My Blog

Aku sebelumnya ga pernah share di blog ini cerita tentang aku before married. Blog ini aku buat awalnya hanya untuk review vendor-vendor yang aku pake waktu wedding. Niatnya sebagai ucapan terima kasih karena sudah banyak membantu aku selama pelaksaan hari H (HETIC day) hehe…yang tidak bisa dinilai secara materiil. Aku merried ga pake vendor yang terkenal, jadi mungkin pada ga punya web. Jadi disinilah niat awalku supaya kalo ada yang baca bisa terbantu.
Itu baru prolog. Uda panjang aja. Semakin kesini nih blog jadi ajang curhat. Daripada nulis di diary ky jaman eSeMPe dulu bisa hilang, bukunya keselip ato rusak, ato kebaca orang. Kalo di blog tinggal di password aja dah beres. Gak bakal hilang catatannya. 
Tapi yang sering dilihat di blog ini bukan tentang vendor wedding seperti maksud awalku membuat blog ini. Tapi justru tentang game online. Iyah, dulu waktu belum ada anak, mainnya travian dual sama mas bojo. Malah itu bikin orang sering nyasar ke sini. Cari info tentang travian. Ternyata msih ada yang mainin.
Kayaknya harus lebih belajar lagi gimana nulis yang baik kalo mau serius ngeblog. Pengen sih nyari duit dari blog. Aku bukan tipe orang yang suka share di fb ato tweet yang karakternya dibatasi. Nulis di sosmed yang karakternya dibatasi bikin interpretasi orang jadi ngelantur jauh dari maksud si penulis. Masih untung dibaca. Netizen jaman sekarang uda baca judulnya doang uda bisa komen koq. Ga heran daya baca Indonesia ni masuk peringkat bawah dunia. Padahal membaca tuh butuh nalar. Kalau menalar bacaan aja gak bisa apalagi mau menghasilkan tulisan yang bermanfaat. Makanya yang muncul kebanyakan komen provokatif dan ujaran kebencian. Lah, dibaca full version aja enggak apalagi nyari versi bandingannya.. Selama ini fb hanya aku pakai untuk share artikel inspiratif ato resep yang menarik. Curhat di fb?? no way. Sekedar posting tingkah laku anak biar dianggap kekinian itupun seadanya. Cerita lengkap semua ada di blog. Tapi memang lebih mudah ya share/nulis di fb lebih mudah dishare orang jadi gampang viral. Hari gini..aku uda ga pernah lagi denger hal yang viral dari tulisan kecuali tulisan mbak2 SMA itu yang disinyalir adalah plagiat dari tulisan miss miss bule tapi gak viral wkwkw. Cuma orang Indo yang bisa bikin viral.. Anak-anak kita lebih senang main medsos daripada membaca. Apalagi diajak berpikir. 

Sejak SMP aku sudah jadi petugas perpus. Dari dulu aku memang cinta buku. Walaupun sekarang semangat membaca agak berkurang karena bukunya habis rusak dicoret2 alhasil semua bukuku aku simpan di tempat yang aman. Tak terjangkau siapapun. Even me. Hahaha.. SMA rasanya aku gak aktif di perpus. Asik dengan dunia basket dan naik gunung. Maklum anak baru tahu dunia luar. Hilanglah semangat baca. Mana dulu ya yang aku lihat perpus tu kesannya selalu surem, penuh buku berdebu (karena gak pernah dijamah) membosankan dan petugasnya gak ramah. Aku pengen perpus tu kesannya cheerfull, penerangan yang baik juga penting jadi kalo mbaca di situ matanya gak sakit, boleh bawa makanan minuman minimal camilan lah. Kalo kotor ya suruh ganti dong. Biasanya kalo bukunya serius dan tebel gitu ga mungkin orang baca sambil makan, karna pasti lagi mikir. Tapi kalo cuma novel ringan ato komik ga jarang aku baca sambil ngemil, enak koq. Asal sedia tisu ya. Jadi jangan dibuat surem lah perpus ini. 
Dulu juga sempet jadi petugas perpus di gereja. Selama aku kuliah sampe aku mau merried aku setia di perpus. Tapi yang banyak dipinjem bukan buku tapi VCD musik alasannya buat latihan praise and worship. Yaa ga salah juga. Perpus juga sering dibuat tempat nongkrong usai ibadah. Tapi yang dibaca, majalah doang yang dipajang di meja. Buku di lemari kadang ada yang ngeliatin. Tapi yang pinjem ga sampe separuh jemaat pemuda. Karena saat itu perpusnya lebih fokus ke pemuda remaja. Yaah jaman jaman itu juga lagi pada maen BB aku yang gak punya BB yah megangnya buku aja. Uda sering masukin resensi buku baru di buletin gereja tiap beli buku. Maksud hati supaya ada yang tertarik trus pinjem gitu. Tapi ya itu ga bisa semua buku diresensi. Bisa bisa ga kuliah aku. La bukunya ratusan. Petugasnya cuma 2 orang. Aku sama Shinta Toding. Temen sekampus. Awalnya ada beberapa orang yang ikut belanja buku ke Metanoia, lama-lama cuma aku berdua ma Shinta. Metanoia bukunya lebih banyak ke devotional bukan doktrin. Aku ga berani beli buku doktrin di tokonya GRII. Takutnya ga sesuai. Karena bukan rahasia di kalangan Kristen sendiri yang namanya doktrin kadang masih sering diperdebatkan. Jadi menurutku buku-bukunya kurang “keras”. Yah gitulah menurutku pelayanan di gereja. Pelayanan yang cenderung “aman” karena biasanya orang2nya sudah satu doktrin. Atau doktrin warisan dari sekolah minggu disitu juga. Beda waktu pelayanan di persekutuan doa di kampus. Apalagi waktu itu namanya mahasiswa dengan segala idealismenya saling berbenturan. Ada yang bawa doktrin dari gereja di kota asal, ada yang “baru tahu” doktrin pas kuliah dan merasa diri paling bener. Wah rame nano nano deh rasanya. Aku?? Diem aja hehe. Ga hobi dan ga bisa debat. Pasti kalah deh. Aku percaya yang aku percaya. Its enough.

Panjang juga ya posting ga jelas ini…namanya juga curcol.. Yang pasti aku harus segera belajar menulis. Tapi kalo ga mbaca gimana ada bahan buat nulis yah?? 

Advertisements

Imperfection

Masih galau about this parenting stuff. Its so hard for me. Hari ini sambil nonton Rainbow Ruby di tv sambil nyuapin anak-anak, kami melihat adegan dimana Ruby melakukan kesalahan tapi ayahnya tidak marah, suaranya tetap lembut. Lalu tiba-tiba si kakak nyeletuk, “mah, jangan marah-marah, kayak itu lo” sambil menunjuk ke arah tv. Langsung mak jlebb.. Anakku sudah bisa protes. Dia ga mau mamanya suka ngomel. Ya iyalah siapa juga yang mau diomelin tiap hari. Anakku pengen mamanya lebih sabar. Tanpa sadar aku meneteskan air mata. Sambil aku peluk dia dan bilang “maafin mamah ya”

Menjadi super mommy it’s imposible but to be a better one it is possible. Tuhan sedang membentuk aku melalui anak-anakku. Aku berusaha jadi lebih baik tapi useless. Rasanya sama seperti dulu… Seperti berputar dalam labirin. Seperti terjebak dalam pasir hisap. Semakin aku meronta untuk membebaskan diri semakin aku terjebak. Semakin aku belajar parenting sana sini semakin aku sadar betapa bodohnya aku, semakin aku merasa bersalah ketika gagal dalam ujian yang sesungguhnya. Semakin tenggelam karena hopeless kalau aku bisa berubah. 

Dulu…aku tahu yang aku butuhkan untuk keluar dari semua masalahku hanya Dia. Tapi setiap aku datang dan kemudian jatuh lagi dan lagi dalam kesalahan yang sama, aku pun berhenti. Berulang kali mengecewakanNya I think it’s enough. Sudah cukup berulang kali aku menusukkan paku di telapak tanganNya. Sudah cukup semua yg Dia korbankan. I’m done. Kalo kamu punya barang yang uda rusak parah, pilih mana, diperbaiki ato beli baru? Kalo aku mending beli baru sekalian, biaya reparasi bisa jadi sama mahalnya dengan beli baru bahkan bisa lebih mahal. My tought. 
Tapi gak dengan Yesus.. He repaired me. Dengan harga yang super mahal, nyawaNya. Gave me a new life. Persis seperti cerita anak bungsu yang terhilang. Sudah kurang ajar sama ayahnya, kehabisan uang, cuma bisa makan di kandang babi, ehhh pulang-pulang dikasi jubah dan cincin. 

Semakin ke sini aku semakin sadar banyak sekali kelemahanku. Banyak orang termasuk aku berusaha bertemu Dia. Lewat perbuatan baik, amal, menggunakan atribut tertentu. Tapi semua usaha itu sia-sia. Apakah mungkin perbuatan baik sebutir debu akan mencapai matahari? Seperti itu jauhnya Allah dan aku. Tapi kemudian Yesus datang Ia menjadi jalan untuk bertemu Bapa. Karena Yesus dan Bapa satu. Aku yang ga lebih dari sebutir debu boleh berbicara sama Pencipta langit dan bumi, yang pada jaman hukum Taurat harus masuk ruang maha kudus dan darah korban persembahan.
Cuma Yesus satu-satunya jalan untuk aku bisa jadi sabar. Buah roh salah satunya sabar. Saat ini aku cuma pengen satu hal. Berbuah. Tapi aku ga mungkin berbuah kalau gak disiram. Tapi kalo udah disiram firman terus ga berbuah juga gimana dong?? Ya dipotong trus dibakar. Ranting pohon tempatnya buah nongol itu aku. Sekarang aku mikir gimana caranya bisa berbuah. Tapi apa iya ranting bisa mikir sendiri dia mau berbuah apa kagak. Itu uda otomatis kali. Kalau dapet nutrisi dari sang pohon, nutrisi itu disalurkan lewat ranting kemudian jadi buah yang manis. Ga ada usaha dari si ranting yang ceking. Syaratnya cuma satu. Nancep di pohon. 

Aku mungkin belum nancep banget kali y. Masih setekan. Tapi mau berapa lama…aku ga dewasa2. Ga berbuah2. God pelase help me. Im sick of me.

32

As a parent tentu aku pengen anak-anakku tumbuh bahagia. Tapi tidak jarang aku marah dan bersikap kasar. Setiap kali marah aku selalu menyesal dan meminta maaf. Bukan karena mereka menangis, katena terkadang they’re just trying to push your limit, tapi karena aku sering kehilangan kontrol emosi saat marah. 

Aku sebenarnya ga pengen menjadi pemarah. Akuga pengen anak-anakku punya kekecewaan dan kepahitan dalam hati mereka karena perlakuan yang diterimanya. Aku ga mau mereka tumbuh seperti aku.

Hari ini aku sudah 32tahun. Sudah bertambah tua ya. Tapi aku merasa bahwa kedewasaanku tidak bertambah seiring umur yang bertambah. Maturity perlu diupayakan. Sebenarnya aku juga heran kenapa aku mudah sekali kesal hanya karena hal kecil. Mungkin tampak kecil, tapi kalau hal-hal kecil itu sudah terakumulasi bisa jadi masalah besar. Dan to be honest aku juga ga melihat masalahnya terselesaikan karena esok hari hal yang sama masih terulang.
Parenting is a big thing. Is a matter of one soul. You can bring him up of down. Aku pernah baca status salah seorang teman di fb. He says even when you can be a parent doesn’t mean you should be one. Karena kenyataannya pekerjaan menjadi orang tua itu sulit. Sangat sulit. Kita tidak hanya sedang mendidik seseorang tapi mengubah diri sendiri. Ga nyaman. Saat kita pengen anak kita rajin yang pertama harus jadi rajin ya orang tuanya. Saat ingin anak menjadi sabar, kesabaran menjadi hal yang pertama dituntut untuk dipraktekkan oleh sang orang tua. 

Saat ini tantangan terbesarku adalah menjadi sabar. Menahan emosi supaya jangan sampai batin anak-anakku terluka. Luka batin tersembunyi tidak seperti luka fisik yang lebih mudah disembuhkan. Luka batin take years to heal it. 
Aku udah berusaha belajar bagaimana menjadi orang tua yang lebih baik. Baca buku parenting, ikut grup parenting di fb/wa. Tapi semua hasilnya nihil. Aku sadar aku salah. Buku dan seminar menyadarkan aku bahwa caraku salah. Tapi untuk mengubah diri, itu perkara lain. Mengubah kebiasaan yang tertanam bertahun-tahun. Mengubah karakter yang kadung berakar, takes time.
Membaca ayat di atas aku sadar satu hal. Dia yang membentuk aku. Di dalam Dia ada hikmat dan pengertian. Itulah yang harus aku cari. 

Stay Calm

Sejak pertengahan bulan September ini kami berdua mengambil langkah yang cukup besar yaitu membeli rumah. Kebetulan ada perumahan baru dekat rumah kontrakan disini. Tapi memulai membangun rumah tepat di awal musim hujan adalah tantangan tersendiri. Rumah kontrak yang dekat dengan lokasi pembangunan memudahkan aku untuk ngecek proses pembangunannya. 
Tapi karena ikut perumahan dan harus “manut” sama developer apapun yang kami sampaikan baik ke developer ataupun kontraktornya hanya dianggap angin lalu. Malah dianggap konsumen cerewet yang tidak tahu apa-apa. Okelah memang aku bukan tukang bangunan, tapi aku juga ga bodoh. Pengerjaan yang asal-asal tentu tidak bisa diterima. Tapi apa daya. Siapa sih aku. Hanya satu dari ratusan klien yang harusnya gak perlu cerewet karena “mereka” yang lebih tahu.
Antara menyesal tapi uda kadung uang Dp dah nyenplung. Mendingan dulu beli tanah kavling aja baru bangun sendiri. Tapi lokasi disini memang terbilang cukup bagus untuk kami karena dekat dengan tempat kerja Drex. Ya sekarang mau gak mau terima aja hasil kerja sang kontraktor yang sekarang wajahnya super bete kalau ketemu aku. Bahkan beliau berani nantang kalau rumah aku mau dipending pembangunannya kalau aku kebanyakan komplain. Sekarang gini loh. Aku nyadar banget kualitas rumah yang akan kami tempati ini. Tapi mbok ya pengerjaannya juga gak asal. Diingatkan malah kami dicap tukang komplain. Salah kami juga sih milih developer setengah asal kayak gini. Nggak di cek dulu gimana cara kerjanya. Setelah nyemplung baru dengar kabar miring sana sini. Mereka dulu saat meemulai proyek ini belum mengantongi ijin dari pemda. Belum minta ijin sama warga sekitar kalau akan ada kendaraan berat yang akan masuk lokasi proyek. Karena memang jalan masuk ke perumahan baru ini melewati perumahan lama yang sudah lebih dahulu berdiri. Walaupun developernya sama tapi wilayah ini sudah bukan wilayah dia lagi karena rumah-rumah di situ udah punya orang. Dan mereka pasti terganggu lah kalau ada kendaraan besar bolak balik melewati depan rumah mereka. Belum lagu kalau ada material yang berjatuhan. Bikin kotor depan rumah orang. Trus lagi soal air. Saat perumahan yang lama berdiri PDAM belum masuk. Warga lama urunan untuk beli pompa dan membangun tandon air.  Eh, tanpa ijin si developer ini memasang pipa saluran air dan mengambil air dari tandon warga untuk pembangunan perumahan baru. Menurutku seharusnya untuk perumahan baru ini mereka buat tandon sendiri lah. Okelah awal masih nebeng tapi mbok yao ijin dulu karena yang membangun tandon dan beli pompa itu bukan sang mak mak developer melainkan urunan warga setempat. Apalagi mereka membangun di musim kemarau kemarin. Air untuk warga jadi sering mati. Persoalan air di saat musim kemarau memang sudah jadi langganan setiap tahun. Sudah sejak perumahan ini berdiri sudah begitu. Makanya orang-orang lama di sini punya tandon bawah semua. Bukan tandon atas. Ya gimana airnya mau naik ke atas, sedangkan air yang mengalir di keran paling depan aja uda ogah-ogahan keluar. Mengalir ke kamar mandi belakang aja udah ga mampu apalagi naik ke tandon. Sudah sebulan terakhir ini air yang dipompa keruh akhirnya untuk air bersih yang diperuntukkan untuk masak dan minum didatangkan pakai tangki air oleh PDAM yang katanya diambil dari Pandaan. Air yang dari keran untuk keperluan MCK. Belum lagi air bisa mati sewaktu-waktu karena tidak ada lagi air yang bisa dipompa. Udah gitu tandonnya kecil ya mana cukup kalau nantinya akan ditambahi 63 KK baru. Gak mungkin banget pakai tandon dan pompa yang sekarang. Pasti kurang.
Well, I suppose this is our way. This is the house we can afford. Good or bad lets accep it with gratitude. Just pray that everything will be okay. Pembangunan runah bisa selesai denga cepat and no more drama. Pengen rasanya membalas perkataan kasar kontraktor itu tapi itu hanya akan membuatku turun di level yang sama dengan orang itu. Of course not. Mine was higher. Well educated person should have learned to control their emotion and speak wisely.
Somehow, aku diingatkan bahwa ada Tuhan yang maha adil. What you sow you’ll reap. Tidak perlu kuatir apalagi berkecil hati atas perlakuan orang lain sama kita. Ini bukan sekedar kata-kata motivasi kosong karena kelegaan yang aku rasakan itu nyata. Tuhan itu benteng perlindungan. Percaya Dia lah yang pegang kendali. Bukan sang developer bukan si kontraktor dan terutama bukan pula aku. It is a big warning for me. Saat semua rasanya out of control. Kita mudah lupa kalau Dia lah yang sebenarnya in charge dalam hidup kita. Then why still worry too much? Our life is in a GOOD HAND and the most relieving part is He loves me. Jesus bless my home.

Happy Birthday D’Rex

pp41.jpg

Thank you for being my true best friend, the one I believe in and the one who always believe in me. I’m not a perfect wife but keep fighting to be a better one each day. I don’t know what future holds but as long as we have each other I know it’ll be awesome. Happy birthday D’Rex, I love you.

 

Stop It Already

Aku masih berduka. Kemarin diputuskan Ahok bersalah dan divonis 2 tahun penjara. Gubernur bersih dan jujur walaupun cara bicaranya ceplas ceplos. Tidak ada maksud menistakan agama tertentu. Pun beliau telah meminta maaf secara terbuka. Tapi tampaknya luka yang beliau torehkan pada kelompok tertentu begitu dalamnya sehingga tak termaafkan.

Aku berusaha memahami pikiran teman-temanku yang merasa agamanya telah dinistakan. Aku sangat bisa mengerti kemarahan mereka. Kita yang mengaku beragama perlu untuk jadi radikal. Kalau tidak buat apa kita memeluk agama tertentu. Itu pasti karena kita meyakini agama yang kita anut paling benar, kalau tidak buat apa kita meyakini satu agama tertentu dan mati-matian membelanya.  Tapi kebencian tidak akan menyelesaikan apapun. Kebencian hanya melahirkan permusuhan. Sepertinya kita kurang belajar dari sejarah.

Entah bagaimana caraku meyakinkan kalian bahwa aku tetap mengasihimu sebagai seorang sahabat, bahkan saudara. Tapi aku telah terlalu letih membaca pesan kebencian di media sosial. Kata-kata provokatif yang dilontarkan dari kedua belah pihak. Masing-masing merasa sedang berada di pihak yang benar. Tak henti air mataku mengalir saat menuliskan ini. Aku mempertanyakan apa yang sebenarnya sedang kita perdebatkan? Ataukah ini usaha untuk mempertahankan ego yang sedang terluka. Seandainya ini hanya agama tanpa  kata -ku di belakangnya mungkin tidak akan ada yang naik pitam. Tapi ketika “agama+aku” yang diusik, seketika memuncaklah semua kemarahan dalam diri. Semua argumen telah disampaikan untuk membuktikan masing-masing pihaklah yang paling benar. Tapi tanpa ada kasih di hati, hilanglah kebenaran yang sedang kita dengungkan.

1 Korintus 13:1 Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.

Saat jaman Yesus melayani-pun Ia dibenci banyak orang, imam-imam dan pemuka agama saat itu merasa terancam dengan kehadiranNya. Semua berteriak-teriak kepada Mahkamah Agama untuk menyalibkan Dia tanpa menemukan satu kesalahan-pun atas Yesus. Tapi di atas salib, dengan menahan rasa sakit yang begitu dahsyat Ia tetap menghasihi mereka yang membencinya dan berkata “Ya Bapa, ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”

I’m not a good guy..aku orang berdosa, dan bahkan lebih daripada mereka yang berteriak-teriak “Salibkan Dia, salibkan Dia” tapi kasihNya mengubahkan hidupku. Saat kasihNya membukakan mataku dan melihat betapa berdosanya aku, tidak ada perasaan “lebih baik” dari orang lain sehingga aku merasa layak jadi hakim atas pribadi seseorang. Saat ada di tempat terendah, tidak akan ada kesombongan untuk berdiri lebih tinggi dari orang lain. You can’t give what you never had. Kita tidak bisa mengasihi kalau belum pernah menerima kasih. Kita tidak akan bisa mengampuni kalau belum pernah diampuni. Sudahkah kau menerima kasihNya?

Jesus loves you, so do I.

Mujizat

Mumpung lagi ada waktu untuk nulis. Aku pengen nulis lagi. Bingung mikir mau nulis soal apa. Aku lalu teringat saat ikut persekutuan dekat rumah. Dan ini memang yang aku rasakan sendiri. Sering orang (Kristen, esp) berdoa berharap akan terjadi mujizat dalam kehidupan mereka, termasuk aku tentunya. Ada yang berdoa minta mujizat kesembuhan (ini yang paling sering aku dengar), ada yang minta pekerjaan, jodoh, usaha lancar, dan berkat-berkat lain (yang biasanya berupa materi). Dan ketika ada yang bersaksi mereka mendapatkan mujizat itu semua jemaat bertepuk tangan dan bilang “haleluya”.

Aku sendiri tidak menyangkal mujizat bisa terjadi karena aku dengar sendiri dari orang yang mengalaminya. Sakit stadium berapa bisa sembuh total tanpa operasi. Ada yang bisnisnya ambruk Tuhan pulihkan bahkan melebihi yang sebelumnya. Semua orang punya masalah. Semua orang berdoa minta mujizat. Saat mujizat didatangkan sesuai dengan maunya kita seperti dikasih kesembuhan, pekerjaan yang kita harapkan, bisnis sukses, siapa yang tidak bisa bersyukur? Gampang sekali mengucapkan “Haleluya, doaku dijawab Tuhan”. Seandainya, setelah bergumul dengan masalah, bukannya mujizat yang datang, tetapi masalah malah bertambah berat, masihkah dengan sukacita kita bilang “Haleluya, thank you Jesus”??

That is why aku agak ragu kalau disuruh kesaksian. Aku gak pernah mengalami mujizat yang segitunya sampe sakit bisa sembuh tanpa dokter dll, aku ga pernah ngalamin masalah yang bikin mau bunuh diri lalu diselamatkan. Jadi apa yang disaksikan? Bersyukur untuk setiap hari yang aku jalani, tentu. Mengetahui bahwa aku bangun pagi dengan sehat itu juga mujizat yang aku terima setiap hari yang juga aku syukuri. Lalu apa istimewanya kalau semua juga mengalami yang aku alami? Semua juga bersyukur atas hal yang aku syukuri. Mungkin ini juga makanya kalau ada hamba Tuhan mempersilahkan jemaat untuk kesaksian paling hanya satu dua orang yang maju. Dan, kesaksiannya ya seputar yang sudah aku sebutin tadi. Bukannya ga mau kesaksian tapi kalau kesaksiannya itu-itu aja ya kesan yang aku dapat selfish banget. Semua ceritanya tentang “aku”. Kesembuhanku, kesuksesanku, dan -ku yang lain. Gak pernah denger Haleluya, aku dapat masalah. Ya, jujur aku jadi minder dong. Aku ini juga sedang “bermasalah”. Mau kesaksian, orang lagi punya masalah, belum dapat mujizat (yang sesuai sama versiku), ya apa yang mau disaksikan. Nanti gak membawa berkat. Ini kata orang yang duduk di sebelahku saat aku mencoba men-share pergumulan aku di persekutuan yang aku datangi. Itupun karena dipaksa sharing karena uda lama ga nongol. Aku bukan mau ngeluh karena bermasalah, tapi malah bersyukur bahwa dalam menjalani masalah pun aku tetap dipelihara Tuhan. Tapi kayaknya ada yang berpikir yang namanya kesaksian tuh harus “wow…keren” harus mujizat yang “besar” yang layak diceritakan di publik. Minimal kesaksian tuh kayak “saya sudah kanker stadium IV dokter sudah bilang umur saya tinggal satu tahun lagi, tetapi puji Tuhan, Tuhan kasih saya mujizat, Sekarang kanker saya hilang tanpa menjalani operasi dan kemotrapi. Terima kasih untuk pendeta XYZ yang sudah mendukung saya dalam doa” atau “rumah tangga saya di ambang perceraian tapi Tuhan memberi mujizat terjadi pemulihan dalam keluarga saya, dst..dst..

Aku jadi merenung..Mujizat itu apa sebenarnya? Apakah semua yang menurut versi kita baik adalah mujizat dari Tuhan? Mostly menjawab “iya” pastinya. Tapi dari pengalamanku pribadi, apa yang kita anggap mujizat dari Tuhan belum tentu lho datangnya dari Tuhan. Pun Jesus gak pernah menjanjikan orang Kristen akan hidup “bahagia ever after” yang Ia janjikan kehidupan kekal, tapi untuk memperolehnya kita harus pikul salib, ikut Tuhan. Ikut Tuhan emang gampang? Banyak tekanan lho. Tuhan aja dicaci, dihina, dianiaya, jadi muridNya ya gak mungkin dong kita dapat beda perlakuan dari gurunya. Gak bisa naik pangkat karena Kristen? banyak contohnya. Salah satunya ada di keluargaku sendiri. Kalau Tuhan mengijinkan mujizat terjadi dalam hidup kita, bersyukur sekali. Tapi kalaupun tidak atau belum ya tetap bersyukur. Lah trus kalau doanya ga dijawab-jawab Tuhan sesuai mau kita berarti ga bisa kesaksian dong?? Beberapa bulan lalu aku sempet kerja, pas awal-awal kerja aku merasa “wow..aku dapet mujizat nih bisa kerja lagi, terima kasih Tuhan” pasti gitu kan reaksi kita saat merasa ketiban mujizat. Tapi, itu cuma bertahan 4bulan karena akhirnya balik Lawang lagi karena alasan keluarga. Ya, karena aku kerja di Surabaya dan suami tetap di Lawang. Capek bolak balik Surabaya-Lawang tiap weekend. Ga capek kalau ga bawa anak-anak. Masalahnya naik kereta dengan dua anak yang ga bisa diam itu “sesuatuh” banget. Saat aku menganggap bahwa bekerja di Surabaya adalah mujizat dari Tuhan, aku protes dong saat “mujizat” diambil kembali, alias aku resign lagi. Tapi aku disadarkan, yang bilang itu (pekerjaan) mujizat dari Tuhan itu siapa? kan aku sendiri yang mengasumsikannya begitu. Kalaupun memang dari Tuhan dan sudah jadi rencana Tuhan kenapa aku protes saat itu diambil kembali. Toh Tuhan yang memberi Dia juga yang berhak mengambil. Dan ini berlaku untuk semua hal, baik itu kesehatan, harta benda yang kita kira punya kita, jadi jangan marah-marah saat diminta balik dan menganggapnya suatu kehilangan. You can’t lose what you never had. Pun hidup ini saat diambil kembali kita tidak punya hak untuk protes.

Mujizat tidak selalu membawa orang ke dalam pertobatan. Berapa banyak orang yang melihat dan mengalami mujizat Yesus? dan berapa banyak orang yang akhirnya mengikuti Dia. Ada sepuluh orang kusta yang mengalami mujizat kesembuhan saat dalam perjalanannya menuju Imam besar. Berapa orang yang begitu sadar dia sembuh lalu kembali mencari Yesus untuk berterima kasih? Hanya SATU orang. Kemana yang Sembilan orang lainnya?? Mengalami mujizat ternyata tidak serta merta membuat orang berbalik pada Yesus. Bukannya aku tidak percaya mujizat atau tidak mengharapkan mujizat, tapi sekarang aku sadar aku hanya bisa berserah. Karena sebenarnya yang berkuasa atas hidup ini bukan aku tapi Dia. Aku mau tetap bersyukur karena aku tahu apapun yang terjadi atas seijin Tuhan dan dalam rencana Tuhan.

Apa karena kita ini malas, gak mau menanggung kesusahan makanya banyak orang Kristen yang mujizat oriented? Ada KKR di sana, mujizat pasti terjadi, kita ikut-ikutan pergi. Atau kalau didoakan hamba Tuhan XYZ ini pasti mujizat terjadi. Apa kita ini generasi yang gak mau susah ya? Maunya didoakan sekali langsung “cling” terjadi sesuai kehendak kita. Tuhan uda kayak ibu perinya Cinderella. Tempat minta mujizat. Berharap boleh, tapi gak usah kebangetan, karena kalau jawabannya beda, ntar marah trus ninggalin Tuhan, trus baper bilang Tuhan gak sayang aku lagi. Hehe…

Tuhan sayang kita kok. Makanya yang dikasih ke kita gak mujizat tok. Tapi masalah juga. Ada gak orang tua yang kasi anaknya permen tok. Enak, tapi ga bergizi. Gak ada. Orang tua mau anaknya sehat makanya gak dikasi permen. Justru semakin dikasi masalah otot rohani kita jadi terlatih kan. Justru saat ada masalah bawaannya ngadu terus ke Tuhan kan. Coba kalo adem ayem, lupa dah. Jadi kesimpulan aku mujizat tuh bukan berarti dapet yang enak-enak tok, yang doanya dijawab sesuai mau kita, tapi masalah pun bisa jadi mujizat yang membuat kita kembali sama Tuhan, Siap bilang “Haleluya, aku punya masalah”?? God bless..

 

 

 

Ayo..Sekolah..

Udah masuk bulan April waktunya cari sekolah buat Catherine yang sebentar lagi masuk TK. Sebenarnya ada sedikit rasa tidak puas karena aku pengennya menghomeschoolingkan Catherine tetapi ide ini ditolak ayahnya. Sering kami berdiskusi, pun aku sudah mencoba menjelaskan tentang bagaimana HS dan legalitasnya, bagaimana cara belajarnya. Tetapi masih belum mampu menumbangkan argumentasinya tentang realita yang memang terjadi di negara ini, kita masih ijazah oriented. Walaupun telah terjadi inflasi  pendidikan dimana ijazah S1 hampir tidak ada nilainya. Kita punya ribuan bahkan jutaan orang berijazah S1 yang tidak memiliki pekerjaan. Tapi, sebaliknya bila tidak memiliki ijazah ya tidak bisa kerja walaupun punya ketrampilan.

I just listened seminar singkat Sir Ken Robinson di http://www.TED.com. Yang menjadikannya ironi adalah apa yang beliau sampaikan walaupun dengan nada bercanda, tapi itulah kenyataan hari ini. Ada cerita, sewaktu bekerja dulu ada rekan kerja yang anaknya sudah di kelas 2SD mengatakan pada saya untuk segera mencari TK kalau ingin masuk TK favorit dan itu di bulan Desember! Untuk masuk TK yang favorit saja harus daftar setengah tahun sebelumnya sebelum kehabisan kuota dan akhirnya harus masuk gelombang ke-sekian yang biaya masuknya lebih mahal sekian juta. Selain itu calon siswa diminta mengikuti serangkaian tes mulai dari tes mewarnai, tes kemampuan berbahasa, interview dll. Betapa berbedanya jaman dulu dan sekarang. Masuk TK saja sudah seperti mau melamar pekerjaan. “Ow..jadi kamu bisanya apa? Abjad sudah hafal? Berhitung sudah bisa sampai berapa? Kamu sudah mengerjakan apa saja selama 6 bulan terakhir?” Lucu sih, tapi ada sekolah seperti ini. Anak diseleksi, diukur kemampuannya sudah sejauh mana. Kalau syarat masuk TK seperti itu mending sekolah di rumah saja. Memangnya anak umur 3tahun kerjaannya menghafal abjad? Tugas mereka bermain. Titik. Di ceramah singkatnya beliau juga mengatakan bahwa pendidikan bukanlah proses manufaktur. Inputnya calon siswa kemudian ada SOP yang dijalankan dalam prosesnya sehingga diharapkan hasil yang seragam, semua harus lulus dengan NEM atau GPA sekian. “Fast food” education. Dimana semuanya terstandarisasi.  Menurut beliau, pendidikan bukan sebuah proses mekanik tapi proses organik yang di dalamnya ada pertumbuhan. Kita tidak tahu masa depan anak-anak kita akan jadi apa kelak. Kita pun juga tidak tahu jaman seperti apa yang akan anak-anak kita hadapi 10 bahkan 20 tahun yang akan datang. Kita hanya bisa seperti seorang petani, yang menyediakan lingkungan yang baik yang mendukung benih ini tumbuh dan berkembang sesuai dengan bakat dan panggilan jiwanya masing-masing.

Aku lalu teringat, di Alkitab ide ini bukanlah barang baru. Diajarkan bahkan dari sekolah Minggu bahwa kita harus bertumbuh dan berbuah. Firman Tuhan seperti benih yang ditabur oleh penabur benih. Sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu diinjak orang dan burung-burung di udara memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, dan setelah tumbuh ia menjadi kering karena tidak mendapat air. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, dan semak itu tumbuh bersama-sama dan menghimpitnya sampai mati. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, dan setelah tumbuh berbuah seratus kali lipat. (Lukas 8:4-8). Tugas kita, sebagai orang tua juga guru di sekolah menyiapkan tanah yang baik supaya benih yang masih muda ini bisa tumbuh dan berbuah bukan hanya tiga puluh atau enam puluh kali lipat bahkan hingga seratus kali lipat.

Mungkin aku belum mampu untuk homeschooling tapi mencari sekolah dengan guru yang punya hati untuk melayani dan kurikulum yang tidak membebani juga bukan hal yang tidak mungkin. Tidak menjadi orang tua yang ranking oriented. Hm..ini juga yang jadi concernku. Sekarang, di dalam kelas minimal ada 20 orang siswa, yang berhasil berapa? Cuma 1 kalau dirangking. Sisanya gagal. Jadi sekolah bukan mencetak orang sukses tapi orang gagal. Lah lebih banyak yang gagal daripada yang berhasil. Padahal kalau mau dilihat prosesnya ada anak yang berhasil meningkatkan nilai IPA-nya dari 5 ke 6 tapi tidak mendapat apresiasi. Ada anak yang berani bermain musik di depan teman-temannya tapi tidak dinilai di rapot. Memang sekarang “katanya” sudah tidak pakai ranking lagi, tapi tetap saja nilai KKM (kriteria ketuntasan minimal) jadi standart yang harus dipenuhi. Pertumbuhan seseorang tidak bisa dinilai dengan angka. Bayi ada yang mulai jalan di umur satu tahun ada yang lebih. Apa kita bisa bilang bayi-bayi ini lambat menerima pelajaran berjalan? Aku sudah punya dua anak yang perkembangannya sangat berbeda. Apa aku bisa bilang yang kakak lebih pintar dari adiknya? Mereka  berbeda dengan semua keunikan yang Tuhan sudah taruh di dalam jiwanya. Semua ada masanya. Tidak perlu digagas supaya cepat bisa ini dan itu.

Bulan Juli nanti Catherine akan masuk TK. Sempat terpikir untuk memasukkan dia di TK swasta yang lebih “mahal” dengan alasan pendidikan agamanya dapet. Padahal mungkin karena gengsi aja kalau anak sekolah di tempat favorit. Tapi dengan pertimbangan lokasi yang dekat dengan rumah, aku akhirnya memasukkan Catherine ke TK ini. TK Dharwa Wanita Bedali. Kenapa gak ke sekolah Kristen? Selain pertimbangan lokasi, aku pikir keberagaman bagus untuk memupuk rasa toleransi dimana ini menjadi barang langka di negeri ini saat ini. Ini juga membuat aku lebih bertanggung jawab atas pendidikan agamanya, tidak hanya mengandalkan sekolah. Aku dan suami juga sepakat tentang tidak perlunya kurikulum yang membebani seperti baca tulis hitung yang biasanya jadi nilai jual di TK swasta. Selama anaknya menikmati prosesnya bersekolah, di situlah tempat yang tepat menurutku.

Prince Ea on his video says “.. .while students maybe 20% of our population, They are 100% of our future”

I Agree..do you?

 

 

Tentang Dubai, Kafir, dan Donat Goreng

Pertengahan bulan Desember kemarin, saya dan tujuh teman-teman media dari Indonesia diundang untuk datang ke Dubai oleh Department of Trade and Commerce Marketing – Dubai Tourism. Selama enam…

Source: Tentang Dubai, Kafir, dan Donat Goreng

do You know?

Lately i’ve been thinking.. Banyak hal dalam hidup ini yang tidak berjalan sesuai rencana. Saat baru menikah rencana punya anak eh baru dikasih beberapa tahun kemudian. Leaving town ke kota ini itu dengan segudang rencana. Tapi rencana yang sudah terbayangkan akhirnya harus terhempas saat berhadapan dengan kenyataan.

Sempat aku melayangkan protesku padaNya. Selama ini aku percaya Dia sedang menyiapkan jalan terbaik bagiku. Semua akan indah pada waktuNya. Tapi apa yang aku hadapi saat ini bertolak belakang dengan keindahan yang kuimpikan akan kuterima dariNya. 
Aku bertanya padaNya..apakah Engkau yang disana pernah mengalami apa yang kualami? Do You know what is like to be failed? To be unanswered? Being alone, super tired and every doors seem closed to You? 

Aku, yang rencanaku dan rencanaNya sejauh langit dari bumi berani mempertanyakan kenapa rencanaku tidak berjalan seperti yang aku mau. Aku maunya seperti gini gini lo Tuhan. Tolong wujudkan ya pake kantong ajaib. Begitu pikirku. Aku mau yang serba instan. Right here right now.

But today He answered. He knows. He knows what is like to be left alone. Super tired but no one seems to care. Even His own diciples. He knows at the cross. Aku marah karena ketidaknyamanan kecil yang aku alami. Sedangkan Dia, dicambuk, diludahi, dicemooh, murid-muridNya meninggalkan Dia bahkan menyangkalNya. Dia sudah tahu itu akan terjadi.

But, after His ressurection He found them back. Ada yang kembali ke pekerjaannya yang lama, nelayan. Ada yang tidak percaya berita kebangkitanNya sebelum melihat sendiri bekas lukaNya. Tapi semua muridNya dikumpulkanNya kembali dan diutus untuk menyebarkan berita keselamatan, kabar baik ke seluruh penjuru bumi.

Disinilah aku sekarang. Menghilang dariNya, protes karena ketidak percayaanku padaNya karena pada kenyataannya mengikut Tuhan tidak seindah berjalan di taman firdaus. 
Dulu semua indah. Saat aku baru mengenal Dia. Semua indah. Semua mudah. Tanya apa aja selalu ada jawaban. Jawabannya ada di buku. Persis anak SD. Mau pelayanan semangat dan selalu ada jalan yang mudah. Sekarang di saat persoalan bertambah rumit jawabannya sudah tidak ada lagi di buku. Buku hanya meninggalkan “cara” mengerjakannya yang semakin lama semakin tidak aku pahami. Tapi praise Him, tidak pernah sekalipun Ia meninggalkan dan menyerah padaku. He found me back. Lewat lagu. Sebuah lagu dengan lirik yang menunjukkan padaku masih ada harapan untuk mereka yang tersesat. 

Kemudian aku tersadar. Thats why Dia mengutus murid-muridNya untuk memberitakan Kabar Baik. Bukankah itu Amanat Agung yang “katanya” selama ini kita pegang. Lewat murid-muridNya orang mengenal Yesus. Lewat pelayanan orang lain kita bisa percaya dan menerima Dia. Bagaimana orang bisa mengenal Yesus kalau tidak ada orang yang memberitahukan tentang Yesus pada dia?  Kita sekarang yang mengaku muridNya bukankah kita punya tugas yang sama? Kita punya tugas membawa mereka yang belum mengenal Tuhan untuk dapat mengenal Tuhan. Mirip papan penunjuk jalan itu lo. Keberadaannya penting ga penting. Buat yang sering lewat tu papan dilirik aja nggak. Tapi buat yang sedang tersesat, itu papan berguna sekali supaya orang yang tersesat itu bisa pulang. Tuhan bisa pakai apapun supaya orang bisa kenal siapa Dia. Semak duri yang terbakar, badai, laut terbelah, tapi Dia memilih kita. How amazing is that. Manusia rapuh yang punya kehendak bebas, bisa memutuskan mau ngapain aja. Esuk  dele sore tempe. Plin plan. Sekarang tergantung kita mau dipakai Tuhan untuk memberitakan Kabar Baik atau tidak. Aku mau. Kamu??

Previous Older Entries

Daisypath Anniversary tickers
Lilypie Second Birthday tickers
%d bloggers like this: