Inside Your Glass

Ini jadi pertanyaanku hari ini. What’s inside your glass? Kata-kata yang seperti apa yang mencerminkan hatimu?

Hal yang mudah ketika keadaan sedang santai, pikiran sedang rileks, akan lebih mudah mengatur kata-kata. Tapi ketika ego tersentuh dan emosi tersulut. Seketika itu jantung mulai memompa darah dengan cepat dan seluruh tubuh pun bergetar dengan hebat. Dengan segala kemarahan yang ada di dalam diri itu, masih mampukah mengendalikan setiap kata yang terucap? Akankah perkataan itu menjadi berkat atau justru menjadi pahit?

 I never say I’m a nice person. For the sake of my sanity, i’d rather not trying to be one. My kindness have one condition. If he talking nicely then i’ll do the same. But if someone talking shit to me, i will put it back to whom it belongs. I don’t save those kind of words.

Advertisements

Six Years Ago

Enam tahun yang lalu anak pertamaku lahir. Some families urge me untuk sesar aja. Alasannya karena itu masih tahun Naga. Jadi kalau lahir sebelum tanggal 14 Februari, maka shionya adalah shio naga. Kalau lewat itu “hanya” shio ular. Well, keluarga besar suami memang masih ada yang percaya shio. Kalau keluarga intinya sih kayaknya enggak. Tapi kalau merayakan tahun baru sih, masih, namanya budaya, walau enggak lagi percaya tahun ini bring lucky or not, masih tetap dirayakan sebagai bagian dari warisan budaya. Shio naga dipercaya membawa hoki. Dulu aku percaya hal-hal seperti ini. Horoskop, shio, garis tangan, hal-hal seperti itu bacaanku sewaktu remaja. Tapi setelah lahir baru aku tidak lagi mempercayai bahwa jalan hidupku ditulis di lembaran koran atau tabloid di pojok paling bawah, oleh orang yang gak aku kenal pula. Jadi aku membiarkan anakku memilih sendiri waktunya untuk bertemu dengan dunia barunya.

Tanggal 22 Februari, pukul 22.43 menit, akhirnya anakku lahir. Walaupun akhirnya kupilih melalui operasi caesar to save both of us. Aku menahan kontraksi yang berlangsung hampir lima jam. Begitu sakitnya sampai aku merasa, aku ga akan mampu melahirkan normal dengan menahan rasa sakit seperti ini. Langkah sesar kuambil sekitar pukul 8 malam, padahal ketuban sudah pecah sejak pukul 5 sore. Saat itu, semua oramg di rumah sakit menyarankan untuk tetap lahiran normal. Hanya satu orang yang tetap mendukung semua keputusanku. My husband. Saat yang lain berpikir ini hanya kasus operasi sesar biasa, tidak dengan suamiku. Dia tahu, ini perkara antara hidup dan mati. Bahkan suster pun dibentaknya karena membuat kami menunggu begitu lama. Tapi kami pun tak sampai berpikir bahwa betapa kondisiku dan bayiku begitu genting. Jam 9 malam dan aku sudah tak tahan lagi. Dokter yang akan mengoperasiku sedang praktek, begitu katanya. Mungkin mereka pikir aku hanya pasien manja, yang ketika tidak lagi kuat menahan rasa sakit dan akhirnya pilihan termudah ya minta dioperasi saja. 

Rasanya waktu berjalan begitu lambat. Ketika akhirnya dokterku datang jam10 malam, aku sudah pasrah. Sebenarnya aku tak takut menghadapi meja operasi. Aku telah berada di meja serupa beberapa kali sebelumnya. Sewaktu patah tulang ketika ikut judo pas SMA. Memasang dan mengambil pen sudah terhitung dua kali operasi, dalam rentang waktu 5 tahun. Sewaktu operasi biopsi di kedua PD ketika terindikasi tumor juga aku harus masuk ruangan yang sama dinginnya hingga tubuhku menggigil. Tapi, kali ini berbeda. Ada nyawa lain yang sedang berjuang untuk hidupnya.

Ketika akhirnya ia lahir, tubuhnya biru, hampir tak bernafas. Tangisannya pun tak kudengar. Ia sampai harus dibawa ke rumah sakit lain karena tempat ini tak punya NICU. Aku masih tak sadarkan diri. Ketika akhirnya aku membuka mata karena kudengar suara tangisan bayi, aku berharap ia akan segera dibawa padaku untuk aku susui. Tapi hingga pagi, tak kunjung ada suster yang membawakan bayiku ke dalam dekapanku. Ranjang bayi disampingku masih kosong.
Ketika pagi akhirnya kudengar kabar itu, aku tak kuasa menahan tangis. Anakku harus berada di dalam NICU di rumah sakit lain, entah sampai kapan. Kata dokter cepat atau lambatnya proses penyembuhannya hanya tergantung dari seberapa kuat anak ini mampu bertahan. Karena ternyata aku mengalami Solutio Plasenta. Dimana plasenta bayiku sudah lepas di dalam rahim. Tanpa plasenta yang terhubung dengan rahim, bayiku tidak mendapatkan asupan oksigen. Dan ketika ia berjuang untuk menyambung nafas, aku tak tahu apa-apa. Hanya feeling yang tak bisa kujelaskan bahwa sesuatu tengah terjadi. Dokter yang mengoperasiku-pun meminta maaf pada keluarga besarku karena kejadian ini. Terlambat sedikit saja, aku tak mampu membayangkan bagaimana akhirnya.

Catherine Elliana, nama yang kami sematkan padamu. Sebagai doa kami bahwa Tuhan itu ada dan Ia berkuasa atas segalanya. Tak henti-henti kami berdoa memohon kesembuhanmu, beriringan dengan air mata yang tertumpah. Setiap ulang tahunmu, aku selalu teringat lagi kisah ini. Seperti baru kemarin rasanya.

Hari ke sembilan, akhirnya ketika kami menggendongmu pulang dari rumah sakit, itu adalah hari yang paling membahagiakan untuk kami. God hear our prayer. Dan kini genap 6 tahun umurmu. Kau tumbuh begitu sehat dan pintar. Doa kami selalu menyertaimu, semoga berkat Tuhan melimpah atasmu.

New Responsibilities

Masuk tahun 2019 aku mulai aktif mengurus satu komunitas. Walaupun “hanya” komunitas ibu-ibu tapi yang aku salut sudah dijalankan secara profesional. Ada raker, proposal kegiatan, sponsoshi. Apalagi orang-orangnya, yang walaupun sebagian besar adalah ibu rumah tangga, tapi apa yang mereka lakukan untuk keluarga dan komunitasnya bikin aku berdecak kagum. Bagaimana tidak, di antara jadwal mengurus suami dan anak-anak plus mengerjakan tugas domestik yang gak ada habisnya itu, mereka masih punya banyak waktu untuk komunitas. Bahkan ada yang ikut beberapa komunitas lain, seperti komunitas menggendong, komunitas blogger, komunitas essential oil, reseller buku. Komunitas ini rata-rata memang topiknya seputar kehidupan emak-emak. Aku sampai heran gimana bagi waktunya ya. Aku dua anak aja udah keteteran ditambah ini pula. 

Dulu ketika menerima tawaran menjadi pengurus aku hanya bondo nekat. Karena aku ini sudah orang kesekian yang ditawari posisi ini. Which means, kapasitas aku ga sebagus mereka yang ditawari pertama kali kan. Aku cukup sadar diri kok. Tapi belum ada satu bulan aku di posisi ini, jumlah WAG-ku meningkat signifikan. Jumlah chat yang harus dibaca juga bikin kepala geleng-geleng. Dan ternyata ada orang yang chat-nya jaauuuuuh berkali-kali lipat dari aku.

Aku sampai-sampai tak mengindahkan anak-anak kalau sudah balesin chat-chat di hape. Sampai Catherine aja protes, “Mama kok main hape terus sih?!”

“Iya sabar, mama balesin chat ini sebentaar aja ya..” Kata-kata ini yang selalu aku katakan padanya kalau ia sudah mulai protes. Betapa merasa bersalahnya aku. Aku masuk komunitas ini ingin belajar. Aku juga sadar, bahwa konsekuensi masuk dalam komunitas adalah melayani juga. Tapi aku ga tahu seberapa sulitnya ini buat aku yang masih tertatih mengatur waktu. Tanpa ini semua saja, aku dengan dua anak aja sudah kerepotan. Teman-teman lain semua juga sama ssperti posisiku saat ini, tapi kenapa mereka bisa enjoy sedangkan aku kok enggak ya.. Aku merasa kebeban banget ngerjain ini semua. Japri sana, japri sini, nyusun ini, nyusun laporan itu. Balesin si A, si B sampe ZZZ. Pengen cuti aja dari kelas bunsay, tapi justru kelas belajar inilah alasan aku masuk di komunitas ini, apa iya aku tinggalkan begitu saja tanpa alasan jelas. Mungkin aku yang harus belajar menata hati dan waktu supaya semuanya bisa diselesaikan dengan baik. Kadang aku udah yang negative thinking duluan. Uda membayangkan the worst case.  Kalau uda gitu biasanya aku jadi ga berani untuk melangkah karena tahu bakalan gagal. What should i do? Mau maju gak tahu gimana caranya, mau mundur juga kok kayak ga bisa gitu, uda nanggung. Masa jabatan masih setahun lagi. Aku cuma bisa menyemangati diri sendiri, go..go..go… You can do this. Ganbarimashou.. 
Ngefek gak sih? Duuhh…

Ten Year Challenge

Banyak banget sliweran di timeline media sosial yang pada ikutan ten year challenge ini. Ada yang pakai perbandingan foto sekarang dengan 10 tahun lalu, ada yang ngingetin hafalannya uda berapa sekarang, ada yang ngingetin tentang isu sosial. Aku ikutan? Galau sebenarnya… Turns out aku ga punya dokumentasi apapun di tahun 2009. Sepertinya tahun 2009 is not my best year. Dan ga ada satupun gambar yang bisa ngejelasin how 10 years already changes me.. A lot.

Tahun 2009 sampai 2010 is the worst year as long as i can recall. Masa yang, seandainya bisa, aku hapus dari catatan hidupku. If i can describe my life in colours, 2019 was pink, but ten year ago, it was black. Deep black.

Ada seorang motivator yang bilang, sebuah gambar berisi banyak warna, including si blacky ini. Bahwa kita harus bersyukur untuk setiap warna yang hadir di hidup kita. Karena itulah yang membentuk lukisan diri kita yang sekarang. Motivator ini memang setahu saya, hidupnya ditempa dengan keras di negeri orang sampai akhirnya ia berhasil bangkit dan sukses. But, I bet dia belum pernah berurusan dengan dosa.

Bagaimana mungkin seseorang bisa mengucap syukur ketika melakukan dosa? Kalau melakukan kesalahan di tempat kerja atau di sekolah, wajar banget. Itu mah biasa. Itu bisa disyukuri, kamu bisa false celebration with that. Tapi dosa?? Kayak Adam dan Hawa ketika pertama kali melakukan dosa. Malu. Ia menutup diri dan bersembunyi. Ia bahkan ga tahu apa yang harus dilakukan sampai Tuhan membuatkan mereka pakaian untuk menutupi rasa malu. Atau seperti kasus si VA kemarin. Apa dia merasa, “Oh…ini cuma warna yang diperlukan untuk melukis aku.” Gak mungkin kan.. Masih bisa bersyukur karena dosa? Yang ada malah semakin lama melakukan akan semakin terikat.

Kata orang, penyakit jaman now sebenarnya bukan hanya dari makanannya, tapi pikiran yang sakit. Kalau kata sains si…kalau lagi bermasalah atau banyak pikiran, maka imun tubuh akan menurun. It happens to me. Mungkin karena masalah yang ga selesai-selesai, gak disangka, akhirnya muncul benjolan di kedua payudaraku. Setelah diperiksakan memang tumor. Beberapa bulan mencoba berbagai macam cara karena masih takut dioperasi. Takut pada kemungkinan terburuk kalau ternyata ini ganas. Tapi setelah pemeriksaan terakhir, diameternya kok bertambah sekian mili, akhirnya ya sudahlah. Memang harus dioperasi ini. Bersyukur setelah dioperasi dan dicek lab memang hanya tumor jinak. Tapi bayanganku saat itu kaya orang mau mati aja, uda hopeless.

Tapi kalau sekarang aku bisa bersyukur bisa memasuki tahun 2019 dengan kondisi yang sehat dan bahagia, itu semua karena anugerah Tuhan. 10 tahun yang lalu, bukan perjalanan yang mudah. But somehow, i survived. aku masih berharap di satu sisi aku bisa menghapus kejadian 10 tahun yang lalu. Tapi di sisi lain aku tahu Tuhan ijinkan itu semua untuk terjadi untuk membuat aku ga sombong. Ga merasa paling bener dan paling saint sendiri karena fase yang dihadapi tiap orang berbeda. Selama masih diberi nafas hidup, means kita masih dikasi kesempatan untuk berubah.

Every saint has a past, and every sinner has a future – Oscar Wilde. 

Kesendirianku

Ngerti ya rasanya sendiri.. Bukaan, bukan saat tidak ada orang lain di sekelilingmu. Bukan pula ketika kau merasa tidak ada seorangpun yang memperhatikanmu. Bagiku sendiri itu ketika tidak ada lagi tempat untuk menjadi dirimu sendiri. Ketika kau harus mengunci rapat-rapat your true self di tempat yang tak lagi bisa dijangkau. Yang terlihat hanya sosok lain yang kau munculkan di permukaan. Di tempat persembunyianmu itu kau benar-benar sendirian. Jauh di dalam samudra hati. Di tempat yang hanya bisa dilihat oleh Tuhanmu. Di tempat itulah air matamu tumpah tanpa terlihat, mulutmu berteriak dalam senyap dan jiwamu tersayat dalam keheningan.

Semua yang terlihat di luar hanya ilusi. Yang diciptakan untuk membungkus perang dalam batinmu yang berkecamuk. Kau kuatkan hatimu dan menyimpannya hanya untuk dirimu sendiri. Hingga suatu saat kau begitu lelah..

Jalan pintas dibisikkan ia yang tahu kerapuhan hatimu. Satu kali..kau tepis. Dua kali.. kau masih sanggup untuk berkata tidak. Tiga kali..dan pertahananmu mulai goyah. Kau mulai berpikir bahwa hanya itulah satu-satunya jalan keluar.

Samar-samar terdengar suara berbisik pelan. “Aku mengasihimu”. Suara itu hampir tak terdengar ketika kau mulai kehilangan harapan pada jiwa yang terkulai. Kau seperti mengenal suara itu. Dulu ketika dalam sujudmu kau mendengarkan cerita cintaNya. Namun saat bibirmu mulai sibuk berkeluh kesah, malam-malam penuh lantunan syukur tak lagi terdengar. Kini, dalam segala ketidakberdayaanmu kau sadar, DIA-lah sumber kekuatanmu. Kau hidup atas kehendakNya dan mati pun atas seijinNya. Dan bila diijinkanNya kau menjadi lemah, mungkin itu caranya membuatmu melihat kekuatanNya di hidupmu. Berharaplah hanya kepadaNya ketika kau mulai lelah berjuang. Bersandarlah padaNya ketika penat membuat semangatmu pudar. Karena Ia sudah datang.

Merry Christmas, for He has came in to this world, a little light from Betlehem who bring hope and joy to the world.

Membuat Boneka Flanel

Akhirnya boneka flanel ini selesai. Ini project pertamaku. Yang menurutku cukup rumit dan detail kecil-kecil yang bikun pusing bagian nggunting dan ngelem. Selain itu juga ada mainan boneka jari untuk anak-anak. Mereka sepertinya senang sekali. Catherine peluk dari belakang pas aku lagi cuci piring. Aku kaget dan segera menghentikan kegiatanku dan berbalik badan untuk menatapnya. Dengan wajah tersrnyum lebar ia bilang,

“Aku sayang mama, terima kasih ya ma bonekanya aku suka sekali”

Tahu rasanya di dada? Mak nyeess…. semua rasa capek itu hilang. Aku berlutut dan mengangkatnya dalam gendonganku. Kuusap-usap rambutnya sambil berkata, “Mama sayang sama Catherine, sayang sekali.” Tanpa terasa air mata menitik di pelupuk. Sejak aku resign dari kantor aku selalu merasa bahwa tidak ada yang aku bisa banggakan lagi, but now i’m a proud mom. I’m still fighting to be a better mom, learn to control my emotion, but today i get paid in full. After all, this is the reason why i quit my job anyway. To make sure my children feel loved. My pressence is the way i say i love you.

Live my Life For You

Hari Minggu pagi seperti biasa aku bangun dan segera bersiap-siap untuk ke gereja bersama anak-anak. Catherine sudah bangun, ia memang selalu bangun lebih pagi di Jojo. Ia  pun meminta ijinku untuk menonton film kartun sembari aku bersiap-siap. Saat aku menyalakan televisi ada film Superbook, film animasi yang ceritanya based on Bible. Aku putuskan untuk menonton bersama Catherine sebentar karena sepertinya tayangan film ini akan selesai tidak lama lagi. Ketika film animasi ini selesai, ada soundtrack penutup yang lagunya pernah diajarkan di sekolah Catherine untuk mengisi suatu acara Natal tahun lalu. Walaupun lagu ini sudah sering aku dengar, tapi hari itu terasa berbeda. Aku seolah diingatkan oleh lagu yang walaupun liriknya sederhana dan diulang-ulang, tapi ketika mendengarnya pagi itu membuatku menitikkan air mata.

Pada bagian reffrainnya “ubahkanku jadi baru, tolong ku hidup bagiMu” hanya kata-kata ini yang diulang-ulang. Tapi sungguh hari itu aku seperti tertohok. Aku yang beberapa waktu terakhir ini mulai menjauh dari Tuhan. Aku yang dengan pedenya mengaku aku sudah diselamatkan tapi hidupku jauh dari Tuhan, saat teduh hanya kalau ingat, dengan harapan Ia mau mengerti kesibukanku. Padahal baik hidup ataupun mati semuanya milik Tuhan, hidup ini punya Dia, jadi tujuan hidup ini sebenarnya hanya untuk Dia. Bukan untuk suami, untuk anak, orang tua, apalagi diri sendiri. Bahkan setiap helaan nafas ini kalau bukan karena karuniaNya mungkin tak akan ada lagi.

Dia mati di salib bukan supaya aku bisa have fun di dunia. Tapi memang dunia bikin nyaman, tapi itu baru sebagian kebenaran, hal yang dunia sembunyikan adalah bagian saat manusia mulai terpisah dengan Allah. Kita sibuk ngerjain hal-hal di dunia sampai lupa memberi makan tubuh rohani kita, lama kelamaan, seperti tubuh jasmani, ia juga bisa menjadi lemah dan sakit. Saat ini tubuh rohaniku sedang lemah. Ketuklah maka pintu akan dibukakan bagimu. God, I am here right now at Your door, please open it for me..

The Invisible War

Ngomongin soal war, di medsos saat ini bertebaran banyak sekali war, mulai dari yang receh sampai yang gurem. Mulai dari hal remeh macam artis A vs artis B atau topik yang lebih berat macam politik. Semua punya kubu sendiri, membela mati-matian pihak kawan dan mencaci pihak lawan. Dunia jagat maya kini begitu riuh, semua saling melemparkan amunisi tanpa ampun. Saling berusaha membuat kubu yang berseberangan bertekuk lutut. Pengap rasanya. Seperti berada di dalam ruangan yang penuh sesak dimana orang-orang yang ada di dalamnya saling berteriak, berlomba suara siapa yang paling keras. Tapi yang terdengar hanya seperti suara peluru, bising. Tidak ada yang mau mendengarkan. Tampak ada satu dua yang berusaha merelai tapi apa daya, suara mereka tak digubris, suara mereka tak mampu menyaingi kerasnya suara permusuhan yang digaungkan. Tapi anehnya mereka yang bersuara paling keras memakai topeng. Ya, berlindung di balik avatar buatan, akun media sosial palsu, yang dibayar untuk melakukan provokasi dan menyebarkan hoax tapi anehnya bisnis mereka laku keras tidak kalah dengan bisnis iklan berbayar di web-web download gratisan. Ah, seperti inikah wajah dunia maya masa depan? Dunia yang tanpa aturan. Semua orang bebas menyemburkan kata-kata sesuka hati tanpa konsekuensi. Tidakkah “apa yang keluar dari mulut berasal dari hati?” Ataukah maknanya mulai bergeser, “karena tulisan tidak keluar dari mulut maka bukanlah dosa?” Hati ini sangat merindukan masa ketika silahturahmi tidak digantikan dengan rangkaian huruf di layar. Masa ketika adab dan empati masih digunakan ketika bercakap-cakap muka dengan muka. Masa ketika rasa sungkan dan tepo seliro masih diagung-agungkan sebagai kepribadian bangsa. Ataukah saya yang terlambat menyadari bahwa itupun tidak lagi menjadi menu utama di sekolah, yang mulai digantikan oleh budaya impor yang lebih kekinian. Semoga The Invinsible War ini cepat berakhir. Korban mulai berjatuhan. Matinya empati dan terkuburnya toleransi. Jangan sampai ada korban yang lain, karena ketika KASIH mulai hilang, maka hilanglah sudah mereka yang disebut “manusia”.

Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.

1 Yohanes 4:20 TB

Sibling Rivalry

Sumber gambar : http://www.understandingchildhood.net/posts/sibling-rivalry-growing-up-with-a-new-brother-or-sister/

Salah seorang teman saya akan melahirkan anak keduanya bulan depan. Bukan tentang persiapan melahirkan yang ia khawatirkan, tapi kedekatan dengan anak pertama yang jadi concern-nya. Anak pertamanya masih berumur 3 tahun, belum bisa mengerti seandainya perhatian ibunya akan sering dirahkan pada adik barunya. Apakah sang kakak akan rela perhatiannya terbagi. Well, dari pengalaman saya yang memiliki adik pertama di usia 5 tahun,  saya pun masih sering merasa tidak rela perhatian orang tua terbagi, merasa diabaikan dan pada akhirnya mulai membenci adik, dan berujung pada seringnya terjadi pertengkaran. Menurut saya, di selisih usia berapapun yang namanya cemburu karena kehadiran adik baru menurut saya wajar sekali. Kitalah sebagai orang tua yang kadang terlalu main perasaan. Merasa waktu untuk anak pertama kurang cukup, merasa anak pertama akan terzholimi dengan adanya anak kedua. 
Ada salah satu grup parenting yang saya ikuti yang mrnyarankan supaya jangan ada dua balita dalam satu rumah. Jadi jarak aman anak pertama dan kedua sekitar 5 tahun, dimana anak pertama sudah puas dengan perhatian orang tuanya. Memang harapannya orang tua bisa mengatur jarak kelahiran agar jangan sampai ada dua balita di rumah, tapi yang namanya sudah diberi rejeki apa iya ditolak.. Kata beliau sih, ini hanya pembenaran dari ibu-ibu yamg sudah kadung kebobolan seperti saya contohnya. Hehe.. Saya mah tidak ambil pusing ketika ada yang bilang saya kebobolan, kebobolan gimana, digawangi aja enggak. Hehe.. Saya memang tidak menggunakan alat kontrasepsi apapun selama 1 tahun pertama, karena masih menyusui pikir saya, hormonnya masih merupakan KB alami. Dan ini benar adanya hingga setahun kemudian. Saya hamil anak kedua tepat di bulan Februari, bulan dimana anak pertama saya merayakan ulang tahunnya yang pertama.
Tapi apa iya, jarak umur akan menjamin anak pertama sudah puas dengan perhatian orang tuanya. Memiliki dua anak dengan jarak berdekatan memang merepotkan bagi orang tua. Apalagi saya, yang awalnya bekerja, lalu tiba-tiba berhenti, rasanya drastis sekali perubahannya. Ditakutkan akan mrngakibatkan orang tua menjadi tidak maksimal dalam mendidik dan memberi perhatiana pada masing-masing anak. Bisa jadi ada benarnya. Tapi Tuhan sungguh tahu apa yang terbaik bagi kita. Ketika sekarang saya mendengar tawa mereka yang sedang bermain bersama, saya merasa sangat bersyukur mereka lahir dengan jarak yang tidak terpaut jauh. Mereka sudah biasa bermain bersama, selalu ada saja skenario mereka setiap hari. Yang satu jadi guru yang satunya jadi murid, yang satu jadi mama yamg satu jadi anak, dan setiap hari selalu ada saja permainan yang mereka ciptakan bersama. Bagi saya sebagai orang tua, melihat mereka bermain bersama-sama itu sudah cukup. Saya tidak perlu bingung mencarikan teman untuk mereka belajar bersosialisasi, sebab dengan saudaranya saja sudah cukup banyak yang dapat dipelajari. Ini yang tidak bisa didapatkan dengan saudara dengan jarak umur yang jauh. Dunianya sudah berbeda. Ini saya alami sendiri, jadi ketika adik saya ingin bermain bersama saya tidak mengijinkan karena bagi saya, kehadiran adik saya hanya ingin mengganggu. Ketika saya sudah main masak-masakan, saat itu adik saya baru bisa berjalan, dan bisa dibayangkan apabila adik saya mendekati saya dan mainan saya, bubrah semua. 

Semuanya ada plus minusnya. Bersyukur untuk apa yang sudah Dia berikan. Walaupun kata orang berat, iya memang, bagi saya pribadi berat juga, mulai dari tandem nursing, tekanan untuk menyelesaikan milestone tunbuh kembang anak juga semakin besar karena waktunya yang bersamaan, susah untuk fokus hanya pada satu anak, seperti menyapih kakak di saat adik sedang latihan toilet training. Betul-betul menguras emosi. Sempat terpikir kalau apa yamg saya alami tidak ada bedanya dengan punya anak kembar, seperti tetangga sebelah rumah saya yang punya anak kembar. Tapi masih lebih mudah mengurus anak kembar lo, karena ritmenya sama, waktunya menyapih ya bareng, waktunya toilet training bareng, waktunya sekolah juga bareng. 
Tapi apapun itu saya lebih memilih apa yang saya miliki saat ini. Walau kadang keletihan bisa mengubah saya menjadi seperti mak lampir dalam tanda kutip. Tapi keceriaan mereka, priceless. So mommy, kalau jarak ananda dekat, be brave, walau kata orang itu berat, but trust me, you are stronger than your babies, you have to.

Kenangan Terindah

Seminggu ini diriku melanjutkan merapikan baju dan lemari. Kalau menurut konmari kan merapikan baju di urutan pertama, iyes?? Sedangkan barang-barang berkesan itu di urutan terakhir. Mungkin karena berat yah…kalo jadi di urutan pertama konmari-nya gak bakalan kelar-kelar. Nah, tapi kalau barang berkesan itu tadi adalah baju? Angkat tangan deh… 

Ceritanya kemarin itu pas beres-beres baju ketemulah sama celana jeans belel dari jaman SMA. Model cut bray, panjangnya uda seujung kakiku, jadi crintanya akunya pendek tapi perutnya kegeden, jadi kalo beli celana perutnya pas, panjangnya yang kagak pas, hehe.. jadi bisa dibayangkan kalau celana itu dipakai jalan dengan sandal jepit. Mau ga mau bawahnya celana jadi kotor, rusak semua jahitannya, robek-robek pula. Tapi anehnya kok nyaman-nyaman aja makeknya (duluu…sekarang uda ga muat hiksss…) Biar gak pada penasaran ini penampakannya :

Terus terang mau membuang si celana belel ini susah banget…tetiba ada setetes air di pelupuk mata, ketika teringat semua kenangan di masa itu. Yang menyenangkan maupun yang kurang menyenangkan. Semua seolah-olah di flash back kembali. Cukup lama si celana jeans belel ini kupandangi sambil terbayang ketika hiking sama teman-teman mulai dari Panderman, Lawu, Penanggungan, sampe ke Sempu, waktu maen basket tiap sore, pokonya jaman itu tiada hari tanpa basketan, terus keinget juga gimana dulu susahnya jadi anak kos apalagi pas akhir bulan hehe… Sampai disini aku jadi ga heran kenapa orang suka reunian. “Terlalu manis untuk dilupakan…” hehe..jadi inget lirik lagu ini. Iya, kenangan manis, tapi terlalu manis lama-lama jadi pahit loh. 
Tapi benar deh katanya Mrs. Kondo, proses ini juga proses menata hati. Harus berani memutuskan ikatan masa lalu dan melangkah maju. Dengan berat hati, iya, berat banget, aku melepaskan celana itu masuk tumpukan benda yang akan dibuang.

Bukan niatku membuang kenangan. Toh, namanya ingatan gak akan bisa hilang kecuali amnesia. Tapi membuang beban dari kenangan yang sudah tersimpan bertahun-tahun lamanya. Membuang harapan-harapan yang uda ga ada relevansinya lagi dengan masa sekarang. Merelakan yang sudah terjadi dan tidak lagi menyalahkan masa lalu. It’s time to move forward ‘rite?
Aku gak melupakan pribadi-pribadi yang pernah ada di kehidupanku, mereka yang, walaupun tidak disadari, sudah membentuk aku seperti aku yang sekarang dan aku bersyukur atas kehadiran mereka, i do…

Finally, celana itu sekarang sudah pasti akan berpindah tangan after I thanked for its service after these years. Sebelumnya aku tertawa sih baca statement Mrs. Kondo, disuruh give thanks sama benda?? ga salah nih…secara aku bukan panganut paham animisme loh. Tapi toh akhirnya aku lakukan juga. Bukan dengan maksud menganggap benda itu punya roh lo ya.. Aku melakukan itu hanya supaya aku lebih legowo, mengikhlaskan ia pergi beserta semua kenangan dan harapan dan beban yang menyertainya dan berterima kasih untuk semua proses yang aku sudah lewati sehingga aku bisa berdiri di titik ini saat ini. Proses kayak gini life changing banget..worth to try.

Nah, setelah lemarinya tertata, yang belum lemari gantung sama punyanya anak-anak. Lagi on process, tapi disambi nulis blog. Hehe..

Semoga proses berikutnya akan lebih mudah…secara kitchen is my clutter trap. Padahal ga hobi-hobi banget masak juga. 

Previous Older Entries

Daisypath Anniversary tickers
Lilypie Second Birthday tickers
%d bloggers like this: