Biasanya blog ini aku isi dengan tulisanku yang bahasanya rada’ kacau. Tapi kali ini untuk pertama kalinya tulisan Drex aku posting di sini. Sebelumnya dia uda posting cerita tentang kelahiran putri kami di milis. Sekarang aku copy paste di blog ini karena aku menghargai sekali apa yang uda dia tulis. Bukan hal yang mudah untuk seorang Drex mengingat detail tanggal, bahkan jam dan menit suatu peristiwa. Tapi memang kelahiran anak pertama kami yang sangat traumatik, membuat dia menulis cerita ini untuk dibagikan pada orang lain supaya jangan sampe ada lagi yang mengalami kejadian serupa. Itu juga yang buat aku salut. Saat aku masih berpikir untuk kepentingan diri sendiri, dia sudah berpikir tentang orang lain. Itu hanya bisa keluar dari orang yang bener2 baik seperti Drex. He has a pure heart, and I never seen anyone else like him. This is his story :
Saya membagikan cerita dengan harapan hal ini tidak terjadi pada rekan2 sekalian
menurut rencana kami anak ini akan dlahirkan dengan cara normal.
setelah 40 minggu periksa rutin, dokter menyatakan anak ini dapat dilahirkan normal sesuai keinginan kami walaupun ada keterlambatan
Pada tanggal 21 februari pkl 6.00 am (minggu ke40 hari ke3) istri saya merasakan adanya kontraksi yang disertai dgn keluarnya sedikit flek. kami pun ke RS bersalin.
Di RS istri saya diperiksa di IGD. mereka bilang belum ada pembukaan. karena kelahiran anan ini sdh tergolong terlamnbat mereka menawarkan pemberian obat perangsang spy kelahiran dapat dipercepat.
dalam hal ini kami menolak dan meminta utk menuggu beberapa jam lagi. sepengetahuan kami obat tersebut dapat mengurangi supply oksigen terhadap anak dan menyebabkan anak dan ibu kesakitan.
7 jam berlalu dan setelah diperiksa ternyata tidak terjadi pembukaan yg signifikan, hanya pembukaan 1. maka kami menyetujui untuk diberikan obat tsb. Alhasil obat tersebut membuat istri saya kesakitan mulai pukul 17.00. pemeriksaan dilakukan dan masih belum terdapat penambahan pembukaan, denyut jantung anak saya saat ini 130 kali permenit ( normal 130-160)
waktu demi waktu berlalu, pemeriksaan dilakukan setian 4-5 jam. hasil pemeriksaan tidak menunjukkan pembukaan yg signifikan dan denyut jantung normal. semalam berlalu tanpa istirahat, istri saya terus merasakan rasa sakit yang terus bertambah dengan rentang waktu yang semakin pendek. Flek masih sering terjadi dalam jumlah kecil. Pihak RS dan orang tua kami mengatakan itu normal jadi saya meneguhkan istri saya agar kuat.
Keesokan harinya terjadi pembukaan sedikit menjadi 2. Hingga sore hari istri saya terus merasakan sakit yg bertambah, suster menganjurkan utk sering berjalan2 walaupun sakit. istri saya memaksakan utk berjalan sambil menahan sakit.
Pada tanggal 22 pkl 16.30 ketuban sang anak pecah. kami meminta utk segera diperiksa. Saat ini pembukaan masih 4 (pembukaan utk melahirkan 10) denyut jantung 170. pihak RS masih mengatakan “masih bisa melahirkan normal, bayi masih dapat bertahan 12 jam setelah air ketuban pecah, denyut jantung sedikit naik” karena denyut jantung naik sang ibu diberi bantuan oksigen. yang saya herankan disini knp tidak diperiksa USG, padahal biasanya kalo diperiksa dokter pake USG. Saat ini saya sudah memikirkan untuk operasi cecar.
Saat-saat ini sang ibu sudah sangat kesakitan yang tidak tertahankan ditambah sang anak terus bergerak2. pkl 17.00 saya mencari dokter ternyata sedang praktek di RS lain, tanpa memberi penjelasan kepada saya. Suster mengatakan “ini tidak apa-apa, semua kalo anak pertama juga spt ini”
Sekitar pkl 18.30 pemeriksaan masih bukaan 5 denyut jantung masih sekitar 170
istri saya saat itu sdh mengatakan “aku tidak kuat, aku takut tidak sanggup” smabil badan gemetaran. saya dan istri bingung terus lanjut normal apa cecar?
Pukul 19.30 saya memutuskan utk cecar. yang saya pikirkan saat ini adalah keselamatan ibu dan anak. pihak rumah sakit berusaha meyakinkan kami bahwa itu normal dan meminta utk bersabar, mempertimbangkan kembali. saat itu dokter pun blm datang. berkali-kali saya diminta utk mempertimbangkannya kembali. kata mereka ” udah bukaan 5 lho”
Orng tua kami juga mengatakan itu normal, tapi kalau tidak kuat ya tidak apa2 cecar
Pukul 20.30 istri saya sdh takut. Saya menegaskan ke pihak RS Cecar sekarang!!!
pihak RS masih mengatakan ” ya tunggu sebentar pak ya sebentar diperiksa lagi oleh suster, jam 21.00 kami laporan ke dokter, barangkali pembukaannya udah nambah, tunggu 20 mnt lagi”
hasil pemeriksaan masih bukaan 5 denyut sekitar 165.
Pkl 21.00 saya tidak sabar dan menegaskan kembali suster utk panggil dokter utk cecar, kemudian saya diminta utk tanda tangan surat2 dsb.persiapan opresai memakan waktu 1 jam lebih
Masuk kamar operasi pkl 10.20 (dokter baru datang dan langsung bersiap2)Pukul 10.50 saya berharap mendengar tangis anak saya, dokter anak keluar dan mengatakan “kondisi anak anda kritis, bayinya tidak menangis, nafasnya sesak, tali pusatnya lepas, saya rujuk ke RS lain utk diberikan perwatan yg lebih intensif” nafas saya langsung sesak jantung saya seperti diiris2. Dokter itupun meniggalkan saya, saya bingung. saya sempat marah karena suster2 agak lambat dan ribet membawa anak saya ke RS rujukan. ayah dan ibu saya ikut ke RS rujukan. sementara saya memutuskan tetap tinggal menunggu istri saya, takut kalau shock.
Pkl 11.20 dokter kandungan keluar. saya mencoba mencegat dan bertanya keadaan anak saya, dia menjawab ” mudah-mudahan baik2 saja. nafasnya agak sesak karena ada air ketuban yg masuk ke paru2, setelah perawatan akan baik-baik saja”. Saya jadi senang sekaligus bingung, ini yang benar yang mana?
Pkl 11.40 istri saya keluar dari kamar operasi, ternyata istri sya tidak tahu apa2. dokter berkata kepadanya “anaknya nagisnya malu2″. saya saat itu hanya menceritakan yang positif2 saja hingga keadaannnya pulih
Pkl 12 ortu kami datang dan bercerita kepada saya bahwa anak saya disana dibersihkan kembali dan sdh bisa menangis meskipun masih harus dirangsang
Saat ini anak saya masih dirawat intensif di RS masih sesak napas, istri saya sdh pulang. Analisa dari dokter anak RS rujukan adalah, sang anak mengalami trauma berat saat persalinan. Karena ada ari-ari yang lepas,didalam rahim kesulitan mendapatkkan makanan dan O2 sehingga otak kekurangan O2 dan sesak napas, ada kemungkinan2 yang tidak baik kedepannya karena ada saat2 dimana otak anak tidak mendapatkan oksigen, sehingga ada kemungkinan ada yang rusak.(Kami berkeyakinan tidak)
Puji Tuhan pagi ini istri saya sudah bisa memberikan ASI secara langsung, walaupun anak saya masih menggunakan bantuan Oksigen karena sesak napas.
Saya bersyukur karena saya “memaksa” untuk cecar sekaligus menyesal karena tidak “memaksa” lebih awal untuk cecar. Menurut saya anak saya bisa lebih baik kalau lebih awal saya meminta cecar dan bisa lebih buruk jika saya tidak meminta cecar saat itu.
Saya pikir anak kami sudah berteriak didalam rahim, papa…mama…. aku sesak napas, sambil bergerak tak karuan. namun sayangnya kami tidak peka.
Bayi tidak dapat berbicara langsung, oleh karena itu kita harus peka, banyak bertanya, banyak cari tahu, sekali lagi keselamatan ibu dan bayi adalah yang terpenting
yang saya sesalkan dari pihak RS adalah
-mereka tidak memberikan informasi dan segala kemungkinan sejelas2nya kepada saya
-terlalu lama proses menyampaikan informasi ke dokter, pake nunggu jam2 tertentu
-tidak memeriksa secara detil
-terlalu menyepelekan
-dokternya tidak ada yg stand by ditempat
saat ini pihak RS sudah meminta maaf kepada kami
Mohon maaf jika ada menyinggung, Mohon dukungan doanya.




