidak keluar dari mulut maka bukanlah dosa?” Hati ini sangat merindukan masa ketika silahturahmi tidak digantikan dengan rangkaian huruf di layar. Masa ketika adab dan empati masih digunakan ketika bercakap-cakap muka dengan muka. Masa ketika rasa sungkan dan tepo seliro masih diagung-agungkan sebagai kepribadian bangsa. Ataukah saya yang terlambat menyadari bahwa itupun tidak lagi menjadi menu utama di sekolah, yang mulai digantikan oleh budaya impor yang lebih kekinian. Semoga The Invinsible War ini cepat berakhir. Korban mulai berjatuhan. Matinya empati dan terkuburnya toleransi. Jangan sampai ada korban yang lain, karena ketika KASIH mulai hilang, maka hilanglah sudah mereka yang disebut “manusia”.

Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.

1 Yohanes 4:20 TB

Sibling Rivalry

Sumber gambar : http://www.understandingchildhood.net/posts/sibling-rivalry-growing-up-with-a-new-brother-or-sister/

Salah seorang teman saya akan melahirkan anak keduanya bulan depan. Bukan tentang persiapan melahirkan yang ia khawatirkan, tapi kedekatan dengan anak pertama yang jadi concern-nya. Anak pertamanya masih berumur 3 tahun, belum bisa mengerti seandainya perhatian ibunya akan sering dirahkan pada adik barunya. Apakah sang kakak akan rela perhatiannya terbagi. Well, dari pengalaman saya yang memiliki adik pertama di usia 5 tahun,  saya pun masih sering merasa tidak rela perhatian orang tua terbagi, merasa diabaikan dan pada akhirnya mulai membenci adik, dan berujung pada seringnya terjadi pertengkaran. Menurut saya, di selisih usia berapapun yang namanya cemburu karena kehadiran adik baru menurut saya wajar sekali. Kitalah sebagai orang tua yang kadang terlalu main perasaan. Merasa waktu untuk anak pertama kurang cukup, merasa anak pertama akan terzholimi dengan adanya anak kedua. 
Ada salah satu grup parenting yang saya ikuti yang mrnyarankan supaya jangan ada dua balita dalam satu rumah. Jadi jarak aman anak pertama dan kedua sekitar 5 tahun, dimana anak pertama sudah puas dengan perhatian orang tuanya. Memang harapannya orang tua bisa mengatur jarak kelahiran agar jangan sampai ada dua balita di rumah, tapi yang namanya sudah diberi rejeki apa iya ditolak.. Kata beliau sih, ini hanya pembenaran dari ibu-ibu yamg sudah kadung kebobolan seperti saya contohnya. Hehe.. Saya mah tidak ambil pusing ketika ada yang bilang saya kebobolan, kebobolan gimana, digawangi aja enggak. Hehe.. Saya memang tidak menggunakan alat kontrasepsi apapun selama 1 tahun pertama, karena masih menyusui pikir saya, hormonnya masih merupakan KB alami. Dan ini benar adanya hingga setahun kemudian. Saya hamil anak kedua tepat di bulan Februari, bulan dimana anak pertama saya merayakan ulang tahunnya yang pertama.
Tapi apa iya, jarak umur akan menjamin anak pertama sudah puas dengan perhatian orang tuanya. Memiliki dua anak dengan jarak berdekatan memang merepotkan bagi orang tua. Apalagi saya, yang awalnya bekerja, lalu tiba-tiba berhenti, rasanya drastis sekali perubahannya. Ditakutkan akan mrngakibatkan orang tua menjadi tidak maksimal dalam mendidik dan memberi perhatiana pada masing-masing anak. Bisa jadi ada benarnya. Tapi Tuhan sungguh tahu apa yang terbaik bagi kita. Ketika sekarang saya mendengar tawa mereka yang sedang bermain bersama, saya merasa sangat bersyukur mereka lahir dengan jarak yang tidak terpaut jauh. Mereka sudah biasa bermain bersama, selalu ada saja skenario mereka setiap hari. Yang satu jadi guru yang satunya jadi murid, yang satu jadi mama yamg satu jadi anak, dan setiap hari selalu ada saja permainan yang mereka ciptakan bersama. Bagi saya sebagai orang tua, melihat mereka bermain bersama-sama itu sudah cukup. Saya tidak perlu bingung mencarikan teman untuk mereka belajar bersosialisasi, sebab dengan saudaranya saja sudah cukup banyak yang dapat dipelajari. Ini yang tidak bisa didapatkan dengan saudara dengan jarak umur yang jauh. Dunianya sudah berbeda. Ini saya alami sendiri, jadi ketika adik saya ingin bermain bersama saya tidak mengijinkan karena bagi saya, kehadiran adik saya hanya ingin mengganggu. Ketika saya sudah main masak-masakan, saat itu adik saya baru bisa berjalan, dan bisa dibayangkan apabila adik saya mendekati saya dan mainan saya, bubrah semua. 

Semuanya ada plus minusnya. Bersyukur untuk apa yang sudah Dia berikan. Walaupun kata orang berat, iya memang, bagi saya pribadi berat juga, mulai dari tandem nursing, tekanan untuk menyelesaikan milestone tunbuh kembang anak juga semakin besar karena waktunya yang bersamaan, susah untuk fokus hanya pada satu anak, seperti menyapih kakak di saat adik sedang latihan toilet training. Betul-betul menguras emosi. Sempat terpikir kalau apa yamg saya alami tidak ada bedanya dengan punya anak kembar, seperti tetangga sebelah rumah saya yang punya anak kembar. Tapi masih lebih mudah mengurus anak kembar lo, karena ritmenya sama, waktunya menyapih ya bareng, waktunya toilet training bareng, waktunya sekolah juga bareng. 
Tapi apapun itu saya lebih memilih apa yang saya miliki saat ini. Walau kadang keletihan bisa mengubah saya menjadi seperti mak lampir dalam tanda kutip. Tapi keceriaan mereka, priceless. So mommy, kalau jarak ananda dekat, be brave, walau kata orang itu berat, but trust me, you are stronger than your babies, you have to.

Kenangan Terindah

Seminggu ini diriku melanjutkan merapikan baju dan lemari. Kalau menurut konmari kan merapikan baju di urutan pertama, iyes?? Sedangkan barang-barang berkesan itu di urutan terakhir. Mungkin karena berat yah…kalo jadi di urutan pertama konmari-nya gak bakalan kelar-kelar. Nah, tapi kalau barang berkesan itu tadi adalah baju? Angkat tangan deh… 

Ceritanya kemarin itu pas beres-beres baju ketemulah sama celana jeans belel dari jaman SMA. Model cut bray, panjangnya uda seujung kakiku, jadi crintanya akunya pendek tapi perutnya kegeden, jadi kalo beli celana perutnya pas, panjangnya yang kagak pas, hehe.. jadi bisa dibayangkan kalau celana itu dipakai jalan dengan sandal jepit. Mau ga mau bawahnya celana jadi kotor, rusak semua jahitannya, robek-robek pula. Tapi anehnya kok nyaman-nyaman aja makeknya (duluu…sekarang uda ga muat hiksss…) Biar gak pada penasaran ini penampakannya :

Terus terang mau membuang si celana belel ini susah banget…tetiba ada setetes air di pelupuk mata, ketika teringat semua kenangan di masa itu. Yang menyenangkan maupun yang kurang menyenangkan. Semua seolah-olah di flash back kembali. Cukup lama si celana jeans belel ini kupandangi sambil terbayang ketika hiking sama teman-teman mulai dari Panderman, Lawu, Penanggungan, sampe ke Sempu, waktu maen basket tiap sore, pokonya jaman itu tiada hari tanpa basketan, terus keinget juga gimana dulu susahnya jadi anak kos apalagi pas akhir bulan hehe… Sampai disini aku jadi ga heran kenapa orang suka reunian. “Terlalu manis untuk dilupakan…” hehe..jadi inget lirik lagu ini. Iya, kenangan manis, tapi terlalu manis lama-lama jadi pahit loh. 
Tapi benar deh katanya Mrs. Kondo, proses ini juga proses menata hati. Harus berani memutuskan ikatan masa lalu dan melangkah maju. Dengan berat hati, iya, berat banget, aku melepaskan celana itu masuk tumpukan benda yang akan dibuang.

Bukan niatku membuang kenangan. Toh, namanya ingatan gak akan bisa hilang kecuali amnesia. Tapi membuang beban dari kenangan yang sudah tersimpan bertahun-tahun lamanya. Membuang harapan-harapan yang uda ga ada relevansinya lagi dengan masa sekarang. Merelakan yang sudah terjadi dan tidak lagi menyalahkan masa lalu. It’s time to move forward ‘rite?
Aku gak melupakan pribadi-pribadi yang pernah ada di kehidupanku, mereka yang, walaupun tidak disadari, sudah membentuk aku seperti aku yang sekarang dan aku bersyukur atas kehadiran mereka, i do…

Finally, celana itu sekarang sudah pasti akan berpindah tangan after I thanked for its service after these years. Sebelumnya aku tertawa sih baca statement Mrs. Kondo, disuruh give thanks sama benda?? ga salah nih…secara aku bukan panganut paham animisme loh. Tapi toh akhirnya aku lakukan juga. Bukan dengan maksud menganggap benda itu punya roh lo ya.. Aku melakukan itu hanya supaya aku lebih legowo, mengikhlaskan ia pergi beserta semua kenangan dan harapan dan beban yang menyertainya dan berterima kasih untuk semua proses yang aku sudah lewati sehingga aku bisa berdiri di titik ini saat ini. Proses kayak gini life changing banget..worth to try.

Nah, setelah lemarinya tertata, yang belum lemari gantung sama punyanya anak-anak. Lagi on process, tapi disambi nulis blog. Hehe..

Semoga proses berikutnya akan lebih mudah…secara kitchen is my clutter trap. Padahal ga hobi-hobi banget masak juga. 

Sertifikat (Part 1) – Mengurus Sendiri Sertifikat Rumah di BPN

Jadi ceritanya saya telah membeli rumah di sebuah perumahan yang tidak begitu jauh dari tempat kerja suami pada bulan Desember 2017 lalu. Akan tetapi karena berselisih kepentingan dengan si developer dan notaris pilihannya, saya memutuskan untuk mengurus sendiri saja surat-surat rumah tanpa bantuan notaris. Saya mengurus surat ini dari awal penandatanganan akta jual beli di hadapan notaris. Tapi tidak seperti yang saya baca di dunia maya, proses akta jual beli ini belum melalui serangkaian proses seperti pembayaran BPHTB/pajak pebeli maupun PPh/pajak penjual. Yah, ternyata praktik seperti ini banyak dilakukan oleh developer-developer perumahan. Mungkin supaya unitnya cepat terjual dan uangnya bisa cepat diputar lagi. Karena mengurus pajak-pajak itu memang memakan waktu yang cukup lama.


Lalu mengapa saya sampai harus bersitegang dengan developer dan mengambil alih pengerjaan sertifikat saya? Saya memang melakukan tanda tangan AJB pada akhir tahun 2017, dan di beberapa instansi seperti Dispenda tidak mau menerima pengajuan berkas di akhir tahun. Memang agak riskan melakukan proses jual beli di akhir tahun, karena mau tidak mau semua proses akan tertunda sampai PBB tahun terbaru dikeluarkan Dispenda dan dibayarkan, dan pada kasus saya bulan Februari akhir baru diterbitkan


Inilah yang menjadikan salah paham antara saya dengan developer dan notaris. Saya merasa berhak menanyakan progress sertifikat saya, alhirnya saya tanyakan ke notaris di bulan Januari, karena saya merasa satu bulan ini berlalu tanpa ada progress apapun. Sedangkan dari pihak mereka hanya berkata, “masih proses” tanpa ada penjelasan lebih lanjut. Tetapi nyatanya ketika saya cek ke kantor notaris, ternyata tidak ada progress apapun, bahkan bukan notaris yang mengerjakan sertfikat saya, tetapi justru developernya yang mengerjakan. Jadi, saya merasa seolah-olah dipermainkan. Beberapa minggu sebelumnya, ketika saya tanyakan ke developer, mereka bilang sedang dikerjakan notaris, ketika saya tanyakan notaris mereka bilang menunggu sertifikat asli dari developer. Setelah saya datangi ke kantor notaris ternyata mereka belum mengerjakan apa-apa, belum ada progress apapun, karena ternyata yang membawa AJB dan sertifikat saya bukan notaris tapi developer sendiri, dan ini yang saya sesalkan karena developernya seolah-olah menutupi kalau memang dia yang membawa dan yang akan mengerjakan AJB dan sertifikat saya. Jadi, menurut saya, disini developer berperan sebagai notaris juga. Sedangkan notaris benerannya hanya sebagai pejabat yang mengesahkan AJB saja, hanya butuh nama dan tanda tangannya saja. Saya tidak masalah siapa yang mengerjakan, tapi sebagai customer saya berhak tahu sertifikat saya (walaupun belum dibalik nama) dipegang siapa, dan progressnya seperti apa. Tapi dari developer maupun notaris tidak ada yang mau jujur mengakui hal ini, sehingga inilah yang membuat saya kecewa dan akhirnya saya ambil sertifikat saya di developer dan saya kerjakan sendiri. Lebih lega dan tenang di hati walaupun harus capek bolak balik ke kantor BPN, ke dispenda, ke kantor Pajak, ke kantor notaris karena ada yang kurang. But it’s all worth it in the end.

Padahal dulu saat belum kejadian, developer bilang kalau harga jual sudah termasuk pengurusan sampai SHM, karena saya ambil sertifikat saya dan saya kerjakan sendiri, saya semua pajak-pajak termasuk Pph yang seharusnya menjadi kewajiban penjual menjadi tanggung jawab saya. Saya berpikir dia pasti punya “orang dalam” dan sudah deal harga dan bea serta pajak yang harus dibayarkan, dan ketika saya mengerjakan sendiri, maka akan muncul verlap dan dia takut kalau besaran verlap lebih dari harga yang sudah disepakati dengan “orang dalam” tadi.

Proses yamg saya jalani kurang lebih 5-6 bulan karena saya orang awam, tidak tahu regulasi dan kebetulan tahun 2018 ini mulai diterapkan peraturan baru yang membuat proses pengurusan sertifikat ini menjadi lebih rumit, ditambah lagi terpotong libur lebaran yang cukup lama.

Sebenarnya ada keuntungan mengurus sendiri sertifikat rumah, prosesnya lebih cepat dan pastinya biayanya menjadi lebih murah. Akan tetapi perlu juga dipertimbangkan faktor lain yang akan mempersulit proses ini, selain karena saya masyarakat awam yang tidak tahu regulasi, membuat proses melengkapi berkas saja butuh waktu yang cukup lama, karena harus bolak-balik ke instansi terkait karena berkas yang saya bawa masih kurang lengkap, selain itu biasanya notaris memiliki rekan di beberapa instansi untuk mempercepat proses mereka, yah seperti di post saya sebelumnya dimana antrian saya diserobot oleh orang yang ternyata adalah kenalan sang petugas loket. Hal-hal kecil seperti ini lah yang tidak saya punya sebagai orang awam.


Saya sengaja membuat postigan ini menjadi beberapa part, karena masing-masing proses punya “ceritanya” sendiri. Di postingan ini saya hanya akan menjelaskan aecara umum alur pembuatan sertifikat tanah secara umum dengan beberapa asumsi; yang pertama, proses yang dilakukan hanya proses peralihan hak karena jual beli, tidak termasuk penggabungan/pemisahan sertifikat, ataupun peralihan karena warisan karena prosesnya beda lagi, asumsi kedua, tanah sudah bersertifikat HGB dan bukan tanah petok, karena kebetulan saya membeli dari sebuah developer perumahan dimana mereka sudah menaikkan status tanah menjadi Guna Bangunan. Oia, dan satu hal lagi, ini dilakukan di Lawang, Malang pada tahun 2018 ada kemungkinan berbeda lokasi berbeda pula aturannya dan mungkin saja di masa yang akan datang ada perubahan regulasi lagi yang membuat keadaan saat ini tidak dapat lagi digunakan sebagai acuan.


Yuk, kita langsung saja lihat bagaimana sih sebenarnya alurnya dari awal dilakukan penamdatanganan AJB kemudian menjadi sertifikat Hak Milik seperti yang biasa dijanjikan oleh para developer dalam brosurnya, bahwa harga jual unit mereka sudah termasuk pembuatan sertifikat menjadi Hak Milik. Jadi setelah saya menandatangani Akta Jual Beli (AJB) dan melunasi pembayaran, saya kemudian meminta salinan AJB ke kantor notaris. Lebih bagus lagi kalau sebelumnya sudah membuat PPJB alias surat perjanjian jual beli. Surat PPJB ini dibuat oleh notaris, biasanya atas permintaan sendiri karena developer sekarang jarang sekali yang mau menandatangani PPJB. Padahal menurut saya pribadi PPJB sangat penting untuk mencegah tidak terpenuhinya hak maupun kewajiban penjual maupun pembeli. Jadi menurut saya dengan adanya PPJB ini sebenarnya dapat melindungi kedua belah pihak secara hukum. Penjual tidak akan takut kalau pembeli kabur sehingga terjadi gagal bayar, pembeli juga tidak akan takut tertipu, uangnya dibawa lari tanpa mengalihkan obyek jual beli kepada pembeli karena hak pembeli atas obyek yang telah dibeli dilindungi oleh hukum selama pembeli menunaikan kewajibannya. Menurut saya pribadi penting membuat PPJB apabila pembayaran dilakukan secara tunai maupun tunai bertahap. Berkas kemudian dilengkapi untuk pembayaran BPHTB di kantor Dispenda. Prosesnya dapat dibacadisini. Setelah pembayaran BPHTB divalidasi saya kemudian membayarkan Pph. Untuk Pph sebenarnya adalah tanggung jawab pihak penjual, namun ini tergantung kesepakatan penjual dan pembeli. Proses validasi Pph dapat dibacadisini. Setelah Pph divalidasi, bukti validasi BPHTB maupun Pph dibawa ke kantor notaris agar AJB-nya didaftarkan oleh notaris dan memperoleh nomor AJB. Setelah AJB diberi nomor, kemudian saya mengajukan untuk proses balik nama di BPN. Proses balik nama dapat dibaca disini. Setelah proses balik nama selesai baru kemudian bisa dilanjutkan untuk menaikkan status sertifikat dari Hak Guna Bangunan menjadi Hak Milik. Proses peningkatan hak dapat dibaca disini.  


Memang prosesnya rumit bagi saya yang awam tentang pertanahan, sehingga apabila Anda orang yang sibuk sehingga tidak punya waktu untuk  wira wiri ke kantor BPN sebaiknya Anda mempertimbangkan untuk menggunakan jasa notaris saja.

Food Preparation

Jadi ceritanya selama liburan lebaran saya mencoba untuk menerapkan food prep di rumah. Diawali dengan membuat jadwal menu 10 harian supaya menunya bisa selang seling dan gak ketebak hari Senin apa, Selasa apa. Setelah beberapa hari menerapkan food prep saya merasa cocok dengan metode ini. Selain praktis, masak juga gak pakai lama, tidak lagi bingung harus masak apa hari ini karena sudah terjadwal menunya. Kalaupun mau ganti menu ya gak papa tinggal di skip aja menu hari ini, toh bisa buat besok kaan.


Beginilah penampakan isi kulkas di awal minggu
Tips menyiapkan food prep ala aku:

1. Lebih enak pakai kontainer yang bening jadi gak perlu tebak2an isinya apaan

2. Sayuran yang hijau2 saya masak di awal minggu biar gak kelamaan di kulkas

3. Sebelum masuk kontainer sayurannya dikeringin dulu biar ga cepet busuk

4. Buat porsi satu kali masak biar ga repot buka tutup kalo tenyata masih sisa

Semoga tetep bisa konsisten ya. Dengan ini waktu memasak di pagi hari cukup 20 menit uda jadi deh sayur sama lauknya, tinggal cemplung cemplung uda beres. Memasak jadi menyenangkan sekarang.

Happy Birthday my Love

Today is your birthday and I’m so grateful that you were born to be my lifetime partner
At first met I didn’t know that you are so special, but to know you in seven years of marriage I know that you are
Maybe sometimes I don’t understand you but somehow God put you on my side to reminds me that loyalty is an act of trust and my part is to follow your lead
I pray that His wisdom and uderstanding will never leave you and may the Spirit of God fill you with joy and peace as you trust in Him
With love,

“Drac”

Otoritas

Apa yang terlintas kalau mendengar kata otoritas? Bisa berarti pemimpin, bisa pengaruh, bisa juga diartikan kuasa atas sesuatu. Sejujurnya saya punya masalah dengan kata otoritas ini. Dalam benak saya otoritas bersifat menguasai entah itu terhadap sesuatu atau seseorang. Otoritas orang tua kepada anaknya, suami pada istri, pimpinan kepada bawahannya, dan semua ini menunjukkan bahwa pemegang otoritas ini berkuasa penuh atas segala sesuatunya. Dan bagi saya konotasi ini lebih ke arah negatif. Seolah-olah saya tidak mempunyai kehendak bebas, tidak diijinkan untuk bertindak di luar persetujuan otoritas di atas saya. Pengalaman masa kecil saya menegaskan ini, bahwa dengan terlahir sebagai seorang perempuan membuat saya  akan selalu berada di bawah otoritas. Perlakuan yang saya terima sebagai perempuan dengan perlakuan yang diterima adik-adik saya yang laki-laki sama sekali berbeda. Saya merasa orang tua saya berlaku sangat tidak adil. Contohnya gampang, adik saya yang laki-laki pulang malam bahkan dini hari tapi tidak kena omel, sedangkan saya, hm… boro-boro pulang malam, pergi ke rumah teman sampai jam 8 malam saja sudah ditelepon dan disuruh pulang. Dari sini muncul pemberontakan saya. Saya selalu mempertanyakan kenapa perempuan tidak boleh ini itu sedangkan adik-adik saya yang laki-laki diperbolehkan. Saya pun menuntut kesetaraan gender dan persamaan perlakuan, supaya fair begitu pikir saya. Kegiatan saya di sekolah pun akhirnya tidak jauh-jauh dari dunia laki-laki. Mulai dari penampilan yang tomboy dengan rambut yang selalu potong cepak, kaos oblong ditambah celana pendek gombor jadi dandanan sehari-hari, ikut judo yang isinya lebih banyak laki-laki, bahkan sampai patah tulang di pundak gara-gara dibanting pas ikut kejuaraan pun saya tidak memberi kabar orang tua, setelah parah dan harus operasi baru orang tua tahu, ikut teman-teman naik gunung padahal belum ijin orang tua, cara bicara dan bercanda saya juga sudah ala-ala cowok. Ya, ini bentuk pemberontakan saya. Saya ingin membuktikan perempuan tidak kalah dari laki-laki, tidak selamanya perempuan harus menurut pada otoritas, perempuan juga bisa bebas untuk jadi diri sendiri dan mengekspresikan dirinya.

Setelah menikah, stigma negatf terhadap otoritas ini belum sepenuhnya hilang.  Walaupun tahu secara hirarki memang Tuhan tempatkan suami sebagai yang memiliki otoritas atas istri tapi pada kenyataannya menundukkan diri pada otoritas suami ternyata  tidak segampang itu. Ada saat-saat di mana saat saya merasa keputusan suami tidak seperti yang saya inginkan, saya pun meradang lalu mengambil alih peran suami sebagai decision maker. 

Sumber foto : https://www.jawaban.com/read/article/id/2014/02/18/92/140218165551/

Saya merasa bahwa saya dapat membuat keputusan yang lebih baik ketimbang tunduk pada suami. Contoh kecil saja, pernah dulu saat baru memiliki anak pertama, saya ingin sekali punya high chair untuk anak supaya belajar duduk dan makan sendiri, suami tidak setuju karena menurutnya itu pemborosan. Saya kecewa, karena menurut saya memiliki high chair itu penting. Akhirnya tanpa sepengatahuan suami, saya pun memberanikan diri membeli booster seat karena lebih murah pikir saya. Daaan… guess what, ternyata anak saya pun tidak suka ada di kursi itu karena tidak suka diikat di tempat yang mebuat ruang geraknya terbatas. Padahal sudah terlanjur diomelin suami gara-gara beli secara sembunyi-sembunyi. Sampai hari ini booster seat ini menganggur di rumah masih rapi tersimpan dalam kotaknya dan terus ikut diangkut kala pindahan dari satu rumah kontrakan ke rumah kontrakan yang lain, sungguh mengesalkan. Mau dijual sayang, tapi dipakai pun tidak.

Tapi beberapa hari ini saya merasa diingatkan lagi melalui buku yang sedang saya baca. Tuhan sudah mendesain perempuan untuk berada di bawah otoritas suami di dalam suatu pernikahan dan ini bukanlah hal yang negatif karena ini adalah bentuk perlindungan. Tuhan memberikan perlindungan kepada perempuan melalui suaminya. Mengapa perempuan butuh perlindungan? Tidakkah ia bisa mempertahankan dirinya sendiri?  Secara fisik, ada perempuan yang jauh lebih kuat daripada laki-laki, secara sifat juga ada perempuan yang lebih dominan, maka saat bertemu dengan laki-laki yang pasif akan mudah sekali tergoda untuk mengambil alih kepemimpinan. Tetapi perlindungan yang Tuhan maksud di sini bukan perlindungan fisik atau hal-hal jasmani semata, tapi perlindungan secara rohani dimana perempuan yang lebih banyak berpikir menggunakan emosi dan perasaannya rentan tertipu. Berbeda dengan laki-laki yang mempertimbangkan segala sesuatunya dengan logika, dapat mengambil keputusan tanpa dipengaruhi emosi dan perasaan, mereka lebih sulit untuk diperdaya. Rancangan Tuhan menempatkan suami menjadi kepala dan pemimpin atas istri bukan sebaliknya. Istri yang mendominasi suami justru sedang menghilangkan perlindungan rohani bagi dirinya dan keluarganya. Lalu apakah keputusan suami selalu benar? Mungkin tidak selalu, mereka pun manusia yang bisa melakukan kesalahan. Tetapi yang jadi tugas saya sebagai istri adalah tetap tunduk pada suami, boleh mengingatkan dengan bahasa yang sopan sembari menyerahkan segala sesuatunya kepada Tuhan Karena Tuhan sanggup mengubah segala keadaan. Kalau saat ini Tuhan mengijinkan keluarga  kita mengalami berada di jalan yang sepertinya  tidak menguntungkan kita, maka percaya ada rencana Tuhan di sana, dan rencana Tuhan tidak pernah salah. God bless..

My Journey on IIP B#5

Yeay..akhirnya niat memposting pengalaman menjadi koordinator week1 datang juga.  Baiklah, kali ini saya mau share pengalaman jadi korming di kuliah matrikulas IIP batch#5 Malang Raya. 

Awalnya kenapa bisa ada nama saya di situ adalah karena modal nekat. Kenapa? Karena saya sendiri tidak punya pengalaman jadi moderator diskusi offline apalagi online. Dan saya jarang sekali mau jadi pusat perhatian di depan umum. Tapi karena ikut Matrikulasi IIP ini adalah keinginan pribadi untuk belajar. Maka tidak ada salahnya belajar lebih dengan menjadi koordinator mingguan. 

Dab benar saja. Banyak pelajaran berharga yang didapatkan daripada hanya menjadi peserta biasa. Mulai dari hal-hal teknis seperti mengoperasikan google classroom, memimpin diskusi sebagai moderator, membuat resume diskusi dan merekap Nice Homework dari teman-teman satu kelas. Memang ada usaha ekstra yang dilakukan. Tidur lebih malam. Rebutan laptop sama suami yang lagi pengen nonton anime sama anak-anak 😁😁

Tapi hasilnya saya mendapatkan badge dari IIP karena telah menjadi korming week 1

Senang? Iya..tentu pake banget. Karena merasa apa yang sudah dilakukan ternyata mendapat apresiasi. 

Banyak kejadian selama jadi korming 1. Mulai dari pas lagi serius diskusi, eh tiba-tiba Jojo minta pipis..haduh..mana baru separuh jalan. Ga bisa ditinggal..bisa-bisa bingung semua pesertanya kalau tiba-tiba kormingnya hilang. Lalu, karena canggung dan belum pernah jadi pemimpin diskusi, saya tidak mempersilahkan narasumber untu masuk. Untung ada ketua kelas yang baik mb Nadya yang sigap memperbaiki kesalahan saya. Selain itu, karena belum pernah diskusi online, saya tidak tahu tekniknya kalau semua kata-kata sebaiknya sudah disusun dan ditulis di notes yang nantinya tinggal di copy paste. Karena waktu 1 jam untuk diskusi itu ternyata cepat sekali. Jadi kalau kata-kata tidak disusun dengan baik sebelumnya akan buang-buang waktu diskusi hanya untuk tulisan “riana is writing…”

Memang jadi yang pertama itu sulit karena belum tahu rules nya bagaimana, apa yang harus dilakukan. Alurnya nanti bagaimana, narasumbernya seperti apa. Tapi semua itu ada pengalaman yang tak ternilai. 

Semoga next kalau jadi moderator lagi sudah lebih smooth..ga gugup..ga grogian lagi.


Previous Older Entries

Daisypath Anniversary tickers
Lilypie Second Birthday tickers
%d bloggers like this: