Happy Birthday D’Rex

pp41.jpg

Thank you for being my true best friend, the one I believe in and the one who always believe in me. I’m not a perfect wife but keep fighting to be a better one each day. I don’t know what future holds but as long as we have each other I know it’ll be awesome. Happy birthday D’Rex, I love you.

 

Stop It Already

Aku masih berduka. Kemarin diputuskan Ahok bersalah dan divonis 2 tahun penjara. Gubernur bersih dan jujur walaupun cara bicaranya ceplas ceplos. Tidak ada maksud menistakan agama tertentu. Pun beliau telah meminta maaf secara terbuka. Tapi tampaknya luka yang beliau torehkan pada kelompok tertentu begitu dalamnya sehingga tak termaafkan.

Aku berusaha memahami pikiran teman-temanku yang merasa agamanya telah dinistakan. Aku sangat bisa mengerti kemarahan mereka. Kita yang mengaku beragama perlu untuk jadi radikal. Kalau tidak buat apa kita memeluk agama tertentu. Itu pasti karena kita meyakini agama yang kita anut paling benar, kalau tidak buat apa kita meyakini satu agama tertentu dan mati-matian membelanya.  Tapi kebencian tidak akan menyelesaikan apapun. Kebencian hanya melahirkan permusuhan. Sepertinya kita kurang belajar dari sejarah.

Entah bagaimana caraku meyakinkan kalian bahwa aku tetap mengasihimu sebagai seorang sahabat, bahkan saudara. Tapi aku telah terlalu letih membaca pesan kebencian di media sosial. Kata-kata provokatif yang dilontarkan dari kedua belah pihak. Masing-masing merasa sedang berada di pihak yang benar. Tak henti air mataku mengalir saat menuliskan ini. Aku mempertanyakan apa yang sebenarnya sedang kita perdebatkan? Ataukah ini usaha untuk mempertahankan ego yang sedang terluka. Seandainya ini hanya agama tanpa  kata -ku di belakangnya mungkin tidak akan ada yang naik pitam. Tapi ketika “agama+aku” yang diusik, seketika memuncaklah semua kemarahan dalam diri. Semua argumen telah disampaikan untuk membuktikan masing-masing pihaklah yang paling benar. Tapi tanpa ada kasih di hati, hilanglah kebenaran yang sedang kita dengungkan.

1 Korintus 13:1 Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.

Saat jaman Yesus melayani-pun Ia dibenci banyak orang, imam-imam dan pemuka agama saat itu merasa terancam dengan kehadiranNya. Semua berteriak-teriak kepada Mahkamah Agama untuk menyalibkan Dia tanpa menemukan satu kesalahan-pun atas Yesus. Tapi di atas salib, dengan menahan rasa sakit yang begitu dahsyat Ia tetap menghasihi mereka yang membencinya dan berkata “Ya Bapa, ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”

I’m not a good guy..aku orang berdosa, dan bahkan lebih daripada mereka yang berteriak-teriak “Salibkan Dia, salibkan Dia” tapi kasihNya mengubahkan hidupku. Saat kasihNya membukakan mataku dan melihat betapa berdosanya aku, tidak ada perasaan “lebih baik” dari orang lain sehingga aku merasa layak jadi hakim atas pribadi seseorang. Saat ada di tempat terendah, tidak akan ada kesombongan untuk berdiri lebih tinggi dari orang lain. You can’t give what you never had. Kita tidak bisa mengasihi kalau belum pernah menerima kasih. Kita tidak akan bisa mengampuni kalau belum pernah diampuni. Sudahkah kau menerima kasihNya?

Jesus loves you, so do I.

Mujizat

Mumpung lagi ada waktu untuk nulis. Aku pengen nulis lagi. Bingung mikir mau nulis soal apa. Aku lalu teringat saat ikut persekutuan dekat rumah. Dan ini memang yang aku rasakan sendiri. Sering orang (Kristen, esp) berdoa berharap akan terjadi mujizat dalam kehidupan mereka, termasuk aku tentunya. Ada yang berdoa minta mujizat kesembuhan (ini yang paling sering aku dengar), ada yang minta pekerjaan, jodoh, usaha lancar, dan berkat-berkat lain (yang biasanya berupa materi). Dan ketika ada yang bersaksi mereka mendapatkan mujizat itu semua jemaat bertepuk tangan dan bilang “haleluya”.

Aku sendiri tidak menyangkal mujizat bisa terjadi karena aku dengar sendiri dari orang yang mengalaminya. Sakit stadium berapa bisa sembuh total tanpa operasi. Ada yang bisnisnya ambruk Tuhan pulihkan bahkan melebihi yang sebelumnya. Semua orang punya masalah. Semua orang berdoa minta mujizat. Saat mujizat didatangkan sesuai dengan maunya kita seperti dikasih kesembuhan, pekerjaan yang kita harapkan, bisnis sukses, siapa yang tidak bisa bersyukur? Gampang sekali mengucapkan “Haleluya, doaku dijawab Tuhan”. Seandainya, setelah bergumul dengan masalah, bukannya mujizat yang datang, tetapi masalah malah bertambah berat, masihkah dengan sukacita kita bilang “Haleluya, thank you Jesus”??

That is why aku agak ragu kalau disuruh kesaksian. Aku gak pernah mengalami mujizat yang segitunya sampe sakit bisa sembuh tanpa dokter dll, aku ga pernah ngalamin masalah yang bikin mau bunuh diri lalu diselamatkan. Jadi apa yang disaksikan? Bersyukur untuk setiap hari yang aku jalani, tentu. Mengetahui bahwa aku bangun pagi dengan sehat itu juga mujizat yang aku terima setiap hari yang juga aku syukuri. Lalu apa istimewanya kalau semua juga mengalami yang aku alami? Semua juga bersyukur atas hal yang aku syukuri. Mungkin ini juga makanya kalau ada hamba Tuhan mempersilahkan jemaat untuk kesaksian paling hanya satu dua orang yang maju. Dan, kesaksiannya ya seputar yang sudah aku sebutin tadi. Bukannya ga mau kesaksian tapi kalau kesaksiannya itu-itu aja ya kesan yang aku dapat selfish banget. Semua ceritanya tentang “aku”. Kesembuhanku, kesuksesanku, dan -ku yang lain. Gak pernah denger Haleluya, aku dapat masalah. Ya, jujur aku jadi minder dong. Aku ini juga sedang “bermasalah”. Mau kesaksian, orang lagi punya masalah, belum dapat mujizat (yang sesuai sama versiku), ya apa yang mau disaksikan. Nanti gak membawa berkat. Ini kata orang yang duduk di sebelahku saat aku mencoba men-share pergumulan aku di persekutuan yang aku datangi. Itupun karena dipaksa sharing karena uda lama ga nongol. Aku bukan mau ngeluh karena bermasalah, tapi malah bersyukur bahwa dalam menjalani masalah pun aku tetap dipelihara Tuhan. Tapi kayaknya ada yang berpikir yang namanya kesaksian tuh harus “wow…keren” harus mujizat yang “besar” yang layak diceritakan di publik. Minimal kesaksian tuh kayak “saya sudah kanker stadium IV dokter sudah bilang umur saya tinggal satu tahun lagi, tetapi puji Tuhan, Tuhan kasih saya mujizat, Sekarang kanker saya hilang tanpa menjalani operasi dan kemotrapi. Terima kasih untuk pendeta XYZ yang sudah mendukung saya dalam doa” atau “rumah tangga saya di ambang perceraian tapi Tuhan memberi mujizat terjadi pemulihan dalam keluarga saya, dst..dst..

Aku jadi merenung..Mujizat itu apa sebenarnya? Apakah semua yang menurut versi kita baik adalah mujizat dari Tuhan? Mostly menjawab “iya” pastinya. Tapi dari pengalamanku pribadi, apa yang kita anggap mujizat dari Tuhan belum tentu lho datangnya dari Tuhan. Pun Jesus gak pernah menjanjikan orang Kristen akan hidup “bahagia ever after” yang Ia janjikan kehidupan kekal, tapi untuk memperolehnya kita harus pikul salib, ikut Tuhan. Ikut Tuhan emang gampang? Banyak tekanan lho. Tuhan aja dicaci, dihina, dianiaya, jadi muridNya ya gak mungkin dong kita dapat beda perlakuan dari gurunya. Gak bisa naik pangkat karena Kristen? banyak contohnya. Salah satunya ada di keluargaku sendiri. Kalau Tuhan mengijinkan mujizat terjadi dalam hidup kita, bersyukur sekali. Tapi kalaupun tidak atau belum ya tetap bersyukur. Lah trus kalau doanya ga dijawab-jawab Tuhan sesuai mau kita berarti ga bisa kesaksian dong?? Beberapa bulan lalu aku sempet kerja, pas awal-awal kerja aku merasa “wow..aku dapet mujizat nih bisa kerja lagi, terima kasih Tuhan” pasti gitu kan reaksi kita saat merasa ketiban mujizat. Tapi, itu cuma bertahan 4bulan karena akhirnya balik Lawang lagi karena alasan keluarga. Ya, karena aku kerja di Surabaya dan suami tetap di Lawang. Capek bolak balik Surabaya-Lawang tiap weekend. Ga capek kalau ga bawa anak-anak. Masalahnya naik kereta dengan dua anak yang ga bisa diam itu “sesuatuh” banget. Saat aku menganggap bahwa bekerja di Surabaya adalah mujizat dari Tuhan, aku protes dong saat “mujizat” diambil kembali, alias aku resign lagi. Tapi aku disadarkan, yang bilang itu (pekerjaan) mujizat dari Tuhan itu siapa? kan aku sendiri yang mengasumsikannya begitu. Kalaupun memang dari Tuhan dan sudah jadi rencana Tuhan kenapa aku protes saat itu diambil kembali. Toh Tuhan yang memberi Dia juga yang berhak mengambil. Dan ini berlaku untuk semua hal, baik itu kesehatan, harta benda yang kita kira punya kita, jadi jangan marah-marah saat diminta balik dan menganggapnya suatu kehilangan. You can’t lose what you never had. Pun hidup ini saat diambil kembali kita tidak punya hak untuk protes.

Mujizat tidak selalu membawa orang ke dalam pertobatan. Berapa banyak orang yang melihat dan mengalami mujizat Yesus? dan berapa banyak orang yang akhirnya mengikuti Dia. Ada sepuluh orang kusta yang mengalami mujizat kesembuhan saat dalam perjalanannya menuju Imam besar. Berapa orang yang begitu sadar dia sembuh lalu kembali mencari Yesus untuk berterima kasih? Hanya SATU orang. Kemana yang Sembilan orang lainnya?? Mengalami mujizat ternyata tidak serta merta membuat orang berbalik pada Yesus. Bukannya aku tidak percaya mujizat atau tidak mengharapkan mujizat, tapi sekarang aku sadar aku hanya bisa berserah. Karena sebenarnya yang berkuasa atas hidup ini bukan aku tapi Dia. Aku mau tetap bersyukur karena aku tahu apapun yang terjadi atas seijin Tuhan dan dalam rencana Tuhan.

Apa karena kita ini malas, gak mau menanggung kesusahan makanya banyak orang Kristen yang mujizat oriented? Ada KKR di sana, mujizat pasti terjadi, kita ikut-ikutan pergi. Atau kalau didoakan hamba Tuhan XYZ ini pasti mujizat terjadi. Apa kita ini generasi yang gak mau susah ya? Maunya didoakan sekali langsung “cling” terjadi sesuai kehendak kita. Tuhan uda kayak ibu perinya Cinderella. Tempat minta mujizat. Berharap boleh, tapi gak usah kebangetan, karena kalau jawabannya beda, ntar marah trus ninggalin Tuhan, trus baper bilang Tuhan gak sayang aku lagi. Hehe…

Tuhan sayang kita kok. Makanya yang dikasih ke kita gak mujizat tok. Tapi masalah juga. Ada gak orang tua yang kasi anaknya permen tok. Enak, tapi ga bergizi. Gak ada. Orang tua mau anaknya sehat makanya gak dikasi permen. Justru semakin dikasi masalah otot rohani kita jadi terlatih kan. Justru saat ada masalah bawaannya ngadu terus ke Tuhan kan. Coba kalo adem ayem, lupa dah. Jadi kesimpulan aku mujizat tuh bukan berarti dapet yang enak-enak tok, yang doanya dijawab sesuai mau kita, tapi masalah pun bisa jadi mujizat yang membuat kita kembali sama Tuhan, Siap bilang “Haleluya, aku punya masalah”?? God bless..

 

 

 

Ayo..Sekolah..

Udah masuk bulan April waktunya cari sekolah buat Catherine yang sebentar lagi masuk TK. Sebenarnya ada sedikit rasa tidak puas karena aku pengennya menghomeschoolingkan Catherine tetapi ide ini ditolak ayahnya. Sering kami berdiskusi, pun aku sudah mencoba menjelaskan tentang bagaimana HS dan legalitasnya, bagaimana cara belajarnya. Tetapi masih belum mampu menumbangkan argumentasinya tentang realita yang memang terjadi di negara ini, kita masih ijazah oriented. Walaupun telah terjadi inflasi  pendidikan dimana ijazah S1 hampir tidak ada nilainya. Kita punya ribuan bahkan jutaan orang berijazah S1 yang tidak memiliki pekerjaan. Tapi, sebaliknya bila tidak memiliki ijazah ya tidak bisa kerja walaupun punya ketrampilan.

I just listened seminar singkat Sir Ken Robinson di http://www.TED.com. Yang menjadikannya ironi adalah apa yang beliau sampaikan walaupun dengan nada bercanda, tapi itulah kenyataan hari ini. Ada cerita, sewaktu bekerja dulu ada rekan kerja yang anaknya sudah di kelas 2SD mengatakan pada saya untuk segera mencari TK kalau ingin masuk TK favorit dan itu di bulan Desember! Untuk masuk TK yang favorit saja harus daftar setengah tahun sebelumnya sebelum kehabisan kuota dan akhirnya harus masuk gelombang ke-sekian yang biaya masuknya lebih mahal sekian juta. Selain itu calon siswa diminta mengikuti serangkaian tes mulai dari tes mewarnai, tes kemampuan berbahasa, interview dll. Betapa berbedanya jaman dulu dan sekarang. Masuk TK saja sudah seperti mau melamar pekerjaan. “Ow..jadi kamu bisanya apa? Abjad sudah hafal? Berhitung sudah bisa sampai berapa? Kamu sudah mengerjakan apa saja selama 6 bulan terakhir?” Lucu sih, tapi ada sekolah seperti ini. Anak diseleksi, diukur kemampuannya sudah sejauh mana. Kalau syarat masuk TK seperti itu mending sekolah di rumah saja. Memangnya anak umur 3tahun kerjaannya menghafal abjad? Tugas mereka bermain. Titik. Di ceramah singkatnya beliau juga mengatakan bahwa pendidikan bukanlah proses manufaktur. Inputnya calon siswa kemudian ada SOP yang dijalankan dalam prosesnya sehingga diharapkan hasil yang seragam, semua harus lulus dengan NEM atau GPA sekian. “Fast food” education. Dimana semuanya terstandarisasi.  Menurut beliau, pendidikan bukan sebuah proses mekanik tapi proses organik yang di dalamnya ada pertumbuhan. Kita tidak tahu masa depan anak-anak kita akan jadi apa kelak. Kita pun juga tidak tahu jaman seperti apa yang akan anak-anak kita hadapi 10 bahkan 20 tahun yang akan datang. Kita hanya bisa seperti seorang petani, yang menyediakan lingkungan yang baik yang mendukung benih ini tumbuh dan berkembang sesuai dengan bakat dan panggilan jiwanya masing-masing.

Aku lalu teringat, di Alkitab ide ini bukanlah barang baru. Diajarkan bahkan dari sekolah Minggu bahwa kita harus bertumbuh dan berbuah. Firman Tuhan seperti benih yang ditabur oleh penabur benih. Sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu diinjak orang dan burung-burung di udara memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, dan setelah tumbuh ia menjadi kering karena tidak mendapat air. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, dan semak itu tumbuh bersama-sama dan menghimpitnya sampai mati. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, dan setelah tumbuh berbuah seratus kali lipat. (Lukas 8:4-8). Tugas kita, sebagai orang tua juga guru di sekolah menyiapkan tanah yang baik supaya benih yang masih muda ini bisa tumbuh dan berbuah bukan hanya tiga puluh atau enam puluh kali lipat bahkan hingga seratus kali lipat.

Mungkin aku belum mampu untuk homeschooling tapi mencari sekolah dengan guru yang punya hati untuk melayani dan kurikulum yang tidak membebani juga bukan hal yang tidak mungkin. Tidak menjadi orang tua yang ranking oriented. Hm..ini juga yang jadi concernku. Sekarang, di dalam kelas minimal ada 20 orang siswa, yang berhasil berapa? Cuma 1 kalau dirangking. Sisanya gagal. Jadi sekolah bukan mencetak orang sukses tapi orang gagal. Lah lebih banyak yang gagal daripada yang berhasil. Padahal kalau mau dilihat prosesnya ada anak yang berhasil meningkatkan nilai IPA-nya dari 5 ke 6 tapi tidak mendapat apresiasi. Ada anak yang berani bermain musik di depan teman-temannya tapi tidak dinilai di rapot. Memang sekarang “katanya” sudah tidak pakai ranking lagi, tapi tetap saja nilai KKM (kriteria ketuntasan minimal) jadi standart yang harus dipenuhi. Pertumbuhan seseorang tidak bisa dinilai dengan angka. Bayi ada yang mulai jalan di umur satu tahun ada yang lebih. Apa kita bisa bilang bayi-bayi ini lambat menerima pelajaran berjalan? Aku sudah punya dua anak yang perkembangannya sangat berbeda. Apa aku bisa bilang yang kakak lebih pintar dari adiknya? Mereka  berbeda dengan semua keunikan yang Tuhan sudah taruh di dalam jiwanya. Semua ada masanya. Tidak perlu digagas supaya cepat bisa ini dan itu.

Bulan Juli nanti Catherine akan masuk TK. Sempat terpikir untuk memasukkan dia di TK swasta yang lebih “mahal” dengan alasan pendidikan agamanya dapet. Padahal mungkin karena gengsi aja kalau anak sekolah di tempat favorit. Tapi dengan pertimbangan lokasi yang dekat dengan rumah, aku akhirnya memasukkan Catherine ke TK ini. TK Dharwa Wanita Bedali. Kenapa gak ke sekolah Kristen? Selain pertimbangan lokasi, aku pikir keberagaman bagus untuk memupuk rasa toleransi dimana ini menjadi barang langka di negeri ini saat ini. Ini juga membuat aku lebih bertanggung jawab atas pendidikan agamanya, tidak hanya mengandalkan sekolah. Aku dan suami juga sepakat tentang tidak perlunya kurikulum yang membebani seperti baca tulis hitung yang biasanya jadi nilai jual di TK swasta. Selama anaknya menikmati prosesnya bersekolah, di situlah tempat yang tepat menurutku.

Prince Ea on his video says “.. .while students maybe 20% of our population, They are 100% of our future”

I Agree..do you?

 

 

Tentang Dubai, Kafir, dan Donat Goreng

Pertengahan bulan Desember kemarin, saya dan tujuh teman-teman media dari Indonesia diundang untuk datang ke Dubai oleh Department of Trade and Commerce Marketing – Dubai Tourism. Selama enam…

Source: Tentang Dubai, Kafir, dan Donat Goreng

do You know?

Lately i’ve been thinking.. Banyak hal dalam hidup ini yang tidak berjalan sesuai rencana. Saat baru menikah rencana punya anak eh baru dikasih beberapa tahun kemudian. Leaving town ke kota ini itu dengan segudang rencana. Tapi rencana yang sudah terbayangkan akhirnya harus terhempas saat berhadapan dengan kenyataan.

Sempat aku melayangkan protesku padaNya. Selama ini aku percaya Dia sedang menyiapkan jalan terbaik bagiku. Semua akan indah pada waktuNya. Tapi apa yang aku hadapi saat ini bertolak belakang dengan keindahan yang kuimpikan akan kuterima dariNya. 
Aku bertanya padaNya..apakah Engkau yang disana pernah mengalami apa yang kualami? Do You know what is like to be failed? To be unanswered? Being alone, super tired and every doors seem closed to You? 

Aku, yang rencanaku dan rencanaNya sejauh langit dari bumi berani mempertanyakan kenapa rencanaku tidak berjalan seperti yang aku mau. Aku maunya seperti gini gini lo Tuhan. Tolong wujudkan ya pake kantong ajaib. Begitu pikirku. Aku mau yang serba instan. Right here right now.

But today He answered. He knows. He knows what is like to be left alone. Super tired but no one seems to care. Even His own diciples. He knows at the cross. Aku marah karena ketidaknyamanan kecil yang aku alami. Sedangkan Dia, dicambuk, diludahi, dicemooh, murid-muridNya meninggalkan Dia bahkan menyangkalNya. Dia sudah tahu itu akan terjadi.

But, after His ressurection He found them back. Ada yang kembali ke pekerjaannya yang lama, nelayan. Ada yang tidak percaya berita kebangkitanNya sebelum melihat sendiri bekas lukaNya. Tapi semua muridNya dikumpulkanNya kembali dan diutus untuk menyebarkan berita keselamatan, kabar baik ke seluruh penjuru bumi.

Disinilah aku sekarang. Menghilang dariNya, protes karena ketidak percayaanku padaNya karena pada kenyataannya mengikut Tuhan tidak seindah berjalan di taman firdaus. 
Dulu semua indah. Saat aku baru mengenal Dia. Semua indah. Semua mudah. Tanya apa aja selalu ada jawaban. Jawabannya ada di buku. Persis anak SD. Mau pelayanan semangat dan selalu ada jalan yang mudah. Sekarang di saat persoalan bertambah rumit jawabannya sudah tidak ada lagi di buku. Buku hanya meninggalkan “cara” mengerjakannya yang semakin lama semakin tidak aku pahami. Tapi praise Him, tidak pernah sekalipun Ia meninggalkan dan menyerah padaku. He found me back. Lewat lagu. Sebuah lagu dengan lirik yang menunjukkan padaku masih ada harapan untuk mereka yang tersesat. 

Kemudian aku tersadar. Thats why Dia mengutus murid-muridNya untuk memberitakan Kabar Baik. Bukankah itu Amanat Agung yang “katanya” selama ini kita pegang. Lewat murid-muridNya orang mengenal Yesus. Lewat pelayanan orang lain kita bisa percaya dan menerima Dia. Bagaimana orang bisa mengenal Yesus kalau tidak ada orang yang memberitahukan tentang Yesus pada dia?  Kita sekarang yang mengaku muridNya bukankah kita punya tugas yang sama? Kita punya tugas membawa mereka yang belum mengenal Tuhan untuk dapat mengenal Tuhan. Mirip papan penunjuk jalan itu lo. Keberadaannya penting ga penting. Buat yang sering lewat tu papan dilirik aja nggak. Tapi buat yang sedang tersesat, itu papan berguna sekali supaya orang yang tersesat itu bisa pulang. Tuhan bisa pakai apapun supaya orang bisa kenal siapa Dia. Semak duri yang terbakar, badai, laut terbelah, tapi Dia memilih kita. How amazing is that. Manusia rapuh yang punya kehendak bebas, bisa memutuskan mau ngapain aja. Esuk  dele sore tempe. Plin plan. Sekarang tergantung kita mau dipakai Tuhan untuk memberitakan Kabar Baik atau tidak. Aku mau. Kamu??

A little Voice of Love

Lama aku jadi silet reader di fb yang semakin panas dengan berita penistaan agama. Ada yang pro dan kontra dan mereka yang berdebat untuk jadi yang paling benar. Aku? Aku ga pro/kontra. Aku ga akan berdebat karena siapa to aku ini. Hanya suara kecil di tengah riuhnya teriakan orang-orang.
Buat teman-teman semua aku bisa mengerti motivasi kalian. Hukum harus ditegakkan. But, I bet you never heard this story.

Ada seorang raja menetapkan peraturan. DILARANG MENCURI. Hukumannya cambuk 100x. Keesokan harinya didapati ternyata anaknya telah mencuri sepotong roti. Apakah hukum harus tetap ditegakkan? Tentu saja. Apakah sang raja akan membiarkan anaknya dicambuk? Orang tua mana yang tega. Tapi karena cintanya pada anaknya, sang raja sendirilah yang menggantikan anaknya menerima hukuman cambuk.
Ya, cinta dan hanya karena cinta. Seperti aku yang berdosa ini tapi karena cintaNya padaku Dia telah menggantikan aku menerima hukuman atas dosaku di kayu salib. Setelah menerima anugerah sebesar itu masihkah aku mampu berteriak pada saudaraku yang lain KAMU BERDOSA sedang aku ini adalah manusia berdosa.

Hukum akan ditegakkan itu pasti. Tapi siapa yang akan menegakkannya? Tentu yang membuat hukum itu sendiri. Siapakah yang membuat hukum? Manusiakah? Nabikah? Tidak satupun selain Tuhan. 
Last story, ada seorang perempuan kedapatan berzinah. Hukumannya rajam sampai mati. Tapi Yesus berkata “Barangsiapa yang paling sedikit dosanya boleh melempar lebih dulu”. Tahukah kamu apa yang terjadi selanjutnya. Everybody leave. 

Apa Yesus mengijinkan perzinahan? Tidak. Tapi Dia sangat mengasihi para pendosa seperti aku sampai IA harus mengorbankan nyawaNya untuk menebus dosaku. Kita bukan wakil Allah untuk menghakimi sesama manusia, tapi kita rekan sekerja Allah untuk mendemonstrasikan kasihNya kepada sesama. Kita mengasihi karena kita telah menerina kasih. Kita mengampuni karena kita juga sudah diampuni. 
1 Korintus 13:4-7 (TB) Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. 

Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.

Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. 

Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.

Just the Way You Are

Having more than one child makes you see the differences between them. I have two children. My daughter named Catherine and my son Jonathan. Umur mereka hanya terpaut ga sampe 2 tahun. Walaupun lahir dan dibesarkan dalam keluarga yang sama, kepribadian mereka yang berbeda sangat terlihat. Catherine sensitif sedangkan Jonathan lebih cuek. Bisa jadi karena pengaruh gender juga. Catherine lebih pendiam di depan orang asing sedangkan Jonathan bisa langsung “ngajak ngobrol” walaupun yang keluar dari mulutnya baru sekedar bubbling. Catherine hampir selalu pengen ikut kemana saja aku pergi even ke bathroom sekalipun. Sedangkan Jonathan ga terlalu ngurusin aku mau kemana. Hanya saja kalo dia uda ngantuk ato lapar dan mamanya ga datang juga buat memenuhi kebutuhannya baru dia nyariin sambil ngomel-ngomel. Catherine kalau ada yang ga sreg di hatinya diungkapin lewat tangisan tapi kalo Jonathan lebih banyak ngomel dan gestur tubuhnya memperlihatkan itu dengan jelas.

Ah, mereka memang berbeda… Gak hanya secara kepribadian mereka. Sejak di dalam kandungan juga beda banget. Catherine lebih anteng. Pas Jonathan aku kena flu berat berbulan-bulan. Kelahiran mereka pun sangat berbeda. Kelahiran Catherine penuh drama dan air mata. Hampir terlambat disesar membuat dia harus menjalani sembilan hari dirawat dengan tubuh penuh selang infus dan oksigen karena proses lahirnya traumatis. Tubuh biru hampir ga bisa bernafas. Awal masuk RS pun dokter gak bisa memastikan anak ini akan dirawat berapa lama karena last case yang mereka tangani yang mirip dengan keadaan Catherine harus dirawat selama 30hari. Bener-bener tergantung kekuatan anaknya sendiri dan tentu saja kuasa Tuhan. Jadi kalau Catherine “hanya” butuh waktu 9hari buat kami adalah mujizat Tuhan. Banyak doa dicurahkan dari keluarga kami untuk Catherine. Bayi-bayi yang baru lahir biasanya langsung disusui ibunya. Sedangkan anakku dirujuk ke RS lain yang punya fasilitas NICU. Seharusnya aku survey fasilitas ini sebelum memutuskan RS tempat aku akan lahiran bukan cuma kamar rawat inapnya saja yang notabene hanya untuk aku padahal justru fasilitas untuk bayiku yang lebih penting. Jadi Catherine pun tidak mendapat colostrum yang seharusnya sangat dia butuhkan mengingat kondisinya yang lemah. Sangat kontras dengan Jonathan. Yang memang kelahirannya merupakan sesar yang direncanakan. Secara fisik dan mental aku sudah lebih siap. Hari lahirnya pun sangat normal. Tidak ada kejadian yang tidak direncanakan. Setelah pulih dari bius juga bisa langsung nyusuin. Lahir dengan tenang. Walaupun posisinya agak miring dengan satu lilitan plasenta di lehernya bukan masalah besar buat dokter kami yang kedua ini. Hanya 3hari aku sudah boleh pulang dengan Jonathan dalam dekapan.

Aku tidak berniat membanding-bandingkan mana yang lebih baik. Mereka berdua anak kesayanganku dan tidak ada yang lebih baik. Mereka hanya berbeda, itu saja. Dengan  menyadari ini mungkin aku juga harusnya menyadari bahwa kebutuhan mereka pun berbeda. Menjadi seorang ibu yang adil bukan berarti memperlakukan mereka sama, tapi sesuai dengan kebutuhan mereka secara pribadi. Kalau sama Catherine pendekatannya mungkin lebih slow. Kalo sama Jonathan mungkin bisa dikerasin dikit. Kalau Catherine bisa dibujuk dengan dikasi pelukan. Beda sama Jonathan. Bisanya dibujuk pakai makanan, pantesan tambah ndut. La masa jarak umur hampir 2th tapi selisih timbangan cuma 1kg. Catherine kurus banget kayak papanya. Kalo Jonathan ndut kayak mama. Jadi untuk Catherine aku perhatiin banget konsumsi susu UHTnya. Kalo Jonathan mah apa-apa udah dilahap. Susu mama masih cukup koq. Biar gak boros *aslinya pelit sih..*

Aku hanya berharap saat mereka sekolah-pun demikian. Tidak semuanya dipukul rata harus “seragam”. Baju harus seragam, mata pelajaran harus seragam, buku harus seragam, bahkan kaos kaki-pun harus seragam. Eeeiiiyyyyuuhhh…. Aku pengen mereka bertumbuh tanpa beban harus menjadi seperti yang dituntut orang lain. Apalagi tuntutan dunia pendidikan saat ini semakin menekan. Harus lulus UN dengan nilai bagus supaya pamor sekolah tetap bagus. Buat aku yang paling penting mereka mengenal Kebenaran. Kadang melakukan hal yang benar bukanlah mainstream di jaman ini. Wes gak populer. Melakukan hal yang benar justru dicemooh karena hanya milik kaum minoritas. Kata orang jaman ini jaman edan. Berarti orang yang masih waras memang semakin langka.

Akhir-akhir ini banyak isu bullying, pelecehan seksual, narkoba, penculikan, kekerasan. Semua itu didapat dari mana? Ya dari pergaulan di sekolah. Gak semuanya kayak gitu, memang, tapi itu semua bisa terjadi dimana saja dan kapan saja. Aku pengen anakku homeschooling aja biar aman. Tapi menurut drex itu malah melemahkan anak karena dia gak pernah belajar untuk survive. Gak pernah belajar untuk fight *bukan berantem ya* jadi seperti menghilangkan kesusahan yang seharusnya dia alami untuk menjadikannya kuat. Well aku sedang mencari sanggahan untuk ini. Apa iya untuk jadi kuat harus di-bully dulu?? Ini masih jadi perdebatan untuk homeschooling selain legalitasnya. Kalo soal legalitas aku sudah punya jawabannya. Tapi itu pun masih jadi perdebatan kami.

Wah bahasannya koq ngalor ngidul gini. Ya sudahlah. Namanya juga curhatan si otak kanan. Ngelanturnya kemana-mana jadi #gagalfokus. Yang pasti dalam melihat perbedaan mereka aku jadi melihat betapa luar biasanya Tuhan. Gak ada manusia yang persis sama walaupun kita berusaha mengelompokkannya menjadi sanguin, melankolis, koleris atau plegmatis sekalipun atau metode-metode lain untuk melihat karakter seseorang. Ga ada satu orang pun yang sama persis.  Semua dijadikan Tuhan begitu indah dengan keunikannya masing-masing dan perannya masing-masing di dunia ini. Jadi kalau sekarang aku belom kerja-kerja lagi… itu berarti Tuhan masih pengen aku belajar di rumah. Belajar dengan anak-anakku sebagai gurunya. Belum diijinin keluar rumah karena nilai rapornya masih merah. Belom lulus UN-nya Tuhan. Besok dicoba lagi ya. Good luck!! *ngeles mulu’* *kebanyakan ngelantur*

Bosan

“Bosan aku dengan penat dan enyah saja kau pekat”

Karena lagi demam AADC2 aku jadi inget lagu ini. Sebaris sountrack AADC yang terlintas menginspirasi aku untuk menulis blog lagi setelah 3 bulan blog ini aku anggurin begitu saja. Aku sedang bosan.

Aku pikir ini hanya jet lag karena aku baru resign. Masih menyesuaian dengan ritme seorang ibu rumah tangga. But please…its been 8 month and i still feel the same way. Mungkin aku jenuh. I have two babies in two years. Being at home with two demanding babies can be exhausting. Kerjaan di rumah juga seperti air mengalir yang ga ada habisnya. It drains me phisically, mentally and emotionally.

Sometimes i feel guilty to feel this way. Dalam bayangan idealku seorang ibu selalu kuat, ga boleh capek apalagi sakit. Always ready to serve ga peduli secapek apapun ga akan mengeluh. In my opinion, being a stay at home mom is a happily ever after life. Its every woman could ever ask for. Being as close as you can with your family. Serve them everyday. Cook meal they loves. What a beautifull life. 

But, i will tell you the truth. Sometime life doesn’t always as beautifull as you imagine. The truth is i don’t smile to them everytime. Sometime i yell. Sometime i spank them. Sometime i get mad. My children don’t being nice everytime. Sometime they pushed my limit. Sometime they get stubborn. Sometimes they can be hard to controlled. Where is the life i ever dreamt of? Oh God i’m so tired. I can’t even go to the bathroom alone!!

Bagiku ini bukan hanya sekedar jenuh. Jenuh atau bosan bisa hilang dengan jalan-jalan, ketemu orang lain, curhat, belanja atau melakukan hal yang disukai seperti membaca atau mendengarkan musik. Tapi buat aku semua itu hanya penghilang sesaat. Just like a pill. Begitu efeknya berakhir rasa bosan itu kembali datang lagi.

Aku coba untuk merenungkan apa sih sebenarnya yang membuat aku benar-benar jenuh. Apa karena dulu aku aktif bekerja dan sekarang merasa kurang produktif karena ga menghasilkan apa-apa. I’ve done all things from dusk till dawn until i can’t feel my leg but still feel don’t accomplish anything. Useless. Aku merasa seperti ditarik ke semua arah. Anak-anakku menginginkan aku harus selalu ada dalam jarak pandang mereka. Pun drex juga merasa waktuku tersita hanya untuk anak-anak. Harapanku agar punya waktu untuk diri sendiri merupakan suatu kemewahan bagiku. Aku sering tidur larut malam karena hanya saat anak-anakku sudah tidur aku bisa punya waktu untuk sekedar browsing atau buka fb tanpa interupsi. Tapi setelah browsing sana sini tetap saja merasa ada yang kurang. Lalu sampai kapan aku jenuh seperti ini. Perasaan  ini bikin gak nyaman. Hasilnya malah anak-anak yang kena marah karena kegagalanku mengendalikan rasa jenuh yang sudah sampai di titik kultimasi. Atau mungkin aku kurang bersyukur. I’ve been blessed by a wonderfull family, two healty and wonderfull children. Why i still complaining? But, is it wrong to feel tired? I need some rest, alone..can i?

I really need this. First, l need enough sleep. I like to sleep late at night because it just the time i really can enjoy my self. My 1 year old boy is still breastfeed at night too. But, in the morning i have to wake up early to prepare everything. It makes me very tired, over sensitive, and can’t control my emotion.  I have to start sleep sooner and have to start weaning my boy. Oh, where do i start? Second, i need to set up my me time regulary. Could be once a day or once a week. A regular worker get a dayoff on Sunday or Saturday or both. Why a mom couldn’t? They’ve worked 24/7. Even a babysitter should be given a dayoff twice a month or you have to pay her more as a subtitute and its also depends on her willingness to do so. And she’s just babysits don’t do the dishes nor laundry or cook daily meal. My me time i wish for, is quite simple. It could be go out somewhere alone, reading, or just take a nap. Easy to say. But like i said before. After all the effect has gone, the next day i still feel the same way. Thats why i need my quite time with Him. What i really need is Jesus. I need the real strength from Him. I admit that i rarely set a quiet time with Him. No wonder i feel completely lost. I forgot that He already says “Come to me, all you who are weary and burdened, and I will give you rest.”   I need Him to restore me. He’s my only hope after all other things have failed.

I’ve been writing for 3 hour more or less. I feel sleepy since its a 1am now. Hoaaammm…i really need to stop writing and go to sleep RIGHT NOW… See you in the morning. It all will be just fine… Jesus promised.

Mengandalkan Tuhan

Easy to say… I believe what already happened its on His plan. But  in the process i’ve learned to count on Him not other people or even on yourself. I have worked in my latest company for around 3 years before I got a recomendation to be promoted to the higher level. I’ve been thinking to resign at that time. But to be promoted its a big opportunity to me. And my spv supported me also. So, with confidence i took the test. But the result is I didn’t make it. Sad? Absolutely.. but I believe that is happened for a reason. A couple of months later I bring my resignation letter to them and leaving the job I loves. Not because I failed the test but my husband ask me to moved to Lawang with him. I’m not regretting that I failed but because I know that I can do it better. That I didn’t gave a 100% into it. Now, I think to back to work again. And I’ve reminded of this. That day actually I take the test for granted. I don’t well prepared for the upcoming test because I tought I already have support and i’m overconfident that I can pass the test easily because I’ve ever worked on the same test before. That’s why I bring all my children to go with me to Jogja where the test took place, without overthinking that it will make me so tired. We take a car so it takes much longer than a train which is more recomended by my spv. By train, I will need just three and half hour to get to jogja but we need almost 6 hour just to get in the border of Jogja. Not only because of the traffic but it’s also a rainy day along the ride. And after we reached Jogja we tried to find the location where the test will be held. That took more than an hour to find my destination. After that we must drove to my aunt’s house which is about one hour from the location. Finally we arrived at my aunt’s house around 1 am. Sleepy and tired. Have a trip with children is very very exhausting. And getting worse when its time to go to bed because her house is near train track. So every time a train passed I must hear a very loud voice. I can’t sleep until 3 am when I supposed to wake up at 6 am. I woke up at 6am with just 60% of energy left. And now I am just thinking..will it all going differently if I am giving my best? If I don’t take it for granted, learn more and don’t make my self too tired. My test result was bad. I don’t blame anyone but me. I just wish I’ve done it better. If- just if- I take the train, leaving my children for a day don’t make me a bad mother tough, and I could get some rest, will it all be different? Well, I’ll never know now. That’s the big chance I’ve ever waste. Regrets? Absolutely. But whatever happened, I believe He has a plan for me. The good one. Not mine just His. But, it tought me to not too overconfident. If I think I can, I will remember who gave me the strenght.. who gave me the opportunity.. Who gave me the chance.. He who hold all the power, can open and shut the opportunity He gave in a blink of an eye. So now, if I begin to think that I can do it all by myself, I will remember this..
Philippians 2:13 (NKJV)  for it is God who works in you both to will and to do for His good pleasure.
All the glory just for Jesus…

Previous Older Entries

Daisypath Anniversary tickers
Lilypie Second Birthday tickers
%d bloggers like this: