Her Birth Day

Biasanya blog ini aku isi dengan tulisanku yang bahasanya rada’ kacau. Tapi kali ini untuk pertama kalinya tulisan Drex aku posting di sini. Sebelumnya dia uda posting  cerita tentang kelahiran putri kami di milis. Sekarang aku copy paste di blog ini karena aku menghargai sekali apa yang uda dia tulis. Bukan hal yang mudah untuk seorang Drex mengingat detail tanggal, bahkan jam dan menit suatu peristiwa. Tapi memang kelahiran anak pertama kami yang sangat traumatik, membuat dia menulis cerita ini untuk dibagikan pada orang lain supaya jangan sampe ada lagi yang mengalami kejadian serupa. Itu juga yang buat aku salut. Saat aku masih berpikir untuk kepentingan diri sendiri, dia sudah berpikir tentang orang lain. Itu hanya bisa keluar dari orang yang bener2 baik seperti Drex. He has a pure heart, and I never seen anyone else like him. This is his story :

Telah lahir anak kami (Drex and Draculie) yang pertama pada tanggal
22-2-2013 pkl 22.43 yang bernama Catherine Elliana

Saya membagikan cerita dengan harapan hal ini tidak terjadi pada rekan2 sekalian
menurut rencana kami anak ini akan dlahirkan dengan cara normal.
setelah 40 minggu periksa rutin, dokter menyatakan anak ini dapat dilahirkan normal sesuai keinginan kami walaupun ada keterlambatan

Pada tanggal 21 februari pkl 6.00 am (minggu ke40 hari ke3) istri saya merasakan adanya kontraksi yang disertai dgn keluarnya sedikit flek. kami pun ke RS bersalin.
Di RS istri saya diperiksa di IGD. mereka bilang belum ada pembukaan. karena kelahiran anan ini sdh tergolong terlamnbat mereka menawarkan pemberian obat perangsang spy kelahiran dapat dipercepat.
dalam hal ini kami menolak dan meminta utk menuggu beberapa jam lagi. sepengetahuan kami obat tersebut dapat mengurangi supply oksigen terhadap anak dan menyebabkan anak dan ibu kesakitan.

7 jam berlalu dan setelah diperiksa ternyata tidak terjadi pembukaan yg signifikan, hanya pembukaan 1. maka kami menyetujui untuk diberikan obat tsb. Alhasil obat tersebut membuat istri saya kesakitan mulai pukul 17.00. pemeriksaan dilakukan dan masih belum terdapat penambahan pembukaan, denyut jantung anak saya saat ini 130 kali permenit ( normal 130-160)

waktu demi waktu berlalu, pemeriksaan dilakukan setian 4-5 jam. hasil pemeriksaan tidak menunjukkan pembukaan yg signifikan dan denyut jantung normal. semalam berlalu tanpa istirahat, istri saya terus merasakan rasa sakit yang terus bertambah dengan rentang waktu yang semakin pendek. Flek masih sering terjadi dalam jumlah kecil. Pihak RS dan orang tua kami mengatakan itu normal jadi saya meneguhkan istri saya agar kuat.

Keesokan harinya terjadi pembukaan sedikit menjadi 2. Hingga sore hari istri saya terus merasakan sakit yg bertambah, suster menganjurkan utk sering berjalan2 walaupun sakit. istri saya memaksakan utk berjalan sambil menahan sakit.

Pada tanggal 22 pkl 16.30 ketuban sang anak pecah. kami meminta utk segera diperiksa. Saat ini pembukaan masih 4 (pembukaan utk melahirkan 10) denyut jantung 170. pihak RS masih mengatakan “masih bisa melahirkan normal, bayi masih dapat bertahan 12 jam setelah air ketuban pecah, denyut jantung sedikit naik” karena denyut jantung naik sang ibu diberi bantuan oksigen. yang saya herankan disini knp tidak diperiksa USG, padahal biasanya kalo diperiksa dokter pake USG. Saat ini saya sudah memikirkan untuk operasi cecar.

Saat-saat ini sang ibu sudah sangat kesakitan yang tidak tertahankan ditambah sang anak terus bergerak2. pkl 17.00 saya mencari dokter ternyata sedang praktek di RS lain, tanpa memberi penjelasan kepada saya. Suster mengatakan “ini tidak apa-apa, semua kalo anak pertama juga spt ini”

Sekitar pkl 18.30 pemeriksaan masih bukaan 5 denyut jantung masih sekitar 170
istri saya saat itu sdh mengatakan “aku tidak kuat, aku takut tidak sanggup” smabil badan gemetaran. saya dan istri bingung terus lanjut normal apa cecar?

Pukul 19.30 saya memutuskan utk cecar. yang saya pikirkan saat ini adalah keselamatan ibu dan anak. pihak rumah sakit berusaha meyakinkan kami bahwa itu normal dan meminta utk bersabar, mempertimbangkan kembali. saat itu dokter pun blm datang. berkali-kali saya diminta utk mempertimbangkannya kembali. kata mereka ” udah bukaan 5 lho”

Orng tua kami juga mengatakan itu normal, tapi kalau tidak kuat  ya tidak apa2 cecar
Pukul 20.30 istri saya sdh takut. Saya menegaskan ke pihak RS Cecar sekarang!!!
pihak RS masih mengatakan ” ya tunggu sebentar pak ya sebentar diperiksa lagi oleh suster, jam 21.00 kami laporan ke dokter, barangkali pembukaannya udah nambah, tunggu 20 mnt lagi”
hasil pemeriksaan masih bukaan 5 denyut sekitar 165.

Pkl 21.00 saya tidak sabar dan menegaskan kembali suster utk panggil dokter utk cecar, kemudian saya diminta utk tanda tangan surat2 dsb.persiapan opresai memakan waktu 1 jam lebih
Masuk kamar operasi pkl 10.20 (dokter baru datang dan langsung bersiap2)Pukul 10.50 saya berharap mendengar tangis anak saya, dokter anak keluar dan mengatakan “kondisi anak anda kritis, bayinya tidak menangis, nafasnya sesak, tali pusatnya lepas, saya rujuk ke RS lain utk diberikan perwatan yg lebih intensif” nafas saya langsung sesak jantung saya seperti diiris2. Dokter itupun meniggalkan saya, saya bingung. saya sempat marah karena suster2 agak lambat dan ribet membawa anak saya ke RS rujukan. ayah dan ibu saya ikut ke RS rujukan. sementara saya memutuskan tetap tinggal menunggu istri saya, takut kalau shock.

Pkl 11.20 dokter kandungan keluar. saya mencoba mencegat dan bertanya keadaan anak saya, dia menjawab ” mudah-mudahan baik2 saja. nafasnya agak sesak karena ada air ketuban yg masuk ke paru2, setelah perawatan akan baik-baik saja”. Saya jadi senang sekaligus bingung, ini yang benar yang mana?
Pkl 11.40 istri saya keluar dari kamar operasi, ternyata istri sya tidak tahu apa2. dokter berkata kepadanya “anaknya nagisnya malu2″. saya saat itu hanya menceritakan yang positif2 saja hingga keadaannnya pulih
Pkl 12  ortu kami datang dan bercerita kepada saya bahwa anak saya disana dibersihkan kembali dan sdh bisa menangis meskipun masih harus dirangsang

Saat ini anak saya masih dirawat intensif di RS masih sesak napas, istri saya sdh pulang. Analisa dari dokter anak RS rujukan adalah, sang anak mengalami trauma berat saat persalinan. Karena ada ari-ari yang lepas,didalam rahim kesulitan mendapatkkan makanan dan O2 sehingga otak kekurangan O2 dan sesak napas,  ada kemungkinan2 yang tidak baik kedepannya karena ada saat2 dimana otak anak tidak mendapatkan oksigen, sehingga ada kemungkinan ada yang rusak.(Kami berkeyakinan tidak)
Puji Tuhan pagi ini istri saya sudah bisa memberikan ASI secara langsung, walaupun anak saya masih menggunakan bantuan Oksigen karena sesak napas.

Saya bersyukur karena saya “memaksa” untuk cecar sekaligus menyesal karena tidak “memaksa” lebih awal untuk cecar. Menurut saya anak saya bisa lebih baik kalau lebih awal saya meminta cecar dan bisa lebih buruk jika saya tidak meminta cecar saat itu.

Saya pikir anak kami sudah berteriak didalam rahim, papa…mama…. aku sesak napas, sambil bergerak tak karuan. namun sayangnya kami tidak peka.
Bayi tidak dapat berbicara langsung, oleh karena itu kita harus peka, banyak bertanya, banyak cari tahu, sekali lagi keselamatan ibu dan bayi adalah yang terpenting

yang saya sesalkan dari pihak RS adalah
-mereka tidak memberikan informasi dan segala kemungkinan sejelas2nya kepada saya
-terlalu lama proses menyampaikan informasi ke dokter, pake nunggu jam2 tertentu
-tidak memeriksa secara detil
-terlalu menyepelekan
-dokternya tidak ada yg stand by ditempat

saat ini pihak RS sudah meminta maaf kepada kami

Mohon maaf jika ada menyinggung, Mohon dukungan doanya.

 

Can’t Wait

Uda mulai kemarin perutku agak gimana gitu. Mulai kenceng2 lagi. Agak lama sih tapi ga nyampe perut bawah. Uda gitu ni perut rasanya tambah berat aja. Padahal terakhir ke dokter tgl14 kemaren berat bayinya uda 3kg lebih. Weew… kudu mulai diet nih. Lah uda cuti, di rumah uda ada pembantu. Praktislah aku ga ngapa2in. Cuma duduk, tiduran, makan plus mainan ma ayam serama yang dikasih nama Chiko sama adekku, habis itu ngeblog, buka2 fb, tidur lagi. Lah…gimana ga nambah buncit aja. Yah, pokoknya ditunggu aja lah kapan si dedek kasi sinyal. Temen2 uda pada nanya “uda mbrojol blm?” yah dengan sangad terpaksa aku bilang belum. Uda cuti 2minggu. Kata mama, aku kecepetan ngambil cutinya. Kurang “mepet”. Yah maklum, baru sekalinya ini hamil, kan takut ada apa2. Lah mama ekornya uda 4. Aku juga sih, buru2 ambil cuti. Takut mbrojol. Tapi emang deep inside my heart, pengennya sih adeknya lahir sebelum sin cia gitu. Kan masih tahun naga emas. Tapi ternyata dianya ga mau.  Tapi ya ga boleh juga sih percaya sama shio2 dan zodiak2 gitu. Ga ngefek apa2, malah bikin JC jelous, karena kita lebih percaya hal lain dari pada Dia. Yah, sambil nungguin adeknya lahir, aku coba inget2 apa aja persiapan yang masih kurang. Kayaknya sih uda cukup. Tinggal nyiapin mental buat lahiran normal ni yang rada kacau.

My Pregnancy Story

Baru-baru ini aku browsing2 tentang persalinan di bidankita.com. Bener2 website yang inspiring banget. And make me realize something. Hamil dan melahirkan adalah proses yang normal banget. Tapi gak sedikit yang takut menghadapinya. Including my self. Hamil dan melahirkan buat aku bukan hanya proses perubahan secara fisik. Buat aku justru lebih banyak faktor emosi yang berpengaruh. Aku nyadar banget aku bukan orang yang mudah untuk relaks, tenang, legowo ato apalah dalam menghadapi banyak hal. Kondisi pikiranku selalu cemas, tegang dan kuatir. Sejak awal kehamilan aja aku sudah banyak pikiran (a.k.a kecemasan). Most of them, karena aku merasa belum siap untuk jadi seorang ibu, kondisi keuangan belum stabil, aku baru aja diterima bekerja dengan kondisi masih pegawai kontrak, masih tinggal serumah dengan orang tua yang kadang terjadi salah paham. Dengan semuanya itu, ditambah lagi dengan perubahan mood karena kehamilan rasanya semakin memperparah masa-masa awal aku menerima kehamilanku. Kadang aku merasa bersalah, aku seharusnya bahagia, senang dengan anugerah yang uda dipercayakan Tuhan sama aku, tanpa harus diracuni dengan pikiran-pikiran yang negatif. Aku juga takut, bayiku juga ikut merasakan emosi negatif yang aku rasakan. Aku sadar itu ga baik buat dia.

Masuk trimester kedua, aku memang mulai agak santai. Semua hasil USG tiap bulan aku  rekam dengan baik. Aku mulai bisa menerima kalau aku sudah bukan aku lagi. Sebentar lagi peranku bertambah, menjadi seorang ibu. Walaupun aku sudah bisa santai, kembali lagi, pikiran2 lain datang. Bisakah aku jadi ibu yang baik? Untuk saat ini saja, untuk bayiku yang masih dalam kandungan, sudahkah aku jadi ibu yang baik? Banyak orang mulai saranin ini itu. Banyak yang masuk ke kepalaku tapi gak satupun yang aku lakukan. Jangankan saran dari temen2, nasehat mamaku sendiri aja aku ga ngelakuin, padahal aku tahu, itu baik untuk aku dan bayiku. Apa aku juga nanti separah itu? Aku yang selalu berpikir praktis, selalu saja mencari pembenaran saat ga melakukan apa yang mereka sarankan. Mulai dari saran minum susu hamil, minum minyak ikan, jalan2 pagi, jaga emosi, jangan cepet marah, plus sederet saran lainnya. Entah karena males, atau aku memang sudah membloking pikiranku. Semuanya ga ada yang aku lakuin. Apa karena aku memang keras kepala, atau aku cuek dengan kehamilanku? Padahal ini kehamilan pertama, di mana biasanya calon ibu begitu antusias melakukan apapun yang mereka (dan orang lain) pikir terbaik untuk dilakukan, untuk memastikan bayi mereka mendapatkan yang terbaik sejak dari kandungan. Makan ini itu, minum ini itu, beli suplemen ini itu, sedangkan aku, yang aku makan hanya suplemen dari dokter, kalo mamaku ga beliin buah, mungkin aku ga akan pernah makan buah2an. Di saat aku harusnya bisa berbuat lebih untuk bayiku aku ga melakukannya. Aku hanya berpikir simpel, ini kehamilan biasa, setiap orang juga mengalaminya, ga perlu lah terlalu “wow” menyikapinya. Aku ga mau punya expectation yang terlalu tinggi. Cukuplah kalau aku tahu my baby was healty and normal.

Dan, sekarang setelah 9 bulan lebih aku hamil, dan saat semuanya terlihat normal. Aku malah jadi takut untuk melahirkan. Beberapa kali aku mimpi kalau aku uda melewati proses melahirkan. Bahkan kemaren aku mimpi uda crowning gitu. Benerne gak terasa sakit, tapi karena kaget dan takut, aku jadi agak teriak gitu. Trus langsung dibangunin ma Drex. Setelah itu baru aku browsing2 ke bidankita.com. Baru aku ngeh kalo selama ini aku uda ga relaks. Banyak pikiran dan ketakutan yang aku rasakan. Di web itu juga akhirnya aku belajar untuk menuliskan semua ketakutanku, kekhawatiranku dan berusaha untuk santai. Karena kalo ga gitu semakin memperlama proses persalinan. Aku harus berani, itu hal kedua yang harus dilakukan. Aku selalu percaya kalau being a mother saat bersalin adalah batas tipis antara hidup dan mati. Well, itu yang aku percayai. Proses melahirkan pasti sakit dan it scares me. Sulit untuk punya courage kalo ga ada orang yang mendukung. Adanya malah nakut2in, malah bikin mood yang uda swinging tambah lose control.

Buat menghadapi itu semua aku mulai melihat kembali dalam diriku. Apa aja yang buat aku khawatir. Yang pertama adalah “khawatir apakah aku bisa jadi good mom. As me now, kadang aku males bangun pagi, aku juga ga telaten, ga rajin, dll, ga seperti mamaku yang rajin bangun jam3 pagi memulai aktifitasnya buat ngelayani semua kebutuhan anggota keluarganya. She is like a supermom and i’m pretty sure that i’m not like her at all. Thats why sometimes there are missunderstanding bettween both of us. That’s the first. Hal yang kedua, masih berkaitan dengan kekhawatiran apa aku bisa jadi mama yang baik, adalah tentang finansial. A new family member means more cost. I’m afraid I can’t provide a good life for my baby. Aku masih tinggal serumah dengan orang tua, itu uda nunjukin kalo aku bener2 ga mandiri. Penghasilan kami berdua belum cukup untuk mengontrak sendiri, apalagi dengan adanya seorang bayi, aku takut akan menambah beban mama. Memang usaha Drex uda mulai ada peningkatan. Tapi tetep aja butuh tambahan lagi, masih banyak yang harus disiapkan. Gak mungkin juga selamanya aku tinggal di sini. Belum lagi hal lain yang jadi pikiran, seperti ngirim2 lamaran buat drex, ngurus surat pindah drex, pecah KK, urus akte kelahiran.

Aku menulis semua ini, bukan maksud aku untuk mengeluh, seakan2 aku ga mau menerima kenyataan. Justru aku menulis ini supaya aku bisa melihat apa yang jadi sumber masalahku sebenarnya. Aku sedang berusaha menerima kenyataan kalau masalah ini lah yang sedang terjadi. Aku harus bisa terima itu sebagai bagian dari hidupku sekarang. Aku pasrahin semua masalahku, semua beban pikiranku sama JC. Banyak hal yang aku rencanain, tapi tetep aja semua aku serahin sama Dia karena Dia yang paling tahu yang terbaik buat hidup kami.

Aku juga takut sam proses melahirkan. Semua yang aku tahu hanya dari buku, film dan apa kata orang. Aku ga mau trying so hard dari awal kehamilan, kenapa, Karena aku tahu aku mampunya seberapa. Aku ga mau terlalu menaruh harapan tinggi pada anakku. Seolah-olah karena aku uda mengandung 9 bulan, mengalami semua kesakitan dan ketidaknyamanan, jadi aku berharap anakku merasa forever in debt with me. NO. Aku ga mau gitu. Aku berusaha menjalani kehamilanku dengan santai. Dan aku juga mau persalinanku juga bisa santai. I mean, I know it will be painfull, tapi aku pengen menikmati itu sebagai suatu pengalaman yang indah. Bukan pengalaman yang menyiksa. Sampai2 aku harus bilang (nantinya) sama anakku untuk membuat mereka patuh, bahwa aku sudah berjasa banyak melahirkan anakku ke dunia. Aku ga mau mereka merasa berhutang “nyawa” sama aku dan aku juga ga mau membuat mereka merasa sudah berhutang sama aku. Karena dalam proses hamil dan melahirkan ini, sama2 menyenangkan buat aku maupun anakku dan tidak ada seorang-pun yang berhutang dan dihutangi. Drex-pun setuju dengan pola pikir seperti ini. Anak2 nantinya akan tahu sendiri bagaimana respect sama orang tuanya tanpa harus dikuliahi tentang bagaimana susahnya dia dilahirkan ke dunia, begitu katanya. Banyak orang tua yang berharap anaknya dapat membalas budi pada mereka karena merasa telah melakukan pengorbanan yang besar untuk anaknya. Kalau begitu apa artinya kasih, saat semua hal dihitung sebagai transaksi.

Makanya sekarang aku sedang mengumpulkan seluruh keberanianku untuk menghadapi hari-H. Aku ga mau terlalu “sengsara”.  Kalo aku ga takut, ga stress santai malah bayinya bakal lebih gampang keluar. Percaya aja ma tubuh yang uda diciptain Tuhan buat melahirkan. Dia uda mikirin dengan jenius semua yang dibutuhkan buat proses melahirkan. Saat bayi kita uda siap dia bakal ngirim sinyal dan saat itulah kontraksi dimulai. Aku pengen banget bisa melihat kontraksi itu, sesakit apapun itu sebagai cara bayiku ngomong ke aku kalau dia sudah siap ketemu aku. Kalau memang dia belum siap aku akan tunggu sampe dia siap. Takes time, takes effort, takes a lot of courage. When you ready, let me know. And we can do it together.

Have a great labor day to my self… God bless..

39th week 3 days

All I know, I’m in 39th week of pregnancy right now. Starting to worrying my baby inside. Is she going well? She is suppose to deliver at week 38th-40th. It’s a normal time. But since her father was born up to week 40th , may be I should not worry this much.

Udah 39 minggu lebih 3 hari dan belum ada tanda2 sama sekali kalo aku akan segera melahirkan dalam waktu dekat. Agak takut sih, mengingat kalau uda 40 minggu means uda 10 bulan. Browsing sana sini, ada juga yang bilang, it’s ok sampe umur janin 42 minggu. Tapi setelahnya harus segera di-induksi ataupun sesar. Jadi, belum melahirkan sampe minggu ini masih dianggap belum “terlambat lahir”. Tapi jangankan kontraksi yang katanya 10 menit sekali, kontraksi palsu pun nggak. Padahal rasanya bayinya uda turun. Maka dari itu ntar siang aku uda rencana balik ke dokter lagi buat periksain sekalian ngasi tahu orang rumah tempat aku bersalin nanti. Soalnya pada belum tahu RSB Alhasanah itu di mana. Aku sempet ke sana buat tanya2 seputar biaya dan lain2. Tapi waktu itu perginya sendiri dan Drex ga ikut nemenin. Jadi dia juga ga tahu tempatnya di mana. Soalnya RS bersalin ini letaknya ga di pinggir jalan banget, melainkan masuk gang yang juga ga terlalu gede juga. Jadi kalo ga niat ke sini ya ga bakalan ketahuan letaknya di sebelah mana. Jadi ntar kalo adeknya dah mau lahir, kan aku pasti lagi nahan sakit tuh, kan ga lucu kalo aku harus jadi penunjuk jalan sambil megang2 perut yang lagi sakit. Aduh, ga mbayang.. Ya udalah sekalian priksa sekalian nunjukin jalan, mumpung belum kesakitan. Hehe..

Val’s Day Wishes

Well, happy Val’s day buat yang merayakan.. Bukannya anti sama Valentine day, hanya saja, aku ma suami bukan orang yang terlalu menganggap spesial hari2 tertentu, termasuk Valentine day. Tapi tahun ini berhubung lagi hamil dan akan lahiran, deep inside my heart, pengen juga sih lahiran di tanggal 14 Februari. Si dokter kandunganku yang juga cewek, uda nyaranin sesar aja biar pas tanggalnya. Lagian emang pas banget tanggal segitu2 itu due date-nya. Eh, ini sampe tanggal segini belum ada tanda2 mo keluar. Jangankan mo lahir, kontraksi palsu aja belon. Pupus-lah harapan melahirkan normal di hari Valentine day :(

Ya udahlah nak, mama ngikut aja kamu siapnya ketemu mama papa kapan. Tapi jangan lama2 ya, soalnya mama dah ga sabar  ^_^

valentines-day-wallpaper-2

My Baby Journal

Time run so fast..It’s been 9 month now. Almost time for me to deliver. Soon, someone will call me “mom”.  9 month is not enough time to learn how to become a mom to somebody. It’s a lifetime carrier, you know. And its not easy. Sometimes i feels scare. What kind of mother will i become?? Other people says, maybe it baby blues syndrome. I hope its true. Because it will be disappear one or two week after I had deliver.

And then i had this idea across my mind. I had two blog that i never update. I will use one of them to write a journal about my little one from his perspective. I’ve prepared two addresses. Drex junior and Draculie Junior. Even my doctor said that my baby is a girl, there are a few people who think the opposite pretty sure. As for me, a baby boy for my first child will be nice, because he can protect his brother or sister later. But, it doesn’t matter if he is a boy or girl. The most important is he is deliver in good health. Whatever his gender is, my husband and I will set a same standard.  Okay, back to my baby journal. I’ve set two blogs. I don’t which one will I use. But, until he/she can write on his own, I’ll write for him (at least for few years, I still can write a good thing about my self.. *LOL*) I will write about his first step, first word, medicine he took, so I wont forget when he took the medicine and how its reaction to his illness, and so on. Sounds a good idea huh?? But honestly, I’m not sure I can handle two blogs at a time. I can’t even write in my own blog constantly. But, at least I have tried.. ;p

So,   don’t missed it.
Draculie jr, or Drex Jr.

 

 

 

She is a Mother Now

Congratz..buat my best friend Ririn. She is a mother of Tasnim Amani Fauzi now.. Semoga jadi anak yang cakep, berbakti ma ortu, juga pinter. She is my best friend since we were in the 5th grade at SDK Aletheia Mataram. I remember, she was a big fan of Westlife. One of the greatest boy band at that time. Ga nyangka aja kalo kita berdua hamilnya barengan. Memang si Ririn duluan, tapi kan ga jauh2 banget (maksa..hehe..padahal beda sebulan). Well, semoga tetep sabar dan kuat jadi mama baru. Soalnya dalam pikiranku, a newly mom pasti sibuk banget, bakal sering kurang tidur. Bahagia, of course. Tapi namanya tubuh tetep aja bisa capek, pikiran juga bisa capek. Semoga orang-orang  di sekelilingmu bisa ngedukung kamu ya Rin. Doain pas delivery day-ku juga bakal lancar.

Wish u all the best, buat husband, buat babynya juga, terutama buat kamu. Tetep kuat :)

Almost the Time

Its been 36 week now.. bener2 ga keraasa. Less than a month I will become a mother. Precious job, but somehow it makes me feel not ready. Will i become a good mother??! I even can’t get up earlier that 5 o’clock in the morning. With enough sleep at night, i am still wakes up 6am every morning. My mom encourages me to do little walk every morning, but with my wake up time like that, i almost running out of time to get to work. With more task to do when my baby has deliver, i doubted my self that i can handle it well like my mom has been done. I am afraid and feel unprepared for any of this. That is why i always wake up late every day. I think i want to enjoy my last day of being myself. Because i can’t no longer keep that way when he has arrived in my life. It’s not that i am unhappy with he’s presence. But somehow, i feel i am no longer my self, i will become a new mother to someone. it’s a huge responsibility. But if HE has given me the responsibility, may be HE think that i can. I wish i can. I hope HE helps me to overcome this challenge.

Image

Boy or Girl??

Well, I hope it;s not too late to say Merry Christmas to you all… ^_^ Been 4 days since Christmas, not much has happen. Just like the past year’s Christmas. Just, this year I got pregnant. But, something happen in the past two days. At least two different people saying that my baby is a boy. I told them, that my obstetrician told me that my baby was a girl (possibility). But, they seem quite sure about their guess. Since I’ve been told my baby was a girl, I am starting to looking a girl name for her. Abigail was chosen. But now, I feel its not a bad idea to prepare boy’s name too. Drex kept saying that Jonah was a good name. I agree. But, doesnt sounds familiar in Indonesian’s ears, right?? I want a special name. Unique, but not too difficult to be read or say. It’s not just for 5 years old children. If its too cute or difficult, I wonder when he grow up, there will be a problem.

But, searching for a boy’s name is more difficult than gilr’s name. Sometimes, a boy’s name have a feminine form. But not vice versa. I’m trying to check a lot of sites that provides a child’s name searching. But, its not easy tough.

So, i have searched several name. I just write it here, so i wont forgot. Adriel, Axel, Rafael, Nathanael,Amadeus.

 

Previous Older Entries

Daisypath Anniversary tickers
Lilypie First Birthday tickers
Lilypie Pregnancy tickers
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 25 other followers

%d bloggers like this: