Colloseum

Aku melihat arena yang begitu luas. Orang datang berduyun-duyun untuk melihat secara langsung. They would spend the extra penny just to sat in the front row. Tapi aku hanya mampu berdiri di tempat paling belakang. Di sini tak ada kursi yang nyaman. Aku hanya bisa menonton dari kejauhan. Kulihat kanan dan kiriku. Mereka juga berdesak-desakan untuk menonton pertunjukan hari ini. Cuaca yang panas, bercampur bau keringat membuatku semakin mual. Sangat bising. Entah apa yang sedang dibicarakan. Jagoan masing-masing ataukah menu makan malam after this show. Di baris terdepan ada para bangsawan bergaun indah. Mereka terlihat menanti dengan tidak sabar sambil terus mengunyah makanan yang tersaji di depan mereka dengan rakus. Matahari semakin ganas meyebarkan teriknya. Tiba-tiba terdengar suara dari kejauhan. Pintu besi di sisi kanan arena telah dibuka. Muncullah sang Hoax. Dari baris paling depan kulihat seorang pria tambun berjubah merah berdiri sambil berteriak. Rupanya hoax itu miliknya. Dari sisi seberang arena, the gladiator telah siap menantangnya. Penonton semakin bersemangat. Terik matahari tak lagi dihiraukan. Mereka meneriakkan dukungannya sambil bertepuk tangan.

The death match began. Pertarungan berlangsung tanpa peraturan. Hanya satu perkecualian. Kill or be killed.

The hoax melancarkan serangan pertama. Cukup mematikan. Tapi sang gladiator berhasil menangkisnya.

“Balas!!” “Balas!!” Teriak penonton. Sang gladiator menunjukkan keahliannya memainkan siasat. The hoax terpaksa mundur sesaat. Tapi itu tak lama. Sejurus kemudian, ia kembali melancarkan serangannya. The gladiator terjatuh. Penonton semakin bersemangat. Mereka terpecah menjadi dua kubu. Mereka saling mencela dan menjatuhkan kubu lainnya as if they were the player. Pria tambun berjubah merah tadi tampak tak tenang. Mungkin ia ingin agar pertandingan segera berakhir agar ia dapat segera pulang dengan kepingan emas di tangan. The hoax tampak semakin beringas. Ia mampu membuat sang gladiator tersudut. Ia tak mampu lagi melawan. Te hoax tampaknya tak mempunyai nurani. Dalam sekali tebas, the gladiator terbunuh. Penonton bersukacita mengelu-elukan the hoax. A new hero has born. Ia dipuja layaknya pahlawan.

Arena tak lagi ramai. Hanya aku yang masih tinggal di sana. Semua penonton pulang dengan sukacita karena merasa sangat terhibur hari ini. The extra kuota they paid has give them a pleasure to watch another man died today. Ya.. disinilah tempat pembantaian terjadi. Whoever win the battle doesn’t matter. As long as everybody feel entertained. An extra like or follower will guarantee an extra bonus for the winner.

Pakai Baju Adat

Sekolah anak-anak mulai hari ini memulai membiasakan anak untuk mengenal dan menggunakan baju adat di sekolah. Setiap hari jumat di minggu terakhir semua murid dan guru diwajibkan menggunakan baju adat.

Pilihanku jatuh pada baju bodo untuk cewek karena modelnya longgar, jadi lebih isis aja.. Selain itu masa pakainya lebih panjang daripada baju yang press body hehe…teteup hemat mode on. Supaya ga bentar bentar beli baru, karena program ini akan berlangsung berkala setiap bulan.

Untuk cowok aku pilih memakaikan baju beskap jawa timuran.

Kemarin sempat bingung karena beskap jogja lebih keren jatuhnya. Cuma karena bawahnya pakai jarik yang dijahit model lurus gitu. Takutnya nanti keserimpet pas lari-lari di sekolah. Maklum anak cowok lebih aktif. Dan karena pertimbangan emak konsisten nyari yang masa pakainya panjang, jadi belinya yang agak besar, trus dipermak sendiri supaya pas di badan. Biasa anak-anak cepet melar badannya. Emaknya kudu usaha dikit supaya tetep on budget. Di bagian kain jariknya, aku tambahin payet emas supaya kelihatan bling-bling, eye catching gitu.

Baju adat gak lengkap dong kalau gak pakai aksesoris. Tapi karena aksesorisnya dibeli terpisah plus kurang sreg juga sama bahaan headpiecenya, uda melorot terus, jadi harus dijepitin pakai bobbypin. Agak ribet ya.. Membayangkan anak harus pakai aksesoris kak begitu dari jam 7 pagi sampai jam 2 siang pasti ga betah. Jadinya bikin sendiri deh. Pakainya lebih nyaman. Lebih hemat pula.

Headpiecenya aku bikin dari bando biasa, dililit pita silver trus dikasi bunga-bunga yang dirangkai pakai kawat halus.

Aku browsing contoh sunting simpel yang kira-kira bisa aku tiru dengan mudah. Plus karena terinspirasi dari anting bando yang lagi ngehits, aku coba gabungin bando dengan anting sekalian. Kalau pakai anting yang terpisah hiiyy berat di kuping. Aku sendiri ga betah pakai anting. Dari kecil beberapa kali ganti anting karena ilang sebelah, matanya putul, mutiaranya hilang, kecantol di handuk juga pernah, sakit banget. Herannya, uda tahu aku bermasalah dengan anting, masih juga dibeliin lagi. Sekarang Catherine gak aku pakaikan anting. Mamak malas ribet.

Sisa bunga dipakai untuk bikin kalung, tinggal ditambah rantai dan pengait.

Aksesoris lain seperti gelang juga dibuat dari pita, bawahnya dikasi kain flanel yang sudah diberi kretekan (apa sih istilahnya, ga ngerti) supaya bisa dipakai dan dilepas sendiri dengan mudah.

Rantai jas juga hasil bikin sendiri dari sisa rantai kalung, tinggal dikasi pendant kuning keemasan dan pengait.

Dan khusus untuk bros ini aku udah korban satu gantungan kunci untuk aku ambil pengaitnya hehe.. Pokoknya manfaatkan semua yang ada.

Kenapa ga pakai baju adat lain yang minim aksesoris? Well, budaya Indonesia ni kan kaya banget, aksesorisnya apalagi. Justru inilah yang bikin meriah penampilan baju adat.

Inilah cerita emak-emak tentang balada baju adat yang jadi seragam tiap bulan. Ribet, capek, tapi ada kepuasan di situ. Walaupun harus ditopang dengan bergelas-gelas kopi tiap malam. Karena ngerjain ginian gak bisa pagi hari atau siang pas anak-anak bangun. Iklannya banyak. Sedangkan ngerjain craft, kudu konsen. Eniwei, setelah lihat hasil akhirnya, emak puas banget. Karena hasilnya ga mengecewakan dan ga menguras isi dompet. #Sambilelus-elusDompet #BaladaTanggalTua 😁😁

Next episode :

Adegan pasca foto paling atas diambil

Jojo : “Maaahh…aku mau puup..”

Emak : “Jojoooooo….#@&*#*%&<”

Jadi semua baju plus printilannya dibuka lagi. Setelah dia selesai pup baru berangkat sekolah. Begitulah pagi kami hari ini.

Hwarang

Proverbs-17-17
Gak biasanya aku nulis tentang filem. Apalagi drakor. Kapan hari nulis Sky Castle tapi gak banyak. Yang bikin aku pengen nulis kesan aku setelah nonton hwarang adalah karena filem ini bagus banget. Yang bikin berkesan adalah nuansa persahabatan yang kental sesama anggota Hwarang. Awalnya aku pikir filem drakor yang isinya cowok semua bakalan gak seru. Tapi aku salah. There’s more in it. Ada seorang teman yang berkhianat, tidak hanya sekali, tapi berkali-kali. Ada pula seorang ibu yang melakukan segala cara untuk melindungi anaknya. Seorang ayah yang rela harga dirinya diinjak agar anaknya menjadi raja. Banyak perbuatan dan tingkah mereka yang kadang kita lihat begitu bodoh, tapi at the end, all you need is someone stands on your side. Setiap kita punya kelemahan. Tak jarang kelemahan kita melukai orang lain. Mostly, the loved one. Ketika keadaan menjadi sulit, akankah kita tetap mengasihi ataukah kita berpikir bahwa semua hal adalah tentang “AKU”. Aku yang sedang terluka, aku yang sedang merasa tidak aman, aku yang begitu ingin memilki sesuatu. Segala tentang “AKU” ini begitu memenuhi pikiran sehingga tak ada lagi tempat untuk hal selain “AKU”.
Ini membuat aku berpikir, sudahkah aku menjadi seorang sahabat? Untuk teman hidupku, untuk anak-anakku, untuk orang-orang di sekelilingku? Apakah aku menunjukkan kualitas seorang sahabat? Tapi seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran (Amsal 17:17) Mengasihi butuh “objek” kasih. Kasih bukanlah kata benda tapi kata kerja yang aktif. Kamu tidak bisa mengasihi orang lain ketika hanya sendiri. Menjadi sahabat berarti mengasihi orang lain. Put others more than yourself.

When things getting harder, when all seems dark and you can’t tell the differences between black and white, all you need a friend who spark a little love in your heart for you to see that you’re not alone.  | By : Me

“First” Day School

Actually post ini aku uda bikin dari bulan Juli dimana mereka baru masuk sekolah di hari pertama. Benar-benar hari pertama. Tapi sayangnya tidak dilanjutkan dan menumpuk di draft. Setelah agak jenak baru bisa meneruskan postingan ini yang pada awalnya hanya sempat menulis 5 baris. Jadi judulnya tidak mencerminkan isi, karena sudah bukan menceritakan hari pertama bersekolah.

P_20190715_065709[1]

Catherine – 1st grade

P_20190715_065716[1]

Jojo-1st day TK-A

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Aku bersyukur banget kalau  Catherine sama Jojo bisa masuk sekolah bareng di sekolah yang sama. Karena ternyata mengantar dan menjemput ke sekolah yang sama saja sudah ribet hanya karena jam pulang sekolah yang tidak sama. Apalagi ditambah dengan lokasi sekolah yang berbeda pula. Jadwal kegiatan tiap sekolah kan beda-beda. Ditakutkan jadwalnya tempuk, yang berarti aku harus merelakan untuk tidak mengikuti salah satunya. Tapi, akhirnya mereka masuk di sekolah yang sama dan ini cukup membuat lega. Catherine masuk kelas 1 SD dan Jojo masuk TK-A. Bukan kebetulan akhirnya papanya yang di awal maunya Jojo masuk sekolah yang sama dengan Catherine dulu. Beberapa kali aku coba untuk meyakinkan supaya Jojo sekolah di tempat yang sama dengan kakaknya tak pernah berhasil. Sampai ketika tiba saatnya kenaikan kelas. Ia menyaksikan sendiri dimana aku begitu sibuk dengan acara perpisahan dan hal yang lainnya. Sehingga Catherine hampir tak terperhatikan. Beruntung ada adekku yang bisa membantu menjaga mereka di saat aku harus keluar rumah. Setelah menimbang banyak hal akhirnya aku diperbolehkan mendaftarkan Jojo di sekolah yang sama dengan Catherine. Kuncinya, show dan not tell. Percuma ngomong sampai capek untuk meyakinkan dia. tapi akhirnya someOne changed him. Karena hampir-hampir impossible untuk mengubah keputusannya. Tapi rencana Tuhan, who knows.

Kini, sebulan lebih sudah dijalani. Sepertinya mereka sudah bisa mandiri di sekolah. Sudah bisa mencari teman sendiri tanpa harus didampingi. Walaupun tetap ada perasaan was-was saat melepas mereka masuk ke gerbang sekolah. Rasanya seperti mereka masuk di dunia “lain” yang tak bisa kumasuki. Di sekolah, mereka punya dunianya sendiri. Dunia penuh dengan guru-guru dan teman. Aku tak bisa ada di dunia itu selama 7 jam dalam sehari. Bisa kubayangkan obrolan mereka di kala istirahat. Topiknya pasti tak jauh dari PR dan ulangan. Nikmati masa sekolahmu, Nak. Banyak yang akan kau dapatkan. Semua itu nantinya akan jadi kenangan indah yang membentuk dirimu semakin indah di mataNya.

Pesan mama untuk kalian hanya satu. Be brave. Berani untuk beda. Berani untuk berdiri di jalan yang kau yakini. Berani untuk say NO untuk apapun yang bikin kamu gak nyaman. Even to people or when someone pushed you to do something you don’t like, be brave to say what you mean. Be brave find love. Mostly, to love yourself unconditionally. You are already perfect, just the way God created you in the first place. Be brave to be anything you’ve dreamed of. Be brave to walk alone, because God never left you. Someone will make you feeling under and not worth it, but trust me… nobody can make you feel that way unless you allow it. So, let nobody define your worth but Him, your Creator. And when you feels like you’re lonely, be brave to tell somebody that you need help. You’re only human by the way. It is okay to feel not okay. It is okay to feel weak sometimes. May God always be with you, my son and my daughter. With love, mom.

 

P_20190715_072903[1]

Jojo senam pagi dulu..

P_20190715_074049[1]

Catherine upacara

Penerimaan Siswa Baru 2019

Btw ini adalah opini saya. Jadi salah ya kalo mau tahu info tentang PPDB 2019 ini disini. 

Seperti yang saya amati sedang ramai di linimasa, banyak yang mengeluh karena putra putrinya tidak bisa diterima di sekolah negeri karena sistem zonasi tidak berpihak pada mereka. Bukan lagi tentang favorit atau tidaknya suatu sekolah. Tapi tentang daya tampungnya. Karena di lapangan yang terjadi adalah jarak rumah sangat menentukan seseorang masuk sekolah negeri/swasta. Untuk yang mampu, mungkin tidak masalah masuk ke sekolah swasta..namun bagaimana dengan yang kurang mampu?

Disini saya berimajinasi sekolah membentuk radius lingkaran. Ada yang radius 1km-nya berpotongan dengan radius 1km sekolah lain, yang berarti anak-anak dengan domisili di jalur perpotongan radius sekolah itu akan aman. Tapi bagaimana kalau radius lebih dari 3km satu sekolah, ternyata tidak berpotongan dengan radius 3km sekolah lain? Hasilnya adalah ada anggota himpunan/zona yang tidak masuk radius sekolah manapun. Lari ke sekolah swasta, bagi yang mampu..
Kelemahan sistem yang ditiru dari jepang ini adalah pada daya tampung sekolah. Sistem zonasi mengharuskan semua siswanya berada dalam radius 1km dari sekolah. Sedangkan jumlah siswa dalam radius 1km saja sudah jauh berkali-kali lipat dari daya tampung. Di mana peran pemerintah yang katanya menginginkan pemerataan pendidikan? Pilihan terakhir jatuh pada sekolah swasta, yang notabene mahal dan justru jauh dari rumah. Masalah efisiensi waktu akhirnya tidak berpihak pada mereka yang rumahnya berada pada jarak lebih dari 1km dari sekolah terdekat.
Bukannya mereka tidak mau memasukkan anaknya ke sekolah swasta, tapi biaya untuk itu juga tidak tersedia. Jadi apa yang bisa diharapkan dari sistem ini?
Menurut saya ide penerapan sistem ini bagus, tapi tidak diimbagi dengan fasilitas sekolah yang sesuai daya tampungnya. 

Ide sekolah dalam zona 1km adalah agar anak-anak dapat berangkat sendiri dengan berjalan kaki, seperti di Jepang. Anak-anak di lingkungan rumqh akan bersekolah di sekolah yang sama. Apakah budaya berjalan kaki ini ada di Indonesia?? Saya yang biasanya beli kebutuhan rumah tangga ke warung yang berjarak beberapa METER saja kadang lebih memilih naik motor daripada berjalan kaki. Alasannya, cuaca panas/hujan, bawaan berat, capek, buang waktu, dan lain sebagainya.
Peraturan ini juga memiliki kelemahan lain. Bila berbicara tentang sekolah di jepang, semua sekolah sudah punya standar yang sama, kualitas yang sama. Sehingga tidak masalah memasukkan anak di sekolah manapun. Bagaimana dengan di Indonesia? Jauh berbeda antara sekolah favorit dengan yang tidak apabila berbicara soal kualitas apalagi fasilitas. 

Indonesia belum mampu menerapkan sistem zonasi. Tapi langkah awal yang cukup berani ini membuat kecewa beberapa orang tua yang terdampak sistem ini. 
Aku bukan pakar pendidikan, tapi kalau mau menerapkan sistem pendidikan seperti di Jepang, maka perlu dikaji ulang termasuk pelaksanaan UN yang membuat sistem zonasi ini semakin berat diterima. Terutama oleh orang tua yang anaknya pandai di sekolah. Namun harus menerima kenyataan bahwa nasibnya kini tak jelas. Dengan alasan rumah yang sudah ditempati bertahun-tahun itu ternyata masih kurang dekat dengan sekolah. Anak-anak yang pandai ini sudah berjuang untuk mendapatkan nilai terbaik di UN. Tapi tak berguna lagi sekarang. Memang ini habit buruk di Indonesia. Belajar hanya untuk nilai. Nilai hanya supaya bisa masuk sekolah favorit. Tapi agak miris juga kalau anak-anak ini tak diterima di sekolah manapun.
Banyak yang mengeluhkan anak-anak akan turun motivasi belajarnya karena tidak ada tekanan untuk mendapatkan nilai bagus, seperti dulu. Bisa ya, bisa juga tidak. Anak-anak bisa belajar tanpa tekanan. Mereka berangkat sekolah dengan tas dan pikiran yang enteng. Dari sini akan terlihat minat masing-masing anak. Karena tidak lagi diharuskan mendapat nilai bagus di SEMUA bidang. Cukup di bidang yang diminati dan akan jadi pilihan karirnya kelak. Anak jadi lebih fokus belajar pada apa yang menjadi bidang yang ia sukai. Itu akan jadi motivasi belajar yang tak akan ada habisnya. Satu yang masih jadi impian saya. Hapuskan UN. 
Jadi, bagaimana sekarang? Setuju dengan sistem zonasi??

Inside Your Glass

Ini jadi pertanyaanku hari ini. What’s inside your glass? Kata-kata yang seperti apa yang mencerminkan hatimu?

Hal yang mudah ketika keadaan sedang santai, pikiran sedang rileks, akan lebih mudah mengatur kata-kata. Tapi ketika ego tersentuh dan emosi tersulut. Seketika itu jantung mulai memompa darah dengan cepat dan seluruh tubuh pun bergetar dengan hebat. Dengan segala kemarahan yang ada di dalam diri itu, masih mampukah mengendalikan setiap kata yang terucap? Akankah perkataan itu menjadi berkat atau justru menjadi pahit?

 I never say I’m a nice person. For the sake of my sanity, i’d rather not trying to be one. My kindness have one condition. If he talking nicely then i’ll do the same. But if someone talking shit to me, i will put it back to whom it belongs. I don’t save those kind of words.

Six Years Ago

Enam tahun yang lalu anak pertamaku lahir. Some families urge me untuk sesar aja. Alasannya karena itu masih tahun Naga. Jadi kalau lahir sebelum tanggal 14 Februari, maka shionya adalah shio naga. Kalau lewat itu “hanya” shio ular. Well, keluarga besar suami memang masih ada yang percaya shio. Kalau keluarga intinya sih kayaknya enggak. Tapi kalau merayakan tahun baru sih, masih, namanya budaya, walau enggak lagi percaya tahun ini bring lucky or not, masih tetap dirayakan sebagai bagian dari warisan budaya. Shio naga dipercaya membawa hoki. Dulu aku percaya hal-hal seperti ini. Horoskop, shio, garis tangan, hal-hal seperti itu bacaanku sewaktu remaja. Tapi setelah lahir baru aku tidak lagi mempercayai bahwa jalan hidupku ditulis di lembaran koran atau tabloid di pojok paling bawah, oleh orang yang gak aku kenal pula. Jadi aku membiarkan anakku memilih sendiri waktunya untuk bertemu dengan dunia barunya.

Tanggal 22 Februari, pukul 22.43 menit, akhirnya anakku lahir. Walaupun akhirnya kupilih melalui operasi caesar to save both of us. Aku menahan kontraksi yang berlangsung hampir lima jam. Begitu sakitnya sampai aku merasa, aku ga akan mampu melahirkan normal dengan menahan rasa sakit seperti ini. Langkah sesar kuambil sekitar pukul 8 malam, padahal ketuban sudah pecah sejak pukul 5 sore. Saat itu, semua oramg di rumah sakit menyarankan untuk tetap lahiran normal. Hanya satu orang yang tetap mendukung semua keputusanku. My husband. Saat yang lain berpikir ini hanya kasus operasi sesar biasa, tidak dengan suamiku. Dia tahu, ini perkara antara hidup dan mati. Bahkan suster pun dibentaknya karena membuat kami menunggu begitu lama. Tapi kami pun tak sampai berpikir bahwa betapa kondisiku dan bayiku begitu genting. Jam 9 malam dan aku sudah tak tahan lagi. Dokter yang akan mengoperasiku sedang praktek, begitu katanya. Mungkin mereka pikir aku hanya pasien manja, yang ketika tidak lagi kuat menahan rasa sakit dan akhirnya pilihan termudah ya minta dioperasi saja. 

Rasanya waktu berjalan begitu lambat. Ketika akhirnya dokterku datang jam10 malam, aku sudah pasrah. Sebenarnya aku tak takut menghadapi meja operasi. Aku telah berada di meja serupa beberapa kali sebelumnya. Sewaktu patah tulang ketika ikut judo pas SMA. Memasang dan mengambil pen sudah terhitung dua kali operasi, dalam rentang waktu 5 tahun. Sewaktu operasi biopsi di kedua PD ketika terindikasi tumor juga aku harus masuk ruangan yang sama dinginnya hingga tubuhku menggigil. Tapi, kali ini berbeda. Ada nyawa lain yang sedang berjuang untuk hidupnya.

Ketika akhirnya ia lahir, tubuhnya biru, hampir tak bernafas. Tangisannya pun tak kudengar. Ia sampai harus dibawa ke rumah sakit lain karena tempat ini tak punya NICU. Aku masih tak sadarkan diri. Ketika akhirnya aku membuka mata karena kudengar suara tangisan bayi, aku berharap ia akan segera dibawa padaku untuk aku susui. Tapi hingga pagi, tak kunjung ada suster yang membawakan bayiku ke dalam dekapanku. Ranjang bayi disampingku masih kosong.
Ketika pagi akhirnya kudengar kabar itu, aku tak kuasa menahan tangis. Anakku harus berada di dalam NICU di rumah sakit lain, entah sampai kapan. Kata dokter cepat atau lambatnya proses penyembuhannya hanya tergantung dari seberapa kuat anak ini mampu bertahan. Karena ternyata aku mengalami Solutio Plasenta. Dimana plasenta bayiku sudah lepas di dalam rahim. Tanpa plasenta yang terhubung dengan rahim, bayiku tidak mendapatkan asupan oksigen. Dan ketika ia berjuang untuk menyambung nafas, aku tak tahu apa-apa. Hanya feeling yang tak bisa kujelaskan bahwa sesuatu tengah terjadi. Dokter yang mengoperasiku-pun meminta maaf pada keluarga besarku karena kejadian ini. Terlambat sedikit saja, aku tak mampu membayangkan bagaimana akhirnya.

Catherine Elliana, nama yang kami sematkan padamu. Sebagai doa kami bahwa Tuhan itu ada dan Ia berkuasa atas segalanya. Tak henti-henti kami berdoa memohon kesembuhanmu, beriringan dengan air mata yang tertumpah. Setiap ulang tahunmu, aku selalu teringat lagi kisah ini. Seperti baru kemarin rasanya.

Hari ke sembilan, akhirnya ketika kami menggendongmu pulang dari rumah sakit, itu adalah hari yang paling membahagiakan untuk kami. God hear our prayer. Dan kini genap 6 tahun umurmu. Kau tumbuh begitu sehat dan pintar. Doa kami selalu menyertaimu, semoga berkat Tuhan melimpah atasmu.

New Responsibilities

Masuk tahun 2019 aku mulai aktif mengurus satu komunitas. Walaupun “hanya” komunitas ibu-ibu tapi yang aku salut sudah dijalankan secara profesional. Ada raker, proposal kegiatan, sponsoshi. Apalagi orang-orangnya, yang walaupun sebagian besar adalah ibu rumah tangga, tapi apa yang mereka lakukan untuk keluarga dan komunitasnya bikin aku berdecak kagum. Bagaimana tidak, di antara jadwal mengurus suami dan anak-anak plus mengerjakan tugas domestik yang gak ada habisnya itu, mereka masih punya banyak waktu untuk komunitas. Bahkan ada yang ikut beberapa komunitas lain, seperti komunitas menggendong, komunitas blogger, komunitas essential oil, reseller buku. Komunitas ini rata-rata memang topiknya seputar kehidupan emak-emak. Aku sampai heran gimana bagi waktunya ya. Aku dua anak aja udah keteteran ditambah ini pula. 

Dulu ketika menerima tawaran menjadi pengurus aku hanya bondo nekat. Karena aku ini sudah orang kesekian yang ditawari posisi ini. Which means, kapasitas aku ga sebagus mereka yang ditawari pertama kali kan. Aku cukup sadar diri kok. Tapi belum ada satu bulan aku di posisi ini, jumlah WAG-ku meningkat signifikan. Jumlah chat yang harus dibaca juga bikin kepala geleng-geleng. Dan ternyata ada orang yang chat-nya jaauuuuuh berkali-kali lipat dari aku.

Aku sampai-sampai tak mengindahkan anak-anak kalau sudah balesin chat-chat di hape. Sampai Catherine aja protes, “Mama kok main hape terus sih?!”

“Iya sabar, mama balesin chat ini sebentaar aja ya..” Kata-kata ini yang selalu aku katakan padanya kalau ia sudah mulai protes. Betapa merasa bersalahnya aku. Aku masuk komunitas ini ingin belajar. Aku juga sadar, bahwa konsekuensi masuk dalam komunitas adalah melayani juga. Tapi aku ga tahu seberapa sulitnya ini buat aku yang masih tertatih mengatur waktu. Tanpa ini semua saja, aku dengan dua anak aja sudah kerepotan. Teman-teman lain semua juga sama ssperti posisiku saat ini, tapi kenapa mereka bisa enjoy sedangkan aku kok enggak ya.. Aku merasa kebeban banget ngerjain ini semua. Japri sana, japri sini, nyusun ini, nyusun laporan itu. Balesin si A, si B sampe ZZZ. Pengen cuti aja dari kelas bunsay, tapi justru kelas belajar inilah alasan aku masuk di komunitas ini, apa iya aku tinggalkan begitu saja tanpa alasan jelas. Mungkin aku yang harus belajar menata hati dan waktu supaya semuanya bisa diselesaikan dengan baik. Kadang aku udah yang negative thinking duluan. Uda membayangkan the worst case.  Kalau uda gitu biasanya aku jadi ga berani untuk melangkah karena tahu bakalan gagal. What should i do? Mau maju gak tahu gimana caranya, mau mundur juga kok kayak ga bisa gitu, uda nanggung. Masa jabatan masih setahun lagi. Aku cuma bisa menyemangati diri sendiri, go..go..go… You can do this. Ganbarimashou.. 
Ngefek gak sih? Duuhh…

Ten Year Challenge

Banyak banget sliweran di timeline media sosial yang pada ikutan ten year challenge ini. Ada yang pakai perbandingan foto sekarang dengan 10 tahun lalu, ada yang ngingetin hafalannya uda berapa sekarang, ada yang ngingetin tentang isu sosial. Aku ikutan? Galau sebenarnya… Turns out aku ga punya dokumentasi apapun di tahun 2009. Sepertinya tahun 2009 is not my best year. Dan ga ada satupun gambar yang bisa ngejelasin how 10 years already changes me.. A lot.

Tahun 2009 sampai 2010 is the worst year as long as i can recall. Masa yang, seandainya bisa, aku hapus dari catatan hidupku. If i can describe my life in colours, 2019 was pink, but ten year ago, it was black. Deep black.

Ada seorang motivator yang bilang, sebuah gambar berisi banyak warna, including si blacky ini. Bahwa kita harus bersyukur untuk setiap warna yang hadir di hidup kita. Karena itulah yang membentuk lukisan diri kita yang sekarang. Motivator ini memang setahu saya, hidupnya ditempa dengan keras di negeri orang sampai akhirnya ia berhasil bangkit dan sukses. But, I bet dia belum pernah berurusan dengan dosa.

Bagaimana mungkin seseorang bisa mengucap syukur ketika melakukan dosa? Kalau melakukan kesalahan di tempat kerja atau di sekolah, wajar banget. Itu mah biasa. Itu bisa disyukuri, kamu bisa false celebration with that. Tapi dosa?? Kayak Adam dan Hawa ketika pertama kali melakukan dosa. Malu. Ia menutup diri dan bersembunyi. Ia bahkan ga tahu apa yang harus dilakukan sampai Tuhan membuatkan mereka pakaian untuk menutupi rasa malu. Atau seperti kasus si VA kemarin. Apa dia merasa, “Oh…ini cuma warna yang diperlukan untuk melukis aku.” Gak mungkin kan.. Masih bisa bersyukur karena dosa? Yang ada malah semakin lama melakukan akan semakin terikat.

Kata orang, penyakit jaman now sebenarnya bukan hanya dari makanannya, tapi pikiran yang sakit. Kalau kata sains si…kalau lagi bermasalah atau banyak pikiran, maka imun tubuh akan menurun. It happens to me. Mungkin karena masalah yang ga selesai-selesai, gak disangka, akhirnya muncul benjolan di kedua payudaraku. Setelah diperiksakan memang tumor. Beberapa bulan mencoba berbagai macam cara karena masih takut dioperasi. Takut pada kemungkinan terburuk kalau ternyata ini ganas. Tapi setelah pemeriksaan terakhir, diameternya kok bertambah sekian mili, akhirnya ya sudahlah. Memang harus dioperasi ini. Bersyukur setelah dioperasi dan dicek lab memang hanya tumor jinak. Tapi bayanganku saat itu kaya orang mau mati aja, uda hopeless.

Tapi kalau sekarang aku bisa bersyukur bisa memasuki tahun 2019 dengan kondisi yang sehat dan bahagia, itu semua karena anugerah Tuhan. 10 tahun yang lalu, bukan perjalanan yang mudah. But somehow, i survived. aku masih berharap di satu sisi aku bisa menghapus kejadian 10 tahun yang lalu. Tapi di sisi lain aku tahu Tuhan ijinkan itu semua untuk terjadi untuk membuat aku ga sombong. Ga merasa paling bener dan paling saint sendiri karena fase yang dihadapi tiap orang berbeda. Selama masih diberi nafas hidup, means kita masih dikasi kesempatan untuk berubah.

Every saint has a past, and every sinner has a future – Oscar Wilde. 

Kesendirianku

Ngerti ya rasanya sendiri.. Bukaan, bukan saat tidak ada orang lain di sekelilingmu. Bukan pula ketika kau merasa tidak ada seorangpun yang memperhatikanmu. Bagiku sendiri itu ketika tidak ada lagi tempat untuk menjadi dirimu sendiri. Ketika kau harus mengunci rapat-rapat your true self di tempat yang tak lagi bisa dijangkau. Yang terlihat hanya sosok lain yang kau munculkan di permukaan. Di tempat persembunyianmu itu kau benar-benar sendirian. Jauh di dalam samudra hati. Di tempat yang hanya bisa dilihat oleh Tuhanmu. Di tempat itulah air matamu tumpah tanpa terlihat, mulutmu berteriak dalam senyap dan jiwamu tersayat dalam keheningan.

Semua yang terlihat di luar hanya ilusi. Yang diciptakan untuk membungkus perang dalam batinmu yang berkecamuk. Kau kuatkan hatimu dan menyimpannya hanya untuk dirimu sendiri. Hingga suatu saat kau begitu lelah..

Jalan pintas dibisikkan ia yang tahu kerapuhan hatimu. Satu kali..kau tepis. Dua kali.. kau masih sanggup untuk berkata tidak. Tiga kali..dan pertahananmu mulai goyah. Kau mulai berpikir bahwa hanya itulah satu-satunya jalan keluar.

Samar-samar terdengar suara berbisik pelan. “Aku mengasihimu”. Suara itu hampir tak terdengar ketika kau mulai kehilangan harapan pada jiwa yang terkulai. Kau seperti mengenal suara itu. Dulu ketika dalam sujudmu kau mendengarkan cerita cintaNya. Namun saat bibirmu mulai sibuk berkeluh kesah, malam-malam penuh lantunan syukur tak lagi terdengar. Kini, dalam segala ketidakberdayaanmu kau sadar, DIA-lah sumber kekuatanmu. Kau hidup atas kehendakNya dan mati pun atas seijinNya. Dan bila diijinkanNya kau menjadi lemah, mungkin itu caranya membuatmu melihat kekuatanNya di hidupmu. Berharaplah hanya kepadaNya ketika kau mulai lelah berjuang. Bersandarlah padaNya ketika penat membuat semangatmu pudar. Karena Ia sudah datang.

Merry Christmas, for He has came in to this world, a little light from Betlehem who bring hope and joy to the world.

Previous Older Entries

Daisypath Anniversary tickers
Lilypie Second Birthday tickers
%d bloggers like this: